Day 05 - Idola

Ketemu Bapaknya Gohan. Ingin ngajak pose kame kameha, tapi nggak jadi deh.

Gue adalah orang yang setuju kalau fans dan idola emang gak boleh kalo nggak berjarak. Normalnya fans dan idola emang harus punya dinding masing-masing dan menyadari itu.

Masalahnya social media mau meruntuhkan itu semua dan menghapuskan konsep fans dan idola. Sosial media membuat siapa saja bisa sedekat mungkin dengan idola mereka.


Harusnya ini nggak boleh. Buat gue pribadi malah kedekatan fans dan idola yang tidak berjarak bakal menghilangkan rasa penasaran dan kagum yang selama ini kita punyai.


Kita jadi biasa aja kalo liat idola kita, karena ya, emang kita nggak pernah sedekat ini.


Konsep ini sama dengan PDKT dan Pacaran, waktu PDKT pasti semua serba deg-degan, tapi pas udah pacaran, seiring berjalannya waktu lama-lama jadi hambar, kan.


Tahu kenapa waktu PDKT selalu aja deg-degan dan penasaran, ya karena dulu masih ada dinding itu, dinding yang harus dirobohkan dulu untuk bisa pacaran, udah pacaran ya robohkan dinding lagi untuk menikah atau bikin di dinding baru yang lebih tinggi karena pisah. 


Yah, hidup emang cuman sebatas membuat dan merobohkan dinding kok.



Fans dan idola juga gitu. Buat gue lagi, kalau kita sudah ditahap terlalu setara dengan idola, jadi kayak nggak ada hal spesial dan menarik yang perlu gue kagumi lagi. Udah selesai dong perjuangan gue, udah nggak ada yg spesial lagi dari idola gue. Hambar jadinya.


Makanya, penting untuk tetap membatasi diri dengan idola kita, nggak usah terlalu berlebihan atau norak, biasa aja, man. Dia juga manusia biasa kok. Biarkan hal-hal baik aja yang ada di kepala kita soal dia. Karena begitu kita masuk dalam kehidupan dia yang lebih dalam dan lebih personal, gue nggak mau jamin, tapi kebanyakan pasti hasilnya ini: 


Kita akan kecewa, 


Kita akan kesal.


Yah, karena memang idola harusnya sesuai sama ekspektasi kita aja, udah, cukup. Yang salah kita mau memvalidasi ekspektasi itu. Harusnya nggak usah, cukup di kepala kita aja, jangan dibuktikan dan dibiarkan keluar.


Tapi manusia kan terlahir untuk pembuktian. 


Akulah sperma terbaik.


Akulah juara kelas.


Akulah para pencarimu ya Allah…



Masih soal Idola dan penggemar yang harus punya jarak. Bukannya seharusnya kita paham ya kalo dua sebutan ini ada karena kehadiran satu sama lain.


Disebut idola karena ada atau bahkan banyak yang mengidolakan.


Disebut penggemar ya karena menggemari sesuatu.


Dua hal ini tuh bersisian. Nggak bisa salah satunya berdiri sendiri nggak bisa juga salah satu pihak merasa lebih superior dari pihak yang lain.


“Yaelah, gue kehilangan satu dua fans kayak lu mah masih jalan hidup gue. Masih banyak jutaan orang lain yang nunggu momen buat ketemu dan foto bareng gue.” 


“Ahh dia mah kalo nggak ada kita-kita ini kaga ada yang mau nontonin paling. Orang aslinya suaranya jelek gitu, kaya monyet kejepit. Untung ganteng aja. Makannya banyak yang suka.”


Makanya, gue terlahir sebagai orang yang tidak pernah menasbihkan bahwa gue adalah penggemar fanatik sesuatu. Mau itu public figure, klub bola, atau atlet. Buat gue semuanya sama aja ah. Ya dia ada di sana karena emang itu porsinya dia emang di sana. Kita kalo disuruh tukeran posisi belum tentu juga gue mau.


Jadi terkenal dan ‘diidolakan’ banyak orang kayaknya nggak semenyenangkan itu juga deh. Lebih banyak hal nyebelinnya kayaknya.


Daripada fokus mengidolakan sosoknya, lebih bijak kayaknya kalo fokus ke outputnya aja. Apa yang mereka kasih, dan apa dampaknya buat kita.


Kalo dia penyanyi. Oke suaranya bagus, dampaknya ke gue, gue bisa dengerin musiknya pas lagi di KRL dan itu bikin gue happy. Udah. Cukup. Berhenti sampai di situ.


Kalau dia atlet. Oke permainannya bagus, dampaknya ke gue, gue jadi lebih termotivasi untuk olahraga. Skillnya nggak perlu sama sampai seperti mereka yang penting gue olahraga dulu aja. Badan sehat. Mantap.


Jangan berharap lebih sama sesuatu yang nggak bisa kita kontrol. Jangan berpikir bahwa semua Idola kita orangnya sama dengan apa yang selalu kita bayangkan. Mereka juga cuman manusia biasa. Dan selayaknya manusia, ya pasti ada salah dan khilafnya.


Jaga batasan antara diri sendiri dengan idola, niscaya akan menjaga hal-hal baik dan semangat yang lo punya saat pertama kali memilih orang itu buat jadi idola. 


Ihsan idol pamit. Wassalam.


3 KOMENTAR

  1. Setuju saya, fans dan idola memang harus ada batasnya, kalau ngga ada batasnya kurang seru seperti orang main catur ngga ada yang nonton jadi ngga ada yang ikutan nimbrung..hahaha

    ReplyDelete
  2. Salah satu idola saya sampe sekarang adalah almarhum Taufik Savalas. Beliau semasa hidup ya, selalu bisa membedakan mana waktunya depan kamera. mana momennya jadi warga bisa. Kebetulan dulu kan blio tinggalnya di Jembatan 5 jakarta, itu ada yg rekam dia lagi mandi di atas bak depan rumahnya. Di kuningan, kampung saya, pernah ketemu juga.

    Sedihnya, batas ini makin runtuh perkara sosial media. Jadinya kadang, orang tuh merasa hidupnya tuh panggung terus. Penuh kepalsuan

    ReplyDelete

Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni