MULAILAH TERTAWA SEBELUM KALIAN PUBER

Tuesday, April 5, 2016

Kotak Kematian


“Ahh, nggak mau tau. Zaman sekarang 20 ribu itu nggak bisa beli apa-apa mah,”

“Tapi mamah cuman punya uang segini, sekarang kita udah nggak kayak dulu lagi Rona”

“Ya, tapi masa aku sekolah bawa 20 ribu. Bisa di pake apa uang segitu, beli Lem Rajawali aja cuman dapet 2 kaleng kecil”

“Sementara di pake secukupnya dulu, rumah, kendaraan, pom bensin, bahkan panti pijet punya kita, sekarang udah di sita Bank. Apartemen ini juga cuman tinggal 1 minggu lagi bisa kita tempatin, setelah itu kita harus pindah dan cari kontrakan. kamu harus ngerti. Oh, iya lemnya beli 1 kaleng aja, sisanya di beliin antimo sama kuku bima aja”

Pagi itu, di sebuah apartemen, Rona dan mamahnya harus bertengkar kecil karena masalah uang saku. Rona yang biasanya membawa segepok uang seratus ribuan di dompetnya. Sekarang, mau tidak mau harus membawa 2 lembar uang pecahan sepuluh ribuan.

Alasanya tidak lain dan tidak bukan adalah kebangkrutan yang menimpah mamahnya. Semua aset berharga mereka ludes, utang di bank menumpuk dan menggunung, sama tingginya dengan tumpukan pakaian kotor di tempat laundry……..Laundrya Kandau. ITU LIDYA KANDAU, BANGSAT.

Suasana pagi itu sangat tidak baik, terutama untuk perasaan Rona, ia pergi kesekolah dengan angkot. Di angkot dia hanya diam, tidak kayang ataupun salto belakang *ya ngapain juga di angkot kayang kampret*.

Pandangan mata Rona menyusuri tiap sudut angkot yang ia tumpangi. Ada beberapa penumpang lain saat itu. Ada seorang ibu bertubuh bongsor membawa keranjang, sepertinya beliau baru saja pulang dari pertunjukan sulap, oh maaf, pasar maksudnya.

Tepat didepan ibu-ibu itu duduk. Ada seorang anak SMP lain yang sedang asyik dengan gadgetnya. Jilbab putih yang dikenakan anak itu menjadi pusat perhatian Rona. Semkain lama memperhatikan anak tersebut Rona  seperti menyadari sesuatu. Dia begitu ceria pagi ini. Saking cerianya, anak itu lupa bahwa dia memakai jilbab terbalik. Ini mau sekolah atau main anggar. Rona bingung. Rona pun pindah agama *Lah, apa hubungannya*

Kaki Rona menapak di sebuah jalan beraspal. Jalanan yang setiap pagi ia lewati dengan mobil mewah dan kawalan dari supir tampan bayaran mamahnya. Tapi, hari ini. Di pagi yang hangat ini. Rona harus rela berhenti jauh, bahkan jauh sekali dari lokasi gerbang sekolahnya. Sekolah Rona di Jakarta Timur, Rona berhenti di Jawa Timur. Ia, Rona jalan kaki dari Jawa Timur ke Jakarta Timur, betis Rona meledak. TAMAT. Ohh, tidak-tidak.

Ending biadab macam apa ini.

Lanjut…..

Hal ini ia lakukan untuk menghindari ejekan dari teman-temanya. Rona tidak bisa membayangkan apa jadinya jika teman-temannya tahu kalau pagi ini dia berangkat kesekolah dengan angkot. Lebih parah lagi jika temannya tahu bahwa Rona satu angkot dengan anak SMP yang nyambi jadi pemain anggar. Sungguh, Rona tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.

Sampai di sekolahnya Rona hanya memasang tampang masam. Dia melangkahkan kakinya perlahan menuju lift, untuk mencapai kelasnya yang berada di lantai tiga. Rona memang biasa menggunakan lift, maklum saja, sekolah yang ditempatinya ini adalah sekolah elit, hanya anak-anak dari kalangan menengah atas saja yang sanggup menyekolahkan anaknya disini, nama sekolah Rona adalah SMP ANAK HORANG KAYAH, gimana, namanya menyebalkan sekali bukan.

Pagi itu, di dalam lift, Rona bersama banyak siswa lain yang memiliki tujuan berbeda-beda. Ada yang pergi ke lantai 2 khusus anak kelas 2. Ada yang hendak menuju lantai 3 untuk kelas 3. Ada pula yang menuju ke barat untuk mencari kitab. Oh, ternyata dia bukan siswa smp sini, dia sun go kong.

Di lift yang sesak dan penuh itu, Rona kembali melemparkan pandangannya keseluruh penjuru lift. Kali ini dia tidak mendapati seorang ibu-ibu yang baru pulang dari acara sulap atau anak smp yang menyambi sebagai pemain anggar. Rona pun menghela nafas, karena merasa, akhirnya ia berada di sebuah tempat yang normal.

Di sana, di pojok lift dekat papan tobol lift berada, ia menemukan sosok Regza, teman cowo seangkatannya tapi beda jenis klamin *YAIYALAHH*.

“hey, za” sapa Rona Normal

“ehh iya ron, ronaldo…..” Regza menjawab abnormal

“ih, kor Ronaldo sih, aku Rona, Ronaldo wati” eaaakkkkk

PERCAKAPAN APA INI,HENTIKANNNN.

Oke, serius.

“hey, za” Rona menyapa sambil senyum lima jari

“eh, iya, hay juga ron” Regza menyapa balik, dan senyuman Regza, hampir saja membuat Rona berubah menjadi super saiya 3.

Regza adalah cowo populer di sekolah, dia mantan anggota osis dan juga mantan cewe, ehhhh maaf, maksudnya mantan banyak cewe-cewe hits di sekolah ini. Tampan, kaya, jago olahraga, bisa bernafas pakai kulit kepala, bayangkan, wanita mana yang tidak jatuh hati dengan Regza.

Rona pun termasuk dari daftar wanita yang punya perasaan lebih dengan Regza, mereka sudah satu sekolah sejak SD. Jadi, persahabatan mereka sudah tidak diragukan lagi. Regza sering cerita tentang cewe-cewe yang hendak dia dekati, Rona pun sebaliknya. Kedekatan yang terlalu-lalu inilah yang menjadi dinding pemisah antara Rona dan Regza. Rona mengangap Regza adalah cowo impiannya, sayangnya Regza tidak demikian. Ibarat lift. Regza adalah sisi pintu yang kanan, dan Rona adalah sisi pintu yang kiri. Kapan pun jika ada yang menutup lift, pintu akan tertutup dan mereka akan bersatu. Tapi, kita semua tahu, pintu lift tidak selamanya selalu tertutup. Kecuali lift lagi macet.

FILOSOFINYA GAK NYAMBUNG NYET. BODO AMAT.

***
Lift hampir saja sampai di lantai 3. Dan saat itu jumlah manusia yang mengisi lift ini sudah berkurang banyak sekali. Sekarang lift hanya menyisakan Rona, Regza dan dua orang lain yang tidak mereka kenal.

Satu orang adalah seorang siswa yang sepertinya anak baru. Dan satu lagi adalah seorang office boy. Tapi bukan boy si anak jalanan.

Rona dan Regza sedikit bingung. Kenapa office boy menggunakan lift. Biasanya mereka naik menggunakan jet pack. Oh, salah, maksudnya tangga.

Perasaan Rona mulai tidak tenang. Yang semakin membuat dia takut adalah posisi mereka di dalam lift. Rona dan Regza berdiri tepat di depan pintu, sementara si anak baru dan siluman Ofice boy  berada tepat di belakang mereka.

Sesaat sebelum lift sampai ke lantai 3. Lampu di dalam lift tiba-tiba padam. Rona teriak histeris, dicarinya keberadaan Regza, tapi ia tidak menemukannya. Nginggggggggggg, terngiang suara desingan yang cukup keras di sepasang telinga Rona. Pandangannya membuyar sekaligus menggelap, kepalanya terasa berat dan kakinya melemas hebat. Tiba-tiba suasana didalam lift menjadi sunyi dan senyap. Terikan Rona pun tidak terdengar lagi.
***
Rona pulang dari sekolahnya seperti biasa, senyumnya terlihat tulus dan tanpa masalah. Ia berjalan dengan riang gembira sampai akhirnya tiba di lobby apartemennya.

Rona bergegas menuju lift yang biasa ia naiki sehari-hari. Tidak seperti biasanya, di jam pulang sekolah dan makan siang seperti ini, di depan lift terlihat tidak ada seorang pun yang mengantri, padahal biasanya antrian untuk naik lift ini sudah seperti antrian menuju kasir di super market waktu tanggal muda. Panjannnnng banget.

Karena terlalu bersemangat saat berjalan, handphone yang Rona taruh di saku bajunya, terlempar santun ke udara dan jatuh kebawah *prakkk*. Kontan saja Rona langsung menghentikan langkahnya dan mengais handphonnya yang baru saja jatuh.

Saat ia mengecek keadaan handphonenya, ternyata baik-baik saja, tidak ada yang retak, patah atau lecet. Karena sudah kadung memegang hp, Rona pun membuka tombol kunci di handphone itu.

Muncul notifikasi 3 panggilan tak terjawab dari ‘mamah’.

Rona bingung, tumben sekali mamahnya menelfon, padahal biasanya mereka cukup menggunakan aplikasi chat untuk sekedar bertanya kabar atau saling memberi informasi.

Rona pun kembali berdiri tegak dan siap berjalan menuju lift. Tanpa ia duga, tiba-tiba saja, sesosok wanita yang ia sangat familiyar dengan bentuk tubuh dan uraian rambutnya, berdiri tepat didepan lift.

Rona bingung, sejak kapan mamahnya ada disana. Ia pun tidak mau berfikir terlalu keras toh buat apa juga, tidak ada gunanya.

Dengan langkah cepat dan wajah masam, karena handphonenya baru saja terjatuh, Rona pun mendatangi mamahnya, sambil berkata,

“loh, mamah sejak kapan ada disini, perasaan tadi nggak ada orang loh disini”

Mamahnya Rona tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya tersenyum sambil mengelus rambutnya Rona. Dan secara bersamaan, pintu lift pun tiba-tiba terbuka.

Sambil masih memberikan senyum, mamahnya Rona pun berkata,

“yuk, masuk”

Dengan perasaan yang biasa, Rona pun menuruti perintah mamahnya. Kamar mereka ada di lantai 31. Tapi, saat menekan angka di tombol lift. Rona melihat bahwa mamahnya bukan menekan angka 31, melainkan angka 13.

Rona hanya diam dan menarik kesimpulan sendiri,

“mungkin mamah hendak mampir ke kamar temannya atau mengurus sesuatu di lantai tersebut”

Lift pun berjalan dengan normal dan tanpa hambatan. Hanya mereka berdua yang mengisi kotak besi tersebut. Suasan sangat senyap. Rona sibuk dengan Handphonenya dan mamahnya hanya diam mematung sambil memandang kearah pintu lift.

Lift berjalan normal hingal lantai 10, tetapi saat berada dilantai 11, jalannya lift tidak semulus tadi, terasa tersendat-sendat dan bergetar berlebihan. Hingga di lantai 12 lift masih menandakan ketidaknormalan, bahkan sekarang di tambah dengan lampu yang mati, kemudian hidup lagi, kemudian mati lagi, begitu terus berulang hingga 3 kali.

Di moment ini, Rona langsung berdiri berdempetan dengan mamahnya dan mengengam tangan mamahnya.

Puncak dari segala keanehan ini pun terjadi begitu lift sampai di lantai 13. Lampu lift sekarang benar-benar padam dan mesin lift tiba-tiba ikut berhenti. Rona kaget dan teriak-teriak histeris.

Karena terlalu heboh teriak, Rona sampai lupa bahwa gengaman tangan antara dia dan mamahnya secara tidak sadar sudah terlepas.

Sambil teriak “mamah, kamu dimana, mamah, aku takut” Rona terus meraba-raba seluruh isi lift, tetapi ia tidak menemukan sosok mamahnya dimana-mana.

Rona pun terdiam dan mencoba mengatur nafasnya. Keringatnya mulai mengucur deras. Nafasnya semakin terengah-engah dan suhu bandanya mendadak dingin seperti es.

Sambil terus meraba-raba seisi lift. Rona sekali lagi mencari keberadaan mamahnya.

Rona : mahh, mamah dimana. Aku takut, lift ini gelap sekali.

Mamah : memang kamu yakin aku ini mamah mu?

***
Mata Rona terbuka dengan perlahan, pandangannya masih kabur, telinganya masih berdenging tetapi tidak sekeras tadi, tubuhnya pun terasa lemas sekali. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi dengannya.

“lo nggak papa”

“gue dimana, lo siapa”

“gue anak baru di sekolah lo, tadi kita satu lift”

“ohh, kok gue bisa ada di sini, Regza mana ?

“Mending lo istirahat dulu, ntar kalo udah agak baikan gue ceritain detailnya. Lo udah pingsan 3 hari, lo pasti lemes banget, saran gue mending lo makan yang banyak dulu.  Gue mau balik dulu, ntar gue datang lagi, baek-baek lo, bhayy”

Si anak baru itu pun melongos begitu saja keluar dari ruangan tempat Rona berada. Setelah memperhatikan sekelilingnya, Rona baru sadar bahwa ini adalah rumah sakit. Kepala Rona tiba-tiba terasa sakit saat ia hendak mengingat kejadian apa yang baru saja menimpanya hingga ia bisa terbaring lemas di ruangan yang menyebalkan ini.

Karena tidak bisa melakukan banyak hal, akhirnya Rona pun istirahat sesuai anjuran yang diberikan oleh si anak baru tadi.

Setelah merasa cukup segar dan tubuhnya tidak selemas tadi, disaat yang bersamaan, si anak baru datang dan sekarang ia tidak mengenakan seragam sekolah lagi.

“gimana lo, udah baikan ?

“lumayan, lo tadi siapa, gue lupa?

“gue Raka, anak baru, pindahan dari Bandung”

Setelah perkenalan dan basa-basi nggak penting, Rona pun bertanya kenapa dia bisa ada disini, dan pertanyaan yang sempat ia lontarkan tadi, tetapi belum di jawab oleh Raka. Regza dimana ?

“tadi, waktu kita di lift, lo sama Regza dipukul sama office boy gadungan itu, dia ternyata pasien rumah sakit jiwa, punya riwayat penyakit jiwa yang banyak, mulai dari ganguan mental, diseleksia, skizofernia, sama lemah syahwat. Pokokya banyak deh. Nah, cuman gue satu-satunya orang di dalam lift yang berhasil ngehindar dan melawan dia.”
“ohhh, pantesan, gue juga sempat ngerasa aneh, soalnya nggak biasanya office boy itu naik ke lantai 2 atau 3 pakai lift, mereka biasa pakai tangga. “

“ya, gitu deh, gue anak baru, jadi nggak begitu paham. Oh iya, cowo yang sama lo tadi ada di kamar sebelah, dia lukanya agak parah, soalnya sempat ngelawan pas di pukul. Beda sama lo, sekali kepret langsung mencret, jadi nggak parah-parah amat.”

“hahhh, Regza di kepret juga, ehh maksudnya di pukul juga, tapi dia nggak papa kan, dia masih tampan, mapan, kaya, jago olah raga dan bisa bernafas pakai kulit kepala kan?”

“hahhh, lo ngomong apaan sih? Ia, dia nggak papa, tinggal nunggu sadar aja.”

Setelah kembali pulih dan diperbolehkan untuk pulang, Rona diantar oleh Raka menuju apartemennya. Raka hanya mengantar sampai lobby depan, Rona pun menuju kamar apartemennya dengan menggunakan lift. Di dalam lift itu hanya dia seorang. Semua berjalan normal sampai akhirnya di lantai 10 ia baru ingat bahwa kunci apartemen ini di bawa oleh mamahnya.

Rona pun mengambil handphone dan menyalakannya, handphone itu telah mati selama 3 hari. Saat hanphone itu nyala, banyak sekali notifikasi yang muncul. Tetapi, dari sekian banyak notifikasi. Ada 3 buah pesan dari tantenya, yang membuat Rona tidak tahan membendung air matanya untuk keluar sederas-derasnya. Isini begini.

“Rona, Mamah kamu kecelakaan saat berada di lift apartemen kalian, tali pengait liftnya putus, dan saat itu mamahmu hanya sendirian di dalam lift. Kamu kemana, kenapa Handphone mu tidak bisa dihubungi.”

“Rona, mamah kamu harus di operasi, benturan keras yang terjadi di kepalanya membuat dia banyak kehilangan darah dan butuh transfuse darah”

“Rona, mamah mu udah di surga.”

Selesai membaca pesan itu, lift tiba-tiba berhenti dan lampunya kembali berkedip-kedip, précis seperti yang ia alami dulu. Begitu sampai di lantai 13. Lift terbuka otomatis, dan tidak ada seorang pun yang berada di dalamya.

---TAMAT---

Sorry kalo endingnya begini, gue sengaja nggak menjelaskan secara detail. Biarkan imajinasi kalian yang menjawab potongan teka-teki yang belum terlengkapi ini, azeg.

Cerpen ini adalah hasil omong kosong dari diskusi sampah antara gue, Yoga, Daus dan Adi. Kita berempat punya project bikin cerpen bareng dengan tema ‘lift’ genrenya bebas, dan gue memilih horror. Entahlah, ini udah termasuk horror atau nggak. Kalau mau baca 3 cerpen busuk yang lain bisa langsung klik di bawah sini. Kalo kalian mau ikutan juga bisa langsung bikin cerpennya dan langsung aja publish di blog masing-masing. Udah dulu ya mau lanjut nugas Corporate Identity nih gue, bhay.




26 comments:

  1. GILA!! gaketebak ceritanya asli.
    kerenlah asli, rahang gua pegel ketawa. :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. weheyyyy, makasih yowwwww.
      baek-baek tu rahang, awas copot hahahaha

      Delete
  2. Nggak kebayang dah gimana itu si Rona kalau beneran jalan kaki dari jawa timur ke jakarta timur. hmm bisa mampus di jalan dong xD wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan di bayangkan, ngerik loh. horror ntar.

      Delete
  3. Nggak nyangka kalo horror begini. Baca punya bg Daus dan bg Adi tentang cinta-cintaan, ini lu nulisnya beda sendiri. Horror.

    Ngakak mulu yang ada. Hahahaaa
    Padahal udah terbawa suasana horror pas bacanya, lemah syahwat merubah suasana. Hahahaa
    Segala bawa bawa lemah syahwat. :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. gimana ? horor nggak ?

      office boy yg punya penyakit langka begitu cuman ada dari perbandingan 1000 banding 1 loh. susah itu.

      Delete
  4. CERPEN MACAM APA INI? HAHAHA.
    Lo gak cocok San jadi narator. Cerita yang udah bagus jadi berantakan gara2 dibawain sama lo. Hahanjir. SMP ANAK HORANG KAYAH? FAK! :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini baru cerpen us. hahahahahaha

      iya, gue cocoknya emang menjadi power rangers pink, bukan narator, hmmmmm

      Delete
  5. Bagian paling ngehek: SMP HORANH KAYAH. INI APA COBA :))

    ReplyDelete
  6. Gilaaa!! Komedi horor macam apa ini?!
    Ngakak sampe goblok gara-gara jalan kaki dari Jawa Timur sampe jakarta Timur XD
    Liar banget pemikiran lu, yam..

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga terhibur hahahahah.

      (((LIARRRR)))

      Delete
  7. Untung bukan ibu bapak guru bahasa indonesia yg baca, nilai 0 besar.. Hahahaha. Jangan2 kamu anak di sekolah HORANG KAYAH ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kaga lahhh, gue mah anak menengah ke tengah hahahahaha

      Delete
  8. Wew. Serem juga. Saya kira yang meninggal Rona. Ronaldowati. Menhgibur sih San. Saya mau baca cerpen yang lain juga ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. thx ris heheheheh. Ronaldowati mah emang udah mati. ehh, iya nggak sih

      Delete
  9. Memang sungguh misteri nih kuat apa tidak ya kalau saja cerita ini beneran, ahi hi hi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan dibuat beneran lah, ntar serem banget jadinya. huehehe

      Delete
  10. ganguan mental, diseleksia, skizofernia, sama lemah syahwat what the hell? Kaya banget penyakit si office boy ini. Kenapa endingnya gitu yam? Duh narator tidak bertanggung jawab nih -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. maafkan narator yang cupu ini, fufufufufu

      Delete
  11. bruakakakak wes baikkan nih sama Daus and the gank wkwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, emang nggak pernah berantem kok, kemarin hanya bergurai saja.

      Delete
  12. PERCAKAPAN MACAM ITU KAMPREEETT EMANG LO WOOY!! :)))

    ReplyDelete
  13. Sambil baca ini cengengesan ga jelas, ini komedi horor. Komedi di awal, Horor di terakhir.

    SMP Anak Horang Kayah, sekolah macam apah inih? Halah~ Banyak narasi lucu, ku suka bacanyaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. akhirnya ada yg bilang horor, walupun cuman di akhir hueheheh.

      Delete

Terima Kasih buat kalian yang udah mau ninggalin komentar. Nggak perlu nyepam atau tebar link buat dapat feedback dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti bakal kasih feedback balik. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Back to top