Reading
Add Comment
Lagi-lagi momen tahun 2011 kembali terulang. Lebaran antara satu organisasi islam dengan organisasi yang lain berbeda. Pemicunya pun sama. Sama-sama tidak sepakat. Gue hanya bisa menghela nafas melihat perbedaan ini.
Kebayang gimana kesalnya ibu-ibu yang kebingungan mau masak sekarang atau nunggu sidang isbat. Lebih kasihan lagi ibu-ibu yang di zona waktu WIT. Bedanya sama WIB kan dua jam tuh. Jadi waktu dikasih tau hasil putusan sidang isbat sekitar jam 7, di sana sudah jam 9. Mau marah tapi gimana, namanya juga nasib menjadi WNI. Aaakkhhhh.
…
Gue kira kabar perbedaan lebaran antara NU dan Muhammadiyah udah yang paling top. Ternyata ada anomali tambahan di belahan dunia lain bernama Depok. Kok Depok udah lebaran aja mulai 19 Maret. Bener-bener dah Depok. Terdepan dan menginspirasi sekali.
Gue baca berita ini di salah satu postingan portal berita di Instagram, gue pikir awalnya ini bercandaan. Pas lihat detail lokasi shalat ied nya. Lahh, ini mah dekat rumah gue nih. Beneran ternyata bukan hoaks. Selidik punya selidik ternyata itu adalah aliran Naqsabandiyah. Hmm gue tidak berani komentar banyak. Salam toleransi saja lah.
Peace love and gawl ya warga Depok. KTP gue juga udah depok by the way. Jadi kita satu rumpun kok guys.
…
Ngomongin soal lebaran pasti nggak jauh soal makanan khas dan tradisinya. Karena tahun ini gue lebaran di Jogja, khususnya di Gunungkidul, kampung halaman istri, jadi lumayan culture shock juga.
Perbedaan paling mendasar adalah soal aktivitas setelah shalat ied. Kalau di Samarinda, setelah shalat ied ya pulang dan berkumpul bersama keluarga inti.
Kalau di sini, selesai shalat ied, semua warga akan saling salaman dari ujung ke ujung berjejer mirip seperti halal bihalal. Tapi dilakukannya bener-bener setelah shalat ied.
Gue awalnya kaget juga. Pertama ini pengalaman baru, kedua anjerrr gue kaga ada yang kenal ini, semuanya adalah mas-mas dan mbah-mbah jawa yang asing di mata gue.
Setelah selesai salaman dengan satu pedukuhan (setara dengan kelurahan tapi cover areanya lebih kecil) gue dan keluarga istri langsung pulang dan makan opor ayam. Tidak lupa ditambah sayur lombok khas gunung kidul. Sungguh authentic sekali.
Kalau di Samarinda, karena nyokap gue adalah orang bugis a.k.a Sulawesi maka menu lebaran di rumah gue tidak jauh dari yang bersantan kental dan lemak. Nama makanan seperti ayam liku, buras, dan coto jarang sekali absen di meja makan.
Makanya setelah makan biasanya sekeluarga kompak ngantuk. Untungnya sekarang kalau di Samarinda ghe udah nggak perlu keliling lagi, mengingat kakek maupun nenek baik dari sisi nyokap atau bokap sudah meninggal. Ditambah nyokap dan bokap gue sama-sama anak pertama, maka sudah bisa dipastikan rumah gue lah yang sering kedatangan tamu.
Suasana lebaran di Samarinda itu terasa jauh lebih melelahkan dibanding waktu di Jogja ya karena faktor-faktor tadi.
Di Jogja ayah dan ibu mertua gue bukan anak tertua, jadi lebih sering kita yang berkeliling. Walaupun begitu, karena jarak rumahnya tidak begitu jauh satu sama lain, jadi enak. Nggak begitu melelahkan dan memakan waktu.
Ditambah lagi, cara berkunjungnya itu cepat aja kalau di Jogja. Datang, salaman langsung pulang, jadi tidak ada basa basi yang membuang waktu. Beda banget dengan di Samarinda.
Kalau di Samarinda, mampir pasti makan, setiap rumah yang disinggahi ya pasti disuguhi makanan berat. Makanya buat yang sedang menjalani program diet, berlebaran di Samarinda adalah pilihan yang kurang tepat.
…
Jujur aja, gue masih ingin menulis lebih panjang lagi cerita dan kebiasaan soal lebaran ini. Tapi gue lagi sulit banget untuk menulis. Jadi potongan tulisan ini akan gue publish dulu, demi konsistensi untuk tetap posting selama 30 hari berturut-turut. Besok adalah postingan terakhir, semoga gue bisa menyelesaikan challenge ini dengan sempurna ya. Thanks yang udah baca.

.png)
0 KOMENTAR:
Post a Comment
Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni