MULAILAH TERTAWA SEBELUM KALIAN PUBER

Sunday, February 14, 2021

Kenapa Harus Skill Academy?

Seorang teman pernah curhat ke gue betapa sulitnya dia mencari kerja padahal ia merupakan lulusan S1. Strata pendidikan yang termasuk tinggi di Indonesia. Kita sempat berdiskusi cukup panjang dan mengemukakan pendapat masing-masing.

Mulai dari dia yang merasa kalau kurikulum pendidikan yang diajarkan di bangku kuliah tidak selaras dengan kompetensi yang harus dimiliki di dunia kerja, hingga soft skill apa yang seharusnya dimiliki para prakerja untuk bisa berkompetisi dan mendapatkan pekerjaan impian.


Sedikit banyak sebenarnya gue setuju dengan pendapat dia. Tetapi yang gue lihat, selain menggarisbawahi instansi pendidikan yang memang perlu dibenahi, ada baiknya kita lihat lagi faktor lain. Misalnya dari mahasiswa itu sendiri.


Kampus memang tidak bisa memfasilitasi segala kebutuhan belajar mahasiswanya. Bahkan gue pernah dengan bahwa perkuliahan hanya memberi 20% pengetahuan. Dari data ini kita bisa tahu bahwa mahasiswa nggak bisa berharap 100% bakal pinter lewat kampus saja.


Sebagai fasilitator kampus memang bertujuan untuk memulai dan membangun jaringan antar mahasiswa dan dunia kerja. Hal ini yang terkadang luput dari pandangan kita. Bahwa sebenarnya selain dari kampus kita perlu memperluas jaringan kita sendiri.


Gampangnya begini, kalau kuliah jurusan Design. Ya mulailah berjejaring dengan orang-orang yang terkait dengan industri itu. Ikuti pelatihan atau seminar yang berkaitan dengan jenjang karir sebagai desainer.


Disinilah peran kampus terkadang kurang maksimal. Mahasiswa yang haus akan pengetahuan dan ilmu baru pasti akan kesulitan dan merasa kurang terus jika berpedoman hanya pada kurikulum kmapus..


Celah inilah yang dimanfaatkan oleh Skill Academy untuk masuk dan ikut membantu memperluas pengetahuan dan jaringan mahasiswa bahkan pekerja aktif, untuk memperdalam ilmunya atau mempelajari keterampilan baru.

Saturday, February 6, 2021

Yok, bisa yok!

22 Januari 2021 kemarin gue genap 25 tahun.

Semakin hari entah kenapa gue jadi semakin malas. Apapun, males keluar rumah, males main, malas mandi, hingga malas pacaran!

Betul sekali, gue lagi males pacaran. Padahal track record gue selalu bagus 5 tahun terakhir ini. Setiap ulang tahun selalu ada yang-gue-kira-tulang-rusuk-gue-yang-hilang-ternyata-bukan di samping gue. Walaupun gak dirayain gede-gedean minimal yang-gue-kira-tulang-rusuk-gue-yang-hilang-ternyata-bukan ini selalu ngucapin tiap jam 00:00 dari tanggal 21 menuju 22 Januari.


Sekarang gue berasa sepi. Ya sepi aja, Pokoknya sepi gitu lah, tapi anehnya gue nggak begitu sedih, sih. Kayak, oh gue lagi gak punya pacar ya, terus yaudah. Tidur lagi aja.


Sebenarnya kalo dibilang bingung atau gamang, gue juga nggak terlalu ngerasain itu, menurut gue hidup gue udah oke-oke aja sih.

Berpendidikan? check!


Kerja? check!


Tampan? check check check!

Saturday, December 19, 2020

Bapack-bapack

Kemarin gue sempet sedih sekaligus bahagia. Jadi, bapack-bapack yang kos di tempat gue ngekos juga (?) satu per satu pada pulang kampung. Tapi, alasan pulang kampungnya bukan liburan atau kangen sama keluarganya. 

Karena rata-rata bapack-bapack ini adalah pekerja kontrak, jadi dampak dari covid-19 ini berpengaruh banget ke mereka. Beberapa ada yang memang kontraknya tidak diperpanjang, ada juga yang emang udah nggak mau perpanjang lagi karena udah terlalu lama di Jakarta.

Gue sedih karena kosan jadi sepi. Tapi bersamaan dengan itu gue juga seneng karena nggak harus ngeliat kelakuan yang ajaib lagi dari bacpack-backpack yang berkumpul dan berfushion ini.

Karena sumpah ya, bapack-bapack kalo udah ngumpul kelakuannya nggak jelas banget. Gue pernah nih, kondisi cuaca  lagi hujan, inisiatif lah bapack-bapack ini pada masak, mereka bakar ikan. Karena lagi hujan, gue pikir gak jadi bakar dong. Ternyata mereka tetap bakar ikan dong. Coba tebak di mana mereka bakarnya?

Di halaman belakang kost? tidak

Di rooftop kosan? tidak juga.

Tau di mana?

Di dalam kosan dong. Di ruang tamu. Kan gila. 

Saturday, May 30, 2020

Bisa Gak Lo?

Alasan gue setelah lulus kuliah langsung ke Jakarta adalah, karena Jakarta menjanjikan kebebasan dan kesenangan. Iya, gue tau semuanya soal ke-fana-an. Tapi, buat banyak orang daerah doktrin kayak gini manjur banget loh.

Semakin banyak kenal anak-anak daerah yang sekarang menetap di Jakarta gue jadi tahu, nggak semua orang yang datang ke Jakarta langsung berhasil, kebanyakan susah dulu, sengsara dulu, baru tambah menderita dan mati di begal.

Jakarta dengan segala janji-janji manis dan angan-angan kebebasan yang sepertinya menyenangkan. Mengubah orang-orang yang dikampung mungkin adalah manusia yang cupu dan penuh rasa minder jadi superior dan sok jago. Nah yang model begini biasanya yang sering di begal, sih.

Gue sendiri datang ke Jakarta bukan dengan tujuan-tujuan kebebasan atau mengubah jati diri, eh gimana. Maksudnya bukan gue Jakarta operasi plastik, awalnya cowo macho sekarang cowo macha.

Apa sih san?
Back to top