![]() |
| From receh to rich yeah... |
Bercerita dan diskusi perihal keuangan tidaklah pernah membosankan, apalagi kalau partner yang diajak diskusi punya pandangan yang serupa. Tidak harus sama, minimal sama-sama mengerti visi dan misi keuangan masing-masing. Itu sudah cukup.
Karena kebanyakan pondasi keuangan setiap orang berbeda-beda kekuatannya. Ada yang berlandaskan gaji saja. Ada pula yang hanya berharap keajaiban atau yang 'kita pikirkan nanti, deh'.
Sebagai orang yang cukup sering gonta ganti metode untuk mengatur keuangan, gue cukup cepat tersadar (menurut versi gue sendiri) bahwa dana darurat memanglah sepenting itu.
Untuk besarannya berapa dan harus berapa kali gaji, itu bisa kita rencanakan berbeda-beda, tergantung urgency dan keperluan tiap kepala.
Apalagi di era sekarang, semua orang kayaknya berlari memulai investasi, padahal masih belum paham gimana neraca keuangannya sekarang, ramai-ramai membeli saham, membeli coin, padahal dana darurat sepeserpun belum disiapkan.
Analogi yang cukup pas untuk kondisi ini adalah, bayangkan anak yang seharusnya berada di kelas satu SD, dipaksa melompat ke kelas 1 SMA. Bisa nggak dia masuk ke kelasnya? ya bisa aja.
Pertanyaannya sekarang, paham gak dia dengan situasi dan lingkungan yang dia hadapi sekarang? seharusnya dia belajar 1+1=2. Ini malah disuruh menghitung berapa kecepatan cahaya. Ya muntah lah dia.
Begitulah dana darurat. Gue rasa perannya sebagai pondasi dalam keuangan harus dipikirkan dan ditanamkan ke generasi-generasi yang mulai melek investasi, ya. Karena investasi tanpa paham risiko jadinya bahaya banget, jatohnya bukan menjaga kekayaan malah membumihanguskannya.
Misalnya bagaimana? Bisa lewat banyak cara, day to day trading lah, saham gorengan, diajak temen invest di alat kesehatan waktu jaman COVID lah, dan lain hal.
Gue juga belum bisa bicara banyak soal hal di luar dana darurat. Karena ya kita sama, gue juga masih terseok-seok untuk membangun pondasinya. Apalagi gue ingin pondasi yang kokoh dan anti badai. Jadi mungkin prosesnya lebih lama dan butuh waktu untuk mencapainya.
Walaupun pelan-pelan, ini harus gue tegaskan ya. Pelan dan kecil sekali porsi yang gue mulai untuk masuk ke instrumen lain seperti emas dan Reksadana.
Let's say dari 100% pendapatan, mungkin yang gue alihkan ke dua instrumen itu cuman 10% bahkan bisa kurang. Karena gue cuman mau uang yang sudah masuk ke 2 instrumen itu tidak akan pernah gue sentuh lagi sampai saatnya tiba. Gue kubur mereka jauh didasar ingatan. Tenggelamkan mereka dengan metode: beli - bayar - lupakan.
Kenapa gue memulai dari Emas dan Reksadana? Ya. Karena sejauh ini memang baru 2 instrumen itu yang gue punya. Emas itu buat menjaga nilainya, Reksadana buat tau gimana. Gimana rasanya menyimpan uang dalam bentuk lain. Gue cuman pengen tau aja. Gimana perasaan gue saat punya wealth dalam bentuk lain selain emas dan kertas.
…
Gue adalah orang yang sangat menghargai proses, karena gue percaya kerja keras itu lebih bisa diukur dibanding keberuntungan. Lebih mudah menjadi kaya karena kerja keras dibanding kaya dari undian. Memang ada orang yang kaya karena undian, tapi gue selalu yakin kalau orang itu bukan gue.
Makanya, gue sulit banget untuk percaya dengan kelas-kelas dan bootcamp soal investasi yang bisa menghasilkan cuan berkali-kali lipat dengan cara A, B atau C.
Ada satu analogi yang menurut gue sangat masuk akal soal ini. Begini analoginya:
“Ibarat kalian menemukan sebuah gunung emas, kalian tidak akan menjual peta ke orang lain, kecuali gunung emas itu tidak ada dan kalian memang cuma penjual peta.”
You name it, kasus penipuan soal uang:
Jouska,
Indra Kenz,
Doni Salmanan,
Dimas Kanjeng.
Banyak. Memang nggak semua buka kelas tapi semuanya punya pattern yang sama. Menjanjikan keuntungan berlipat-lipat dengan cara kilat.
Buat gue cara ini nggak masuk akal, karena ya itu tadi, sebagai orang yang menghargai proses, gue nggak tahu dimana bagian ‘proses’ nya? Di mana pembelajaran dan learning cost nya? Semuanya cuman berdasar sama ‘katanya’ dan ‘...kalo gue dulu’.
Yah kalo begini mah mending gue beli tiket undian daripada tiket kelas investasi. Peluangnya sama-sama kecil juga. Tapi undian masih mending beneran ada pemenangnya (ya walaupun gue juga percaya kalau pemenangnya ini settingan semua) Nah kalo tiket kelas investasi? Ya cuman tiket aja.
Investasinya adalah peserta-peserta gelap mata yang pengen banget bangun pagi langsung kaya raya. Berendam di dalam genangan uang kertas dan bermandikan emas.
Semenjak tahu banyak soal kelas bodong dan pembodohan investasi-investasi ini, gue selalu suudzon sama apapun yang berkaitan dengan “menggandakan uang” ini atau istilah yang sering para penipu ini pakai adalah
“hari gini masih kerja untuk dapat uang? Udah nggak zaman, biarkan uang yang bekerja untuk kita…”
Kalo ada orasi atau jualan yang modelnya kayak gini, pengen banget gue tambahin:
“Ayo sini semua uang kalian biar gue bawa kabur.”
Gitu kan kelanjutan orasinya.
Memang jahat banget sesuatu yang tidak terdefinisi dan tidak ada ujungnya ini. Angka itu kaya api ya, kalau kecil dan masih bisa dikendalikan dia bisa jadi teman dan bantu kita. Tapi kalo udah besar dan tidak terkendali dia juga yang bisa menghancurkan dan melenyapkan kita.
Hati-hati sama angka.
30DWC

.png)
2 KOMENTAR
Saya sangat setuju dengan analogi gunung emas diatas. Logikanya kalau orang punya gunung emas, tak mungkin koar-koar menunjukkan jalan ke gunung emas tersebut. Malahan orang akan memilih diam-diam aja. Sebab sangat menguntungkan.
ReplyDeleteTerkait investasi, saya 6 tahun yang sudah mulai berinvestasi ke kebun sawit. Sekarang sudah rutin menghasilkan. Walau belum banyak tapi Alhamdulillah cukup.
Itulah uang, dengan cara apapun berserta topeng-topengnya akan melakukan berbagai cara untuk mengambil keuntungan dari seseorang dengan berbagai modus atau topeng yang berbeda.😁😁
ReplyDeleteTerima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni