Day 14 - Bandara

Bisa dibilang ini zama jahiliah ya.

Pertama kali kerja sebagai professional employer itu di tahun 2018. Waktu itu posisi gue adalah creative designer. Namanya memang terdengar dan terbaca keren, asal kalian stop sampai di sana, tidak bicara soal gaji, bonus dan hal-hal tabu lainnya.

Sebagai fresh graduate, pilihan kerja untuk jurusan kuliah gue sebenernya banyak banget, cuman karena gue anaknya nggak begitu punya tujuan yang jelas dan belum mau jadi PNS, makanya setelah dinyatakan lulus, bahkan jauh sebelum wisuda gue udah sebar CV ke banyak tempat. 


Waktu itu modalnya SKL (Surat Keterangan Lulus) aja udah boleh. Maka seperti nelayan yang sedang berusaha menjaring ikan, semua studio dan perusahaan yang membutuhkan graphic designer pasti gue kirimkan lamaran.


Beruntungnya gue nggak banyak melewati tahap interview user, cuman sekitar enam kali dan ada dua dari enam perusahaan itu, yang sepertinya dengan rasa iba mau menerima gue #NangisBangga.


Gue lupa susuk apa yang gue pakai waktu itu, nanti lah gue ceritain kalau ingat ya.


Intinya waktu itu gue langsung dapat dua offering dari dua kantor berbeda. Di perusahaan A gue diterima sebagai Junior Graphic Designer. Di perusahaan B gue diterima sebagai Creative Designer.


Alasan gue menerima pinangan dari kantor B adalah…..ya karena nama posisinya keren aja “creative designer” gue creative dan gue designer. Keren kan? Dalam hati gue udah mikir pasti gaji dan benefit nya mantep lah ini. Makanya gue mantap untuk memulai karir profesional gue di perusahaan ini.


Ya, walaupun kalau dipikir lagi memang agak bodoh ya, masa membandingkan perusahaan dari nama posisinya. Ya itulah gue waktu baru lulus. Masih kosong dan polos. Bukan nabi boy.


Sedikit cerita soal kantor A yang prosesnya tidak gue lanjutkan. Perusahaan ini bergerak di bidang farmasi. Waktu itu pengetahuan gue soal obat dan kesehatan nol besar. Ya sampai sekarang masih begitu sih.


Gue agak takut juga karena produk yang akan gue desain mostly soal kesehatan, makanya gue sempat ragu. Walaupun saat interview perusahaan ini punya user yang asik-asik banget, waktu itu usernya ada dua orang. 


Satu orang adalah lead dan yang satu lagi independent contributor. Waktu itu gue nggak berasa sedang interview, tapi kaya lagi nongkrong aja sama senior kampus, karena kebetulan kita semua lulusan DKV, cuman ya beda angkatan aja. 


Topik yang dibahas waktu interview bukan soal kultur di kantor atau hal teknis untuk posisi ini, tapi lebih ke excited-an mereka mendengar cerita gue yang tidak jelas asal usulnya. Kok bisa dari Samarinda, kuliah di Malang terus terdampar di Pulo Gadung ini.


Ditambah lagi saat itu gue sempat cerita kalo waktu SMK gue pernah nerbitin buku ‘komedi’, mereka tambah excited dan minta gue buat melakukan stand up comedy, apalagi di medio 2018 itu hiburan stand up comedy lagi marak-maraknya juga. Masa ngelamar kerja jadi graphic designer tes masuknya stand up comedy. Tentu saja gue tolak lah. Ini bukan passion gue nih, anjay.


Singkat cerita surprisingly gue diterima. Tanggal first day join pun sudah ada. Waktu itu gue jujur ke mereka kalau sekarang lagi on process di tempat lain juga, jadi sambil nunggu kantor B kasih kabar, gue mau hold dulu tanda tangan probation dengan mereka. 


Kerennya perusahaan ini, mereka nggak masalah dan meminta gue untuk nggak perlu buru-buru juga buat menentukan. Gue dikasih semacam Takes your time mode dulu.


Padahal lead yang kemarin interview udah ngirim email pribadi ke gue yang isinya begini:


Mau kerja mas, bukan openmic
Terlihat green flag sekali sebenarnya, sayangnya nasib tidak membawa gue untuk bekerja sama dengan mereka, and the rest is history.


Setelah dapat offering dari kantor B, dan memang lokasi kantornya dekat dengan tempat gue nebeng tinggal selama di Jakarta, akhirnya berlabuhlah gue di sana.


Gue pikir dulu karena posisi gue creative designer gue nggak berharap banyak untuk kerja di luar kantor, karena biasanya designer lebih sering in house aja kan di dalam kantor. Ternyata di kantor ini tidak begitu. 


Karena model bisnis kantor ini adalah B2B, jadi clientnya kebanyakan tersebar di berbagai pulau. Sebagai designer satu-satunya di kantor ini, maka gue jadi sering untuk ikut dengan marketing dan bos gue untuk setiap acara yang diadakan, biasanya ceremonial tanda tangan agreement atau perpanjangan kerja sama.


Intinya kerjaan gue mendokumentasikan semua momen itu dan hasilnya akan dijadikan konten untuk sosial media. Goks nggak dari 2018 gue udah jadi anak konten. Siap banget gue dipanggil si paling konten.


Selama kerja hampir 10 bulan, hidup gue banyak dihabiskan dari bandara ke bandara karena harus hadir di semua event kantor.


Bahkan ada kalanya gue hari jumat di Pekanbaru, Minggu malam balik ke Jakarta terus Senin pagi langsung ke bandara Halim Perdanakusuma lagi buat pergi ke Solo. Hidup kayaknya cape banget. Masa seorang cungpret kaya gue mobilitas nya setinggi pejabat.


Momen paling aneh gue bepergian adalah waktu gue dan bos memutuskan untuk naik pesawat menuju Bandung. 


Iya, kalian tidak salah dengar.


Kita ke Bandung naik pesawat.


Pulang pergi.


Satu hari.


Keren banget kan.


Waktu itu belum ada whoos ya jadi moda transportasi tercepat ya pesawat.


Nggak tau harus bangga atau bingung. Kayaknya nggak banyak deh orang yang pernah dari Jakarta ke Bandung naik pesawat, bukan nggak banyak sih, tapi lebih ke ngapain? 


Bersyukur selama kerja dan sering berpergian itu gue nggak norak-norak amat. Minimal gue ngerti lah cara naik pesawat, kayak check in itu kaya gini, muat bagasi itu begini, ambil bagasi di sini. 


Karena sebagai anak rantau antar pulau, pesawat dan bandara memang sudah akrab sekali dengan gue. Jadi nggak begitu sulit adaptasinya. 


Ini yang gue rasakan dan alami di awal-awal, sampai ada satu momen gue nyaris kena scam di bandara.


Jadi ceritanya begini. Biasanya gue itu terbang selalu bareng bos karena marketingnya biasanya udah duluan di lokasi. Kemanapun tujuannya pasti kita satu pesawat, nanti kita pisah pas menuju hotel. Bos gue di hotel bintang lima, nah gue biasanya di OYO.


Hari itu gue mau flight ke Semarang, karena sebelumnya bos gue udah di Jogja, jadi dia langsung jalan darat ke Semarang.


Sementara gue, karena gue dari Jakarta, jadilah gue flight sendiri ke Semarang. Karena gue sering kali berangkat di hari-h acaranya, jadi gue selalu dapat flight pagi.


Waktu itu pesawat gue dijadwalkan jam 8 pagi. Biar nggak telat dan menjaga profesionalisme jam 04:30 gue udah jalan dari kos.


Jujur aja, gue lebih suka kalo flight nya lewat bandara Halim daripada Soeta. Gue udah nggak begitu peduli sama fasilitas bandara sebenarnya. Yang gue perlu cuman bandara yang lebih dekat dari kos biar kalo gue naik grab dari kos nggak boncos.


Karena bangkainya yang dibayarin kantor langsung itu cuman pesawat dan hotel. Untuk ongkos grab dan makan kalau lagi perjalanan dinas itu gue sistemnya reimbursement. Kos gue di Pancoran. Ke Halim itu deket banget, paling kalo grab motor 25 rebu. Walaupun gue nggak pernah pake grab motor juga sih kalo jalannya subuh. Dingin coy.


Nah kalo ke Soeta gue harus spare minimal 200 ribu untuk grab dan tol nya. Jauh banget kan selisihnya.


Hari itu nggak tau kenapa, memang lagi sial aja orang yang biasa mesenin tiket lagi cuti. Jadi yang pesan tiket pesawat orang lain. Gue udah pede kalo flight hari ini dari Halim juga kaya biasanya. Ternyata tidak, gue dipesenin tiket dari Soeta. Begitu tahu kabar ini gue hanya bisa menatap nanar dompet yang sudah kempes pes pes ini. Fix ini mah, minggu depan gue puasa Daud lagi.


Karena nunggu reimbursement cair itu lamanya nauzubillah dah. Temen-temen yang udah kerja pasti taulah ya pedihnya menunggu reimburse cair.


Pagi itu gue sampai bandara sekitar pukul 5.30. Masih ada waktu untuk istirahat sebentar di ruang tunggu sebelum check in dan masuk pesawat.


Gue udah mode pasang headset dan selonjoran di kursi. Tiba-tiba dari kejauhan ada seorang remaja laki-laki, berjalan pelan datang ke arah gue dan duduk tepat di sebelah gue.


Awalnya dia diam, kemudian menepuk bahu gue sambil nanya:


“Mas tujuan Semarang?”


Gue jawab dengan hanya mengangguk. Tanda kalo gue lagi ngantuk dan nggak pengen diajak ngobrol.


Kemudian dia menepuk bahu gue lagi.


“Saya juga mau ke Semarang mas, tapi tiket saya hangus, harusnya saya terbang jam 5 pagi tadi”


Gue yang awalnya acuh, jadi ngerasa iba dan mulai melepas headset sambil nanya:


“Kok bisa?”


Intinya dia menjelaskan kalau sebenarnya dia ini anak diklat dari salah satu BUMN, pusat pelatihannya akan dilakukan di Semarang, tapi dia ketinggalan pesawat dan bingung harus naik apa menuju Semarang. Soalnya kalau dia nggak nyampe hari ini akan dianggap mengundurkan diri.


Semakin dia cerita, semakin gue merasa iba. Apalagi lihat potongan anaknya yang lugu dan polos. Jadi gue coba iseng tanya sambil cek harga tiket ke Semarang hari ini berapa.


“Lu pegang uang berapa sekarang? Coba lu ke counter itu dan minta refund tiket aja”


Tiba-tiba gue kasih saran yang sangat magic. Padahal gue juga tahu proses refund tiket pesawat itu tidak sesederhana itu. Biasanya nunggu sampai 3 bulan untuk prosesnya. Lama dan menyebalkan lah pokoknya.


Hari itu masih ada penerbangan ke Semarang 2 jam setelahnya penerbangan gue. Harga tiketnya juga nggak begitu jauh. Maksud gue nanya dia punya uang berapa itu biar dia bisa langsung beli lagi aja.


“Duit gue tinggal 300 ribu bang, ini juga duit buat pegangan di Semarang.”


“Bang boleh nggak minjemin saya duit biar saya bisa langsung pesan tiket ke Semarang?”


Gue yang masih ngantuk dan setengah sadar masih mencoba mencerna tuh tiap-tiap kalimat yang keluar dari mulut lugunya.


“Wahhh gue nggak punya cash.”


Selain nggak punya cash gue memang nggak ada duit juga njir, ini aja gue bongkar tabungan dulu buat grab dari kos ke bandara.


“Ayok bang saya antar ke ATM. Tuh ATM nya di situ.”


Sambil nunjuk-nunjuk ATM dari berbagai macam bank berjejer pas di depan kita.



Sebelum lanjut ke persoalan duit itu, gue coba tanya lebih dalam lagi. Dia ini beneran mau diklat atau bohong, kan gue nggak bisa percaya gitu aja. Siapa yang bisa jamin kalo ini bukan scam. Setelah gue pinjemin duit bisa aja dia muter ke penumpang lain dan cerita hal yang sama.


Kalau gue kasih pinjam 200 ribu aja. Misal satu hari ada 5 orang yang bisa dia kibulin, udah dapat sejuta itu. Lebih cepat dia dapat duit daripada reimbursement gue cair. Kan bangkai.


Kondisi bandara pagi itu lumayan sepi, karena gate banyak yang belum dibuka. Sementara di ruang tunggu juga nggak begitu banyak orang. 


Gue rasa ini orang penipu deh, jadi gue mulai males dengerin ceritanya, sampai akhirnya ada petugas bandara yang suka muter-muter area pake scooter roda dua itu, belakangan gue tau kalo namanya adalah Segway


Keren banget, bisa kerja sambil mainan gitu. Sambil masih kagum dengan segway petugas bandara itu gue suruh aja anak ini buat minta tolong ke petugas untuk cari solusi yang enak gimana.


Baru gue mau memberhentikan petugas yang lewat. Eh dia udah kabur kayak ketakutan gitu. Kan bener mau nipu.


Karena petugasnya keburu berhenti, gue ceritakan lah alasan kenapa gue memanggil dia.


Si petugas nggak ba bi bu langsung mulai mengejar bocah itu sambil bilang:


“Boleh tolong minggirin kakinya mas, nanti kelindes loh!”


Ohh oke pak. Maaf. Silakan pak kalo mau lanjut muter. Gue pun menarik kaki yang gue coba buat nyelengkat beliau biar jatoh dari sana.


Gue nggak tau ini modus scam apalagi, tapi ini kejadian di gue sekitar tahun 2019 an, semoga modus begini sudah nggak ada lagi. Gue cukup yakin kenapa gue dijadikan target ya karena kondisi bandara sepi, gue masih keliatan bloon dan sendirian pula. Hmmm sasaran empuk nih.


Semenjak itu, kalau sedang ada di ruang publik gue tidak pernah mau basa-basi atau menanggapi obrolan apapun dari orang asing. Kalau dulu gue suka bohong aja soal semua identitas pribadi, kalau sekarang lebih parah kayaknya. Begitu ada yang ngajak ngobrol gue akan langsung pura-pura kesurupan aja.


“Aing macannnn… “


“maneh teh saha…”


“Arrrrr…”


0 KOMENTAR:

Post a Comment

Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Artwork Awards Buku Gue Blogwalking Privacy Policy