MULAILAH TERTAWA SEBELUM KALIAN PUBER

Tuesday, March 29, 2016

Postingan Terlambat

14   Mei 2015 kemarin, gue memutuskan untuk balik ke Samarinda. Pulang kampung, ketemu orang tua, keluarga dan pacar tercinta. Karena gue kebagian pesawat pagi, otomatis mulai dari subuh gue sudah harus bangun dan mempersiapkan koper yang maha gede dan tetek bengek lainnya.

Gak tau nerveous atau gimana, tiba-tiba, di subuh pagi yang dingin itu gue kebelet boker. Dari dalam kamar mandi, gue mendengar Bayu sedang menerima telfon, gak tau dari siapa.

Setelah selesai, Bayu langsung gedor-gedor pintu kamar mandi, kayak mahasiswa yang turun ke Jalan buat demo kenapa harga sendal jepit bisa naik.

“san, travel kita jam berangkatnya dimajuin satu jam. Bukan jam 7 pagi tapi jam 6”

Gue yang lagi khusuk di dalem kamar mandi, jadi nggak konsen,

“lohh, kok dadakan. Sekarang jam berapa?”

“jam 5 nyet. buruan keluar, gentian.”

Di kosan padahal ada 2 kamar mandi, tapi ntah kenapa si Kampret Bayu ini nggak mau pake kamar mandi yang satunya, padahal semuannya bersih dan baik-baik aja. Jadi selagi dia mandi di tempat yang gue boker-in tadi, gue pindah kesebelah buat melanjutkan acara menabung pagi itu. Mulia sekali bukan.

Gue udah siap, pakaian udah rapi, dengan baju hitam polos, celana bahan setengah tiang dan sepatu hitam polos tanpa kaos kaki, gue siap pergi meninggalkan Malang dan kembali ke kampung halaman.

“yuk bay, turunin semua kopernya dah, jadi gak ribet pas travelnya datang”

“bentar san, aku mau nabur garam dulu di sudut kamar biar gak ada anaconda yang masuk”

“DISINI GAK ADA ANACONDA KAMPRET!!!”

Kondisi Kamar sebelum gue abaikan 3 bulan


Semua barang yang akan kami bawa pulang sudah berada di lantai satu. Sambil menunggu travelnya datang, kita menyempatkan diri untuk nonton tv. Nonton tv pagi-pagi sangat jarang gue dapatkan. Karena pagi kuliah dan tv juga gak punya. Tv di lantai satu adalah tv bersama.

Cukup lama gue dan Bayu menunggu travelnya datang sambil menonton tv. Dari yang awalnya gue nonton sambil berdiri aja, kemudian gue ganti posisi jadi jongkok, karena paha gue pegal akhirnya gue duduk. Kelamaan duduk pantat gue jadi kram, akhirnya gue buka sepatu dan tidur-tiduran kaya kucing manja. Tapi travelnya belum datang-datang juga.

Akhirnya setelah bete level max, barulah travelnya datang. Janji jam 6 datangnya jam stengah 7. Kan jahanam.

Gue dan Bayu segera menghampiri mobil travel. Tiba-tiba pas lagi mau masukin koper, supir travelnya menanyakan sebuah pertanyaan dewa.

“loh, penumpangnya 2 orang mas?”

“yaiyalah pak, nih, kopernya aja 2, gimana sih”

“aduhhh, tapi disini tulisannya satu penumpang aja mas”

Karena bingung, akhirnya gue menyerahkan kwitansi pemesanan. Yang jelas-jelas disana tertulis. 2 REMAJA TANGGUNG.

Gue bingung, supir bingung, Siti Badriah jadi buaya Buntung. Si supir akhirnya menjelaskan, kalo setelah menjemput kita disini. Akan ada 4 penumpang lagi yang mau di bawa ke Surabaya. Dan tentu aja dengan 7 orang penumpang di tambah 1 dengan supir. Mobil Xenia ini gak bakal muat.

Akhirnya si supir menelfon pihak kantornya untuk menjelaskan bahwa ada kesalah pahaman. Gue nggak terlalu ngerti mereka ngomong apa soalnya pakai bahasa Jawa.

Intinya si supir menyuruh gue, Bayu dan satu orang penumpang yang udah duluan dijemput buat turun dulu dan menunggu disini, Karena dia akan kembali ke kantor dan mengganti mobil Xenia ini dengan mobil yang lebih besar. Semoga saja mobil besar yang dia maksud bukan gerobak yang di kasih mesin pompa air, semoga.

Dari yang awalnya gue udah bête nungguin dia datang. Sekarang level bête gue udah meningkat tajam menjadi bête banget. Karena harus nunggu si supir balik ke kantor dan menukar mobil.

Gue males menceritakan apa saja yang gue lakukan selama menunggu si supir kampret ini menukar mobil. Lebih baik kita langsung menuju kejadian ketika gue dan semua penumpang sudah masuk di dalam mobil.

Entah kenapa hari itu emang hari sial gue atau hari sial Bayu atau hari sial kita berdua. Selain di terlantarkan untuk menunggu, kami pun kebagain kursi paling belakang di mobil. Padahal yang di jemput pertama kita, harusnya kan dapat tempat duduk di depan.

Karena nggak mau mengutuki kesialan terlalu dalam, gue pun memutuskan untuk diam aja dan menerima kenyataan bahwa 2 jam perjalanan Malang – Surabaya nanti gue akan duduk di bangku paling belakang. Sebelum mobil melaju meninggalkan kosan, gue sempat mengelus-elus pantat dan kepala gue yang mungkin saja nanti bisa berubah bentuk akibat kejeduk sana-sini

“pantat, kamu yang kuat ya, cuman 2 jam kok, plis jangan kram dan minta boker di tengah perjalanan. Kamu juga kepala, yang tabah, langit-langit mobil ini terlihat bersahaja kok”

Selesai ngomong dengan pantat dan kepala, gue mulai berdoa supaya perjalanan aman dan gue sampai bandara dengan anggota tubuh lengkap dan tempatnya tidak tertukar. Kan gak lucu pas sampai bandara, biji mata sama mata kaki tukeran tempat.

Selama perjalanan, gue selalu inget pesan teman-teman yang berkata begini.

“ati-ati kalo naik travel jawa timuran san, kamu naik kora-kora aja muntah, apalagi di sopirin travel jawa timur, beuhhh, abis lu”




Kalimat ini selalu terngiang-ngiang di telinga dan otak gue. Memang bukan sebuah hal klise lagi kalo supir angkot, bus atau travel lintas provinsi jawa timur itu ugal-ugalan banget.

Tapi, melihat kondisi supir gue sekarang. Rambutnya udah putih, badannya udah keriput, bibirnya udah menghitam dan tangannya ada dua. Gue sedikit lega. Pasti orang tua nggak berani nyetir ngebut-ngebut lah, aman lo san.

Bagaikan tokai yang di tutup kerang mutiara. Begitu udah masuk jalan tol, gue seperti berada di mobilnya Dom, dalam film fast and furious. Gila, supir nya ngebut parah, dia sampai lupa kalau di dalam mobil ini disediakan fasilitas bernama REM.

Bajingannya, selama perjalanan supir ini nggak ada nge rem sama sekali. Gue yang niatnya pengen tidur aja selama perjalanan jadi nggak nafsu. Gila aja, kalo ada orang yang bisa tidur kalo di supirin kek gini.

Ini kalo penumpangnya hamil, nggak perlu bidan anaknya udah keluar sendiri, terus ngetok-ngetok kap mobil sambil bilang “bang, kiri bang, ampun, saya nggak kuat.”

Mobil masih melaju dengan kecepatan saiton, untuk terlihat cool dan nggak ketakutan, gue mencoba mengajak berbicara penumpang lain. Ntah kebetulan atau memang rencana tuhan. Semua penumpang di mobil ini sama-sama punya tujuan ke Samarinda.

Jadilah gue dan Bayu reunian di dalam mobil, bersama orang satu kampung halaman, saling bertukar pertanyaan seputar maskapai yang di gunakan nanti, alamat tempat tinggal di Samarinda dan bertanya soal fisika Nuklir Terapan #LahhBuatApa.

Jika di kelompokan, penumpang di mobil ini ada 3 kelompok dengan maskapai yang berbeda-beda. Ada satu anak cewe berjilbab dan wajahnya enak di pandang bersama ibu dan bapaknya menggunakan citilink, kemudian ada om-om berwajah mesum menggunakan Lion air dan terakhir adalah gue dan Bayu yang kebetulan kebagian Sariwangi air. Oke maksud gue Sriwijaya air.

Satu orang cewe ini ternyata satu kampus dengan gue, sama-sama Maba angkatan 2014, tapi beda fakultas, gue lupa juga dia fakultas mana. Kita cuman ngobrol dikit, soalnya dia duduk di tengah dan diapit oleh kedua orang tuanya, bapaknya di kiri dan ibunya di kanan, gue di pangkunya……supir

Karena asik ngobrol dan tukar-tukar cerita selama di Malang, nggak terasa mobil sudah memasuki gerbang bandara Juanda. Gue senang, karena nggak mati konyol akibat supir yang anti menginjak pedal rem.

Begitu sampai bandara gue langsung, mengucap syukur.

Dari yakin ku teguh…

Hati ikhlas ku penuh…

Akan karunia mu…

Oke salah, ini mah lagu syukur. Gue langsung mengucap alhamdulilah dalem hati. Sebentar lagi gue bakal balik ke kampung halaman tercinta dan meninggalkan sejenak kota rantauan yang penuh dengan kopi dan revisi ini.

Bye Malang and welcome to Samarinda, Yippi.

***

Btw, ini adalah postingan super duper late. Harusnya cerita ini di posting 3 bulan, emmm enggak, enggak, bahkan 10 bulan yang lalu. Tapi ntah kenapa gue lupa buat mostingnya.
Waktu iseng buka-buka file word, ketemu cerita ini, yaudah gue baca sekali lagi, edit sana sini dan terpostinglah. Lumayan buat ngisi-ngisi blog. Segini dulu aja kali ya. Gue mau ngerjain tugas Bahasa Visual dulu. Mata kuliah ini agak biadab soalnya. Kemaren gue kena tumbal buat revisi . Tugasnya adalah menggambar 24 macam ikon manusia, dan gue revisi 24 gambar juga. Ia, gue revisi semuanya, bangke abis lah pokoknya. Daah ahh, bye.

8 comments:

  1. Gila abis itu si supirnya anti nginjek pedal rem bahahaha. Kenapa bapaknya nggak menabrakan diri aja gitu ya di tol? Kesannya kan jadi seru gitu San, tabrak-tabrakin kayak di film sampe muncul percikan-percikan api. Uh, pasti keren abis!

    Wah salut deh postingan udah berbulan-bulan lalu masih niat di posting. Draft di blogku juga ada yang berbulan-bulan lalu tapi masih nggak niat di posting. Nggak tau lanjutannya mau kayak gimana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo dia nabrakin diri, terus didalam mobil masih ada gue, ya gue wassalam juga ntar lah -__-

      ini sebenarnya strategy untuk menutupi kemalasan posting di bulan Maret, semua blogger harusnya punya tabungan postingan masing2, eaaak

      Delete
  2. SUPIR JAWA TIMUR ITU MANTAN PEMBALAP F1!
    LU HARUS NYOBAIN NAIK BIS ANTAR KOTANYA. GUE MUNTAH 3X! BEAT MY RECORD!

    ReplyDelete
    Replies
    1. naik travel yg notabene agak resmi aja gue mau mati. apalagi naik Bis yang anttar kota, mending gue bunuh diri dengan cara minum antimo 16 biji sekaligus.

      Delete
  3. ANJER TEMEN-TEMEN GUE SERING MUNTAH NIH KALO NAIK BEGINIAN. GUE GAK PERNAH LAH! SOALNYA ADA ANTIMO OBAT ANTI MABOK..

    ReplyDelete
    Replies
    1. HANYA COWOK LEMAH YANG MEMBAWA BEKAL ANTIMO DI PERJALANAN. LEMAHHHHHHH

      Delete

Terima Kasih buat kalian yang udah mau ninggalin komentar. Nggak perlu nyepam atau tebar link buat dapat feedback dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti bakal kasih feedback balik. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Back to top