MULAILAH TERTAWA SEBELUM KALIAN PUBER

Sunday, January 14, 2018

Yang Patah yang Tumbuh

Tidak bisa dielakkan. Segala sesuatu yang pernah tumbuh nantinya akan patah juga.
Akan tumbang juga, akan hilang.
Lalu musnah untuk selama-lamanya.

Seperti pohon yang dirawat mulai bibit, disiram setiap hari, diberi pupuk, kemudian diambil hasilnya. Ntah bunganya, buahnya, atau bahkan hanya daunnya.

Yang mungkin tidak terpikirkan adalah ketika sebelum waktunya panen, pohon itu sudah layu, sudah tumbang duluan, kemudian menghilang.

Jumat, 12 Januari 2018, kemarin.
Teman saya Bayu akhirnya pergi meninggalkan kita semua.
Layu ditelan dunia.

Walaupun tubuhnya terlihat kaku, saya tahu bahwa itu adalah proses menuju layu yang sesungguhnya.

Saya sudah tidak bisa menggambarkan kesedihan yang dialami. Baik orang tua, keluarga hingga teman yang ditinggalkan.

Terlalu banyak memori yang tiba-tiba terputar secara otomatis di kepala saya.
Hitungan pertemanan yang bukan hari atau bulan lagi. Tapi hampir 7 tahun, membuat saya masih tidak percaya tentang ini semua. Bahkan 3 tahun terakhir ini hanya wajah dia yang saya lihat ketika bangun pagi.

....

Untuk semua hal yang telah terjadi, pengalamannya, baiknya, buruknya. Semuanya sudah saya simpan rapih.

Tidak ada gunanya bersedih.
Ini hanya masalah waktu.
Kita semua nantinya pasti patah juga, pasti layu.
Lalu kaku.

Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk melawan atau menundanya.
Yang sekarang bisa kita lakukan adalah berdoa.
Berdoa untuk diri sendiri.
Berdoa untuk orang-orang yang kita sayangi.
Kemudian berdoa untuk orang-orang yang terlebih dahulu meninggalkan kita.

Seperti menanam pohon, tidak peduli bibit pohon apa yang ditanam, pupuk termahal apa yang diberikan, kalau memang waktunya pohon itu layu. Maka layulah dia.

Mohon doanya untuk teman saya. Semoga segala amal ibadahnya senantiasa diterima, dihapuskan segala dosa dan kekhilafannya selama ini, dilapangkan jalannya, dan diberikan tempat sebaik-baiknya, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.


Selamat jalan, Bayu.

Tuesday, November 21, 2017

Magang Part #4 (Drama Ojol)


Baca cerita sebelumnya dulu di sini. 

Karena udah bingung, gue pun tetap pesan ojek online. Bodo amat dah, jadi gembel, gembel dah. Yang terpenting sekarang gue harus nyampe kantor dulu. Urusan duit, dihitung nanti aja.

Gue pesen gojek. Eh di cancel.

Order pake grab. Eh di cancel lagi.

Nyoba uber. Eh di cuekin. Iyalah, soalnya gue beneran nguber-nguber ojek online yang lewat secara manual, mereka bukannya berhenti, eh malah pada nyuekin gue.

Saturday, November 11, 2017

Magang Part #3 (Rush Hour)

Baca cerita sebelumnya dulu di sini. 

“mas kartu saya ketelen nih, gimana nih, wah parah!?” gue nanya sambil mau nangis ngomel ke petugas Indo*maret.

“wahh, mas korban ke-3 hari ini berarti. Kayaknya mesinnya emang lagi rusak, mas” si petugas memberi keterangan yang sangat bangsat.

KALO TAHU RUSAK KENAPA NGGAK DI KASIH TULISAN, WOYYYY!!!

INI KARTU ATM GUE GIMANA YA ALLAH :(

Sore itu setelah ngambil duit, atm gue ketelen dan nggak keluar-keluar lagi. Gue langsung stress. Mana sekarang udah hari Jumat. 

Dan udah sore.

Friday, November 3, 2017

Magang Part #2 (Gue Panik)



Baca cerita sebelumnya dulu di sini. 

Di mana-mana, yang namanya mencari kotsan itu selau merepotkan, ya. Susah banget ketemu kost yang harga, susasana, dan tempatnya strategis. Dari tiga hal ini selalu aja kita cuman bisa dapat dua.

Harganya murah, terus suasana enak tapi lokasinya jauh.

Atau.

Suasananya enak nih, lokasinya juga strategis. Kemana-mana deket. Ehh harganya ngajak berantem.

Atau.

Tempatnya mantap, harganya juga pas, eh suasana kostnya, udah kayak markas belanda yang terbengkalai karena ditinggal ternak lele.
Back to top