![]() |
| Kalo ini kukunya keren sih. Sumber |
Sebenarnya anggota tubuh yang paling nggak penting itu adalah upil.
Serius.
Logika gue waktu itu sederhana dan tentu saja sotoy. Upil itu cuma kotoran yang ada di dalam lobang hidung dan kadang suka nongol juga. Fungsinya apa? Bikin malu doang kan kalo keliatan orang.
Ternyata salah.
Kalau nggak ada upil, nggak ada hidung. Kalau nggak ada hidung, nggak bisa napas. Nggak bisa cium bau rendang. Nggak bisa bedain mana parfum mana bau got. Jadi upil itu penting. Yang nggak penting itu mah program MB….. *sinyal hilang*.
Nah, setelah teori upil runtuh, gue sempat bingung mencari-cari lagi anggota tubuh mana lagi yang sebenarnya kita remehkan padahal peranannya penting deh sebenarnya?
Jawabannya datang kemarin pagi, pas gue naik angkot menuju kantor.
Pagi itu tidak ada yang spesial, keluar dari halte Tebet gue langsung bergegas menuju pangkalan angkot dengan kode 44 yang biasa ngetem tepat di sebelah halte Transjakarta.
Karena pilihan angkot kalau cuaca tidak hujan itu beragam. Maksudnya gue bisa bebas memilih mau angkot yang langsung jalan karena penumpangnya sudah penuh, atau angkot yang belum begitu penuh penumpang, jadi gue bisa leluasa memilih tempat duduk.
Gue memandang dari kejauhan, ada satu angkot yang penumpangnya masih kosong. Gue pun bergegas menuju angkot tersebut dan memilih untuk duduk di depan, tepat di samping pak supir yang sedang bekerja.
Gue perhatikan pak supir masih sibuk ngobrol dengan orang di balik jendela sambil tangan kanannya ada di bagian dalam angkot dan tangan kirinya tidak terlihat karena berada di luar.
Ketika pak supirnya selesai mengobrol dan duduk dengan posisi yang benar selayaknya orang yang sudah siap mengemudikan mobil, barulah gue paham apa yang tersembunyi di balik tangan kirinya itu.
KUKUNYA PANJANG BANGET COY.
Bukan panjang yang “ah belum sempat potong”. Ini panjang yang niat. Panjang yang dipelihara. Panjang yang butuh dedikasi dan maintenance langsung dari hati.
![]() |
| Jujur agak sedikit takut kalo kukunya nusuk paha gue pas lagi oper gigi. |
Tiba-tiba gue sadar, gue kan punya hubungan yang cukup rumit juga sama kuku.
Nggak tau kenapa, kuku kaki gue hobi banget yang namanya offside ke samping kiri dan kanan. Terutama jempol. Semua jempol. Baik kaki kiri atau kaki kanan. Seolah-olah mereka punya agenda sendiri untuk menusuk daging.
Rasanya? Jangan ditanya.
Pakai sepatu sakit. Nggak pakai sepatu juga sakit. Disenggol sedikit, berasa kayak ada jarum diselipin pelan-pelan.
Saking desperatenya, gue pernah di satu fase mikir: “operasi aja kali ya.”
Dan seperti warga negara +62 yang taat algoritma, gue buka TikTok. Nonton pengalaman orang-orang operasi cantengan. Ada yang dramatis. Ada yang santai. Ada yang bikin gue merinding sampai refleks menutup aplikasi.
Setelah 15 menit scroll, keputusan gue berubah.
“Nggak jadi ah.”
Takut.
Istri gue liat gue mondar-mandir sambil pegang jempol kaki.
“Kenapa lagi?”
“Cantengan lagi.”
“Ya operasi.”
“Takut.”
Dia diam sebentar. Lalu ngomong dengan tenang yang bikin gue agak tertampar.
“Yaudah beli alatnya aja. Operasi sendiri.”
Entah kenapa, opsi operasi sendiri malah terdengar lebih berani.
Akhirnya gue beli satu set alat pembasmi cantengan. Ada gunting kecil. Ada penjepit mini. Ada alat cungkil yang bentuknya seperti alat arkeolog skala mikro.
![]() |
| Penampakan seperangkat alat pemusnah cantengan. Trust me, it works! |
Sejak saat itu, gue resmi bersahabat dengan alat-alat tersebut. Setiap kuku mulai belok arah, gue sudah siap. Duduk, fokus, tarik napas, eksekusi. Rasanya kayak jadi dokter tanpa gelar. Tegang tapi puas.
Gue curiga ini semua efek masa lalu. Dulu gue sering banget pakai sepatu sempit. Terutama pas lagi rajin main badminton. Lari, lompat, ngerem mendadak. Jempol kaki jadi korban. Mungkin di situlah awal pemberontakan kuku gue dimulai.
Olahraga badminton itu erat sekali kaitannya dengan kaki. Jadi sepertinya kaki gue sering banget kena pressure berlebih saat itu. Nggak kebayang dengan olahraga yang bener-bener mengandalkan kaki untuk permainannya, pasti kasus kuku cantengannya lebih banyak lagi.
Lucunya, gue termasuk cowok yang rajin potong kuku loh. Bahkan bisa dibilang over-aware. Gue nggak nyaman sama kuku yang kepanjangan. Terutama kuku kaki.
Pernah satu kali lagi salat berjamaah, gue nggak sengaja ngeliat kuku kaki orang di depan gue.
Panjang.
Bengkok.
Sedikit kehitaman di ujungnya.
Sejak saat itu gue makin rajin potong kuku kaki.
Selain itu, gue juga pernah trauma kuku patah waktu main bola nyeker. Lari di lapangan kasar, terus kesandung dikit, dan BRAK. Kuku jempol kaki terbelah.
Sakitnya nggak usah ditanya lagi. Cukuplah bikin gue sadar kalau kuku pendek itu lebih aman daripada kuku bima.
Masalahnya, kalau dipotong terlalu pendek, malah jadi cantengan.
Serba salah, njir.
…
Balik lagi ke angkot.
Gue nggak tahan akhirnya nanya ke si abang.
“Bang, itu kukunya berapa lama manjanginnya?”
“Setahun.” jawab abang supir santai.
“Wah.” gue tertegun sambil menelan ludah.
“Dulu pernah dua tahun.” tambah abang supir.
Gue makin takjub. Dua tahun itu komitmen yang cukup panjang loh. Banyak hubungan yang berjalannya nggak sampai dua tahun soalnya.
“Pernah patah nggak bang?” tanya gue penasaran.
Dia senyum tipis sebentar sambil melihat ke spion tengah dan berkata:
“Pernah. Gara-gara meres cucian.”
Gue terdiam. Dalam kepala gue langsung muncul satu kalimat: kuku boleh panjang, tapi tidak patriarki.
Respect.
Yang bikin gue makin penasaran, kukunya cuma panjang di tangan kiri. Tangan kanan normal. Fungsional sekali kan. Abang supir ini mengajarkan fungsional tetap harus diatas fashion itu sendiri.
Bener-bener double respect, bro.
Tapi, bersamaan dengan jawaban abang ini gue jadi mikir lagi, dengan kelas ekonomi beliau yang realistis banget, kecil kemungkinan di rumahnya pakai kloset duduk dengan bidet canggih. Lebih masuk akal kalau toilet jongkok dan pake air timba.
Di titik itu satu juta pertanyaan aneh udah muncul di kepala gue, salah satunya adalah
ITU GIMANA CEBOKNYA YA???
Gue nggak berani mengikuti kata hati untuk beneran nanya. Bukan karena nggak sopan. Tapi karena takut jawabannya terlalu teknis.
Atau kalau tiba-tiba abangnya nggak suka sama pertanyaan gue terus gue dicakar? Bisa tetanus sih itu.
…
Di rumah, gue ceritakan kejadian ini ke istri.
“Bayangin deh, kuku segitu panjang. Buang airnya gimana?”
Istri cuma jawab, “Ya mungkin dia sudah terbiasa.”
Nah, mungkin itu kuncinya.
Kuku, cantengan, panjang, pendek, semua cuma soal kebiasaan dan adaptasi.
Yang menurut kita ribet, buat orang lain biasa aja.
Yang menurut kita nggak penting, ternyata punya peran masing-masing.
Sekarang setiap kali gue potong kuku, gue nggak lagi menganggap itu rutinitas sepele. Itu bentuk perawatan. Bentuk sadar diri. Bentuk kecil dari menghindari masalah besar bernama cantengan.
Apa pelajaran dari cerita soal kuku ini?
Nggak ada juga.
Cuma jadi pengingat, bahwa anggota tubuh yang kita remehkan bisa bikin hidup nggak nyaman kalau diabaikan. Mungkin, sebelum nanya orang lain gimana caranya cebok dengan kuku sepanjang itu…mending…MENDING JANGAN DITANYA SIH. KEEP IT JUST ON YOUR MIND YA.
CASE CLOSE.
30DWC


.png)
0 KOMENTAR:
Post a Comment
Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni