Day 02 - Rokok

Jangan merokok kalau tidak mau menjadi Black Panther seperti bokap gue guys😅

Tumbuh dan besar di lingkungan yang berisikan perokok aktif membuat gue jadi lebih sadar kenapa harusnya kita jangan merokok.

Aneh memang, karena gue terpapar oleh orang yang mayoritas perokok harusnya kan gue ikutan merokok. Tapi gue memilih tidak. Bukan karena pengen terlihat keren dan berbeda, tapi ya memang karena gue nggak nyaman sama aktivitasnya. Mulai dari sebelum, saat, hingga setelah merokoknya. Menurut gue tidak ada yang menyenangkan dari kegiatan ini.

Sebelum merokok. Harus beli rokoknya dulu, mahal pula. Nggak masuk akal aja, untuk ukuran barang yang nir faedah tapi gue harus keluar uang dan tenaga buat memilikinya.


Saat merokok. Apa? Apa yang bisa dinikmati dari aktivitas menarik asap, membawanya ke dalam paru-paru dan kemudian menghembuskannya kembali. Gue nggak nemu serunya di mana. Asyiknya di mana. Kerennya di mana.


Beberapa teman memberi jawaban bahwa merokok bukan tentang kegiatannya, tapi tentang proses. Aktivitas merokok itu proses menemukan jati diri. Ya melamunnya, ya pelan-pelan merasakan asap masuk ke dalam paru-paru. Ya melihat ujung tembakau yang bercampur nikotin terbakar bersama membentuk kepulan asap. Ya, ini tentang bagaimana seorang laki-laki berbicara dengan bahasa asapnya.


Yang ada dikepala gue pas dikasih statement ini cuman:


Halah kentut.



Ayah dan kakak pertama gue adalah perokok aktif. Belakangan gue juga baru dapat kabar kalau adik laki-laki yang paling bungsu juga sudah sah menjadi perokok. Nggak terasa dia sudah hampir 21 tahun, dan pilihan dia untuk merokok itu adalah keputusan orang dewasa. Harus dihargai dan diterima. Itu hidupnya, biarkan dia menjadi laki-laki dewasa versinya.


Gue tidak pernah sedikitpun melarang keluarga yang pernah satu KK bareng gue ini untuk berhenti merokok, karena gue juga akan marah kalo hal yang menurut gue mengasyikkan kemudian diminta berhenti tiba-tiba.


Jadi, ada waktunya gue menerima kondisi bahwa, oke, di rumah ini ada dua perokok aktif dan gue cuman bisa berdamai sama itu. Gue santai karena gue tau akan ada waktunya untuk gue pergi dan bisa mengatur sendiri gue mau tinggal di lingkungan seperti apa.


Tidak perlu waktu lama. Setelah lulus SMA gue punya kesempatan untuk kuliah ke luar pulau dan meninggalkan sementara rumah yang memiliki dua perokok aktif itu. Nggak terasa juga gue udah 12 tahun tidak serumah lagi.


Apa pelajaran dari cerita soal rokok ini? Ya nggak ada. Kalian adalah manusia dewasa yang bisa memutuskan sendiri mau jadi apa dan mau hidup seperti apa, di lingkungan yang bagaimana. Kalau nggak suka sama perokok, menurut gue tidak perlu setengah mati berusaha mengingatkan mereka untuk berhenti.


Ngapain? Buang-buang energi. Mending kita yang memilih untuk tidak bersama. Karena keputusan ini yang lebih bisa kita kontrol.


Gue sama sekali tidak membenci saudara atau ayah sendiri. Gue justru peduli. Peduli dengan diri sendiri lebih tempatnya. Karena kalau kita terus serumah rasanya akan sering sekali terjadi gesekan dan bikin hubungan kekeluargaan jadi menyebalkan. Gue memilih untuk memisahkan diri justru untuk menghindari hal seperti ini terjadi.


Sebenarnya ada hal tidak menyenangkannya juga hidup sebagai non perokok di tengah keluarga yang mayoritas perokok ini. Gue jadi tidak bisa dan tidak betah nongkrong bareng mereka. 


Karena di setiap waktu luang saat bisa bertatap muka, selalu ada rokok yang batangnya masih menyala, selalu terapit di antara jari tengah dan telunjuk itu. Membuat gue kurang nyaman untuk berada berdekatan di lingkup edaran asap yang tidak ramah itu.


Jadi, buat yang masih merokok, it's okay. Tidak ada ajakan yang lebih baik untuk berhenti selain lewat teguran. Tegurannya bisa berupa apa saja? Bisa macam-macam. Mungkin sakit, mungkin juga kondisi ajaib yang bikin sadar, kalau selama ini kegiatan merokok hanya banyak menimbulkan keburukan.


Sisanya? Ya diterima aja. Kalau kalian belum punya power untuk memilih pindah, maka bersabarlah sedikit sampai punya kekuatan itu. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain memilih untuk tidak ikut-ikutan atas dasar kekeluargaan. 


Make your plan, then make your move. Wacaw.


1 KOMENTAR

  1. Saya nggak masalah sama orang yang memilih untuk merokok. Sumpah saya tidak masalah. Tapi saya cukup kesal ketika di tempat kerja ada teman merokok puntung nya dimasukkan kedalam gelas yang biasa saya gunakan untuk minum air galon. Walau gelas keramik nya masih masih bisa di cuci, tapi saya merasa kebiasaan tersebut merugikan orang lain. Nggak pantas ditiru perokok model kayak gini. Ngeselin...

    ReplyDelete

Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni