MULAILAH TERTAWA SEBELUM KALIAN PUBER

Tuesday, October 21, 2014

Surat Terbuka Untuk Mantan

Selamat pagi untuk hati yang selalu tersakiti, selamat siang untuk mantan dan selamat malam kerinduan.

Tak tahu berapa banyak sudah sms yang kita kirim bertautan, tak tahu juga berapa banyak foto yang pernah kita abadikan saat berdua, tak terhingga juga voice note yang kita gunakan untuk sekedar bilang “sayang…kangen” ketika jempol sedang rematik dan tak mampu mengetik.

Surat ini bukan bentuk perlawanan dariku, karena aku memang tidak pernah berniat sedikitpun untuk melawanmu. Bagiku kamu hanyalah seorang gadis lucu dengan rambut sebahu yang pernah mengucapkan sayang untuk ku.

Surat ini adalah bentuk pertanyaan dariku untuk mengetahui mengapa sebuah hubungan yang diawali tanpa pertanyaan “maukah kamu menjadi pacarku” harus berakhir pula tanpa ucapan “lebih baik kita tidak bersama dulu”.

Kupikir putus adalah jalan terbaik yang akan menyelesaikan masalah kita, dengan putus kupikir ini semua akan berakhir. Tapi dibalik itu semua, jauh didalam diriku yang sebenarnya aku merasa menyesal dengan perpisahan ini.

Teruntuk kamu, orang yang pernah aku panggil sayang dulu. Mungkin ketikan di atas lembaran putih Microsoft Word ini biasa kamu sebut sepucuk surat, tapi buat aku yang mengetikannya ini lebih dari sekedar itu. Ini adalah bentuk perlawanan dari orang yang tak rela hubunganya diakhiri dengan alasan yang tak berlogika.

Aku tidak pernah paham konsep hubungan yang sehat itu seperti apa, tapi, sepengetahuanku hubungan yang sehat adalah yang 4 sehat 5 sempurna dan 6 saling menjaga.

Jika dulu saat kita masih bersama, aku terlalu kaku kamu marah, aku terlalu lincah pun kamu juga marah, aku diam kamu lebih marah lagi. Dari semua reaksi yang kamu tunjukan kepadaku, disitulah aku sadar bahwa sifat aslimu hanyalah 2 hal. Marah dan Marah besar.

Kamu selalu membuatku tertekan dengan banyak kemauan aneh, jika aku menolak kamu selalu punya senjata yang sederhana tapi cukup menyakitkan mataku. Iya tatapan matamu yang seolah berkaca-kaca adalah kelemahan terbesar dari apa yang ada di balik kulit dadaku.

Saat kamu mulai kesal, aku selalu mencoba mendamaikan fikiranmu dengan bertanya “kamu kenapa ?” tapi, setelahnya kalimat apa yang keluar dari bibir tipismu “aku nggak papa kok !” sampai sekarang sampai aku mengetikan surat ini aku tidak pernah tau apa makna sebenarnya dari kalimat “aku nggak papa kok”-nya kamu.

Aku tanya ke guru bahasa Indonesia dijawab dengan jawaban ilmiah. Saat aku kuliah, aku tanyakan lagi pertanyaan yang sama kedosen bahasa Indonesia keilmuan ku dijawab pula dengan jawaban yang lebih ilmiah. Terakhir karena putus asa, aku tanya ke guru ngajiku dan guru ngajiku menjawab “la ba’sa”. Aku binggung apa yang diucapkan oleh guru ngajiku, dia pun kutinggalkan sendirian di mesjid.

Belakangan aku tahu bahwa la ba’sa adalah bahasa arab dari “aku nggak papa kok” sunggu guru ngaji yang sangat tidak membantu.

Kamu masih ingat 3 bulan pertama perjalanan cinta kita, banyak suka dan tak ada duka, semuanya tentang kebahagian dan kesenangan. Kala itu aku sadar bahwa dirimu adalah sosok sempurna untuk mendampingiku sekedar minum teh dan memakan biscuit di teras rumah, tentunya dengan rambut kita yang sama-sama sudah mulai memutih.

Yah, tapi mungkin itu tak akan pernah terjadi karena kenyatannya kita tak bisa bertahan, mungkin masih terlalu jauh juga aku berfkir kearah sana, idealis kita membuyarkan bayangan-bayangan ku tentang santai sore diteras itu.

Sekarang, ketika bangun dari kasur yang ada disudut kamarku, aku tidak pernah tergesa-gesa untuk melihat timeline twittermu atau post terbaru dari instagram mu. Aku juga sudah tidak berselera untuk mengecek keberadaanmu lewat path.

Disaat itu semua terjadi, dititik itulah aku sadar bahwa inilah patah hati yang sesungguhnya. Mungkin orang-orang akan mengucapkan selamat kepadaku karena akhirnya aku bisa move on bahkan let go darimu.

Tapi dibalik itu semua, dibalik ketidakperdulianku terhadapmu, disitulah aku sadar bahwa inilah alasan kenapa kita tidak harus bersatu, tidak perlu kujelaskan mengapa aku bisa berfikir demikian karena ini masalah waktu.

Seandainya waktu mempertemukan kita lagi, dan kamu menyapaku dengan senyuman kebahagian, akan kubalas senyuman itu dengan senyuman sebagai orang asing. Karena aku sadar kita tidak mungkin bersama walau hanya seperti “teman biasa”. Bagiku kamu adalah titik hitam diantara titik putih dalam hidupku, atau lebih dalam lagi kamu adalah sisi buruk dalam hidupku yang tak mungkin kubiarkan untuk tertancap kembali dan bernostalgia.

Ketika sepucuk surat ini sudah berada ditanganmu, remaslah dan peluk orang yang ada disisimu sekarang, yang menjagamu lebih dari apapun. Dan orang itu pasti bukan aku.

Sampai bertemu dikehidupan lain semoga semesta bisa mewujudkannya.




Salam hangat dari aku
-Orang yang pernah kamu sakiti dulu

14 comments:

  1. Replies
    1. ah lu sok mikirin mantan padahal.....
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      mantanya cowo juga *...*

      Delete
  2. Ah anjiir, lu jago banget kalo nulis tentang gini.
    Gara gara tulisan ini perjuangan gua move on jadi sia sia. Jadi keinget lagi kan, mantaaan mantaaaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. seengaknya gue nggak sejago lo dalam hal seket riz -__-
      ini juga belajar nulis-nulis ginian wkwkwk.

      ahh sok nyalahin tulisan ini, padahal lo-nya kan yang memang belum bisa let go aiyayay

      Delete
  3. gue mau sedih tapi gue dibuat ngakak sama ini tulisan, gue mau lanjut berjalan tapi dibuat tertahan dengan kenangan garagara ini tulisan, jadi intinya lo emang handal deh dalam membuat tulisan, banyak rasa dalam satu tulisan ini, kalo diibaratkan permen mungkin tulisan ini semacam permen nano nano kali ya manis asem asin rame rasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini memang nano-nano dim, tapi tanpa rasa manis di dalamnya. Yang ada hanya asem, asin dan pahit :(

      Delete
  4. Mantan itu.... apa ya? Makhluk hidup?

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih tepatnya makhluk hidup yang kehidupannya tidak kita harapkan, eaaakkk

      Delete
  5. galau maksimal bang :')
    hidup lo gak jauh beda sama gue bang *peluk Nabila JKT48*

    ReplyDelete
  6. mop'on lah bang, mantan jangan diinget2 :') huhuhuhu

    ReplyDelete
  7. hemz,,baca tulisan ini jadi ingat mantan juga,ceritanya juga hampir sama,tapi ya udah lah jangan biarkan mantan menghambat masa depan yang lebih indah :)

    ReplyDelete
  8. itu salam hangatnya agak................

    ReplyDelete

Terima Kasih buat kalian yang udah mau ninggalin komentar. Nggak perlu nyepam atau tebar link buat dapat feedback dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti bakal kasih feedback balik. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Back to top