Tadi pagi gue naik kereta yang stasiun akhirnya Manggarai. Sebenarnya lebih enak dari Depok Lama naik kereta jurusan ini, karena penumpangnya tidak sesemarak arah Jakarta Kota.
Perjalanan kereta sudah mau sampai tujuan gue. Stasiun Tebet. Gue mengantre turun tepat di belakang seorang bapak-bapak yang berpenampilan ‘cukup unik’ hari itu
Topi sombrero berwarna putih tulang, celana koboi cutbray berwarna coklat tua. Dan baju musisi spanyol yang dadanya ada tali-talinya berwarna biru muda. Dari kejauhan bapak ini percis seperti musisi jalanan di pinggiran Spanyol.
Gue tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan bapak ini sampai mengenakan outfit serba koboi di rute kereta pagi yang sudah pasti ramai dan full itu. Analisa gembel gue sih mengatakan, bapak ini pemain sirkus. Masalahnya sirkus mana yang performnya jam 7 pagi?
Setiap akan turun kereta di stasiun tebet, kondektur dan satpamnya selalu memberi tahu untuk hati-hati ketika turun, karena pembatas antara jarak kereta dengan peron stasiun itu jauh sekali. Jadi dibutuhkan semacam tangga dari besi, untuk menyamakan posisinya.
Pintu kereta baru aja terbuka, tapi bapak koboi ini udah seperti kerasukan banteng, padahal dia bukan el matador, tapi kaya udah nggak sabar banget mau keluar kereta.
Setelah pintu kereta full terbuka, bapak koboi ini langsung lari, entah dia baru pertama kali turun di Tebet atau gimana, posisi larinya itu berpotensi banget merusak keseimbangan, karena kombinasi dari terburu-buru dan tidak tahu kalau alas yang dipijak ini bukan semen, tapi tangga besi.
Celana cutbraynya yang berkibar satu sama lain itu bikin salfok juga. Ditambah posisi hujan dan kondisi stasiun agak becek, bapak koboi ini sukses jatoh tergelincir sampai menabrak plang kuning yang biasa dipakai tim cleaning service stasiun untuk memberi tahu kalau area ini masih licin karena habis dipel.
![]() |
| Sign pel tidak berdosa uang ditabrak bapack koboi. |
Ada rasa ingin ketawa, tapi iba juga. Jadi salah tingkah aja.
…
Kondisi hari itu memang sedang gerimis. Belum hujan tapi bulir-bulir air sudah mulai menetes samar-samar membasahi peron stasiun.
Kalau suasana sudah seperti ini, gue jadi teringat momen mengejar kereta waktu momen menuju lebaran sekitar tahun 2018, begini ceritanya.
Waktu itu baru tahun pertama gue kerja di Jakarta. Karena bingung mau menghabiskan waktu ngapain. Akhirnya gue ke Cirebon menuju rumah kakak nomor 2.
Niatnya mau lebaran di Cirebon aja, karena kalo pulang ke Samarinda gaji nggak cukup. Cuman bisa buat pulang, balik ke Jakarta lagi mungkin gue harus jual ginjal.
Kebetulan kakak gue juga nggak balik karena lagi ada sesuatu dan lain hal.
Gue inget banget, pergi ke Cirebon naik kereta Tegal Ekspres. Kereta paling pagi yang berangkat dari Pasar Senen. Waktu itu harga tiketnya murah banget. Cuman 35 ribu deh kayaknya. Bandingkan kalo gue balik ke Samarinda. Tiket pesawat aja bisa 1,5 juta sendiri. Pulang pergi udah 3 juta. Belum travelnya dari kosan ke bandara, dan bandara ke rumah. Behh, gaji sebulan habis buat pulang doang. Mangsedih sekali jadi fresh graduate dengan gaji UMR.
Makanya, pilihan liburan ke Cirebon terlihat lebih realistis untuk fresh graduate seperti gue.
…
Sampai Cirebon semua berjalan biasa-biasa saja. Gue dan keluarga kakak nomor 2 liburan ke Bandung, lanjut ke Lembang terus balik lagi ke Cirebon.
Ada sebuah kejadian maha kampret waktu perjalanan dari Cirebon ke Bandung, karena gue jalan pas hari H lebaran, kita mikirnya volume kendaraan di tol sudah tidak sepadat h-1 atau h-2 dong.
Ternyata macetnya masih ampun-ampunan. Macet itu bikin gue trauma dah sama jalan tol waktu lebaran. Nextnya kalo bisa mudik jangan jalur darat deh, lebih banyak stressnya soalnya daripada happynya.
Balik ke soal kereta, selesai liburan yang tidak begitu membahagiakan, karena lebih lama macetnya dibanding liburannya, gue memutuskan buat balik ke Jakarta aja. Membusuk di kosan sepertinya tidak terlalu buruk dibanding harus stress karena macet di tol.
Karena rumah kakak gue deket banget dengan stasiun di Cirebon, jadi gue pesen ojek online mepet, ya karena mau ngapain juga menunggu lama-lama di stasiun, mending datang mepet dan nyampe stasiun langsung naik kereta.
Itu adalah harapan gue, tapi gue lupa mempertimbangkan beberapa hal.
Pertama, perjalanan dari rumah kakak gue menuju stasiun itu harus melewati rel kereta, jadi kalau gue jalan berbarengan dengan jadwal kereta yang akan melintas, gue bisa buang 3-5 menit waktu di jalan.
Kedua, gue tidak mempertimbangkan pengetahuan driver ojek online. Sekadar gambaran, di Cirebon itu ada dua stasiun kereta api. Cirebon Prujakan dan Cirebon Kejaksan. Prujakan biasanya digunakan penumpang ekonomi seperti gue. Sedangkan kejaksan biasanya digunakan oleh penumpang eksekutif.
Kereta gue yang mana? Tentu saja yang ada di prujakan dong. Mana sanggup manusia bergaji UMR yang habis liburan ala-ala ini beli tiket kereta eksekutif. Tegal ekspress is my favorite lah.
Nah, karena waktu gue pesen itu udah mepet jadi gue langsung order dan bilang ke abang ojeknya ke stasiun. Mungkin melihat penampilan gue yang keren dan mantep, mana gue bawa koper segala, jadi si abang mengira tidak mungkin dong pemuda tampan dan berkharisma ini naik lewat Prujakan. Jadi si abang tanpa tanya langsung mengantar gue ke Kejaksan.
Gue: Bang, ini gue udah telat banget, langsung ngebut ke stasiun ya
Ojol: Siap bang, berangkat!
Karena nggak fokus, gue juga diem aja dan anteng di belakang, waktu udah mepet banget. Begitu sampai stasiun gue bingung, lah ini kok kayak beda ya suasananya dari stasiun tempat gue datang kemarin. Kaya lebih bagus gini nih. Masa renovasinya secepat ini.
“Bang, ini stasiun Prujakan, kan?”
“Loh, bukan mas, ini Kejaksan”
“Lah, saya harusnya Prujakan bang, gimana ini, kan tujuannya ke Prujakan itu”
“Loh, wahh saya nggak ngecek mas, yaudah ayo saya antar ke Prujakan, mas”
Lima menit lagi kereta gue udah mau jalan dan gue salah stasiun. Abang ojol juga nggak perhatiin tujuan gue di aplikasi, jadilah kita berdua diem-dieman kaya orang pacaran yang lagi ngambek.
Sampai depan stasiun Prujakan gue langsung ngibrit lari, sambil geret-geret koper. Karena kereta gue udah mau jalan gue bahkan nggak nunjukin KTP, jadi cuman nunjukin tiket aja, langsung disuruh lari aja sama petugasnya. Karena kalo gue harus melewati ritual buka dompet dan nunjukin KTP lagi, sudah pasti ditinggal kereta.
Sampai dalam kereta, nafas gue abis karena ngos-ngosan akibat lari dari ujung ke ujung dengan koper yang beratnya nauzubillah ini. Hari itu ditutup dengan tidur nyenyak di kereta ekonomi tanpa rasa was-was takut barang hilang.
30DWC


.png)
0 KOMENTAR:
Post a Comment
Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni