MULAILAH TERTAWA SEBELUM KALIAN PUBER

Tuesday, December 1, 2015

Tentang Balikan

Waktu semester satu dulu, gue dan teman-teman pernah membuat sebuah box kayu untuk tugas kampus. Tugasnya adalah menyambungkan kayu-kayu yang menjadi bahan utamanya dengan paku.

Saat temen gue mencoba untuk menyambungkan kayu yang satu dengan yang lain menggunakan paku, dia tidak berhasil, pakunya bengkok dan hanya menghasilkan lubang.

Kemudian dia mencoba lagi untuk memasukan paku yang berbeda melalui lubang yang sama tadi, berharap pakunya bisa tembus dan menyambungkan kedua kayu yang terpisah tadi, dan ternyata dia berhasil, kayu yang tadinya terpisah sekarang sudah menyatu.

Gue jadi berfikir, ternyata menancakpan paku yang berbeda dilubang yang sama bisa berhasil. Mungkin kasus ini bisa dipratikan dalam masalah percintaan.


Seperti kita mencoba untuk menancapkan hati yang sudah berbeda (tentunya lebih baik) kepada orang yang sama yang pernah gagal bersama kita, tapi berharap hasil yang beda.

Dari kejadian ini gue belajar mungkin balikan sama mantan nggak melulu akan mendapatkan kegagalan. Buktinya seperti paku yang ditancapkan temen gue  dilubang yang sama tadi, bisa berhasil dan menyambungkan kayu yang satu dengan yang lainnya.

Pointnya bukan tentang seberapa lemah paku yang kita pakai atau seberapa kuat kayu yang ingin ditembus. Kuncinya ada dipaku yang ‘baru’ tadi. Kenapa kita takut kembali dengan orang yang pernah gagal bersama kita.

Jika kita kembali tapi tetap membawa kelakuan dan kesalahan yang sama seperti diawal dulu, mungkin gagal akan datang kembali, tapi, gimana kalau kita ubah.

Kita ubah semua kelakuan jelek dan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya nggak perlu kita lakukan semasa pacaran dulu. Walaupun ada pepatah yang bilang :

“jangan mau berubah hanya karena cinta, karena cinta yang sesungguhnya tidak perlu diubah atau mengubah”

Kita mungkin pernah mendengar orang yang punya prinsip seperti ini :

“dia yang mau menerima gue, adalah dia yang menerima apa adanya gue, tanpa ingin mengubah gue sedikit pun”

Emang bener, berubah karena cinta itu seperti mengkhianati kodrat diri sendiri. Tapi kita harus bisa memilah-milah, mana sifat yang harus tetap dipertahankan mana yang dikurangi dan mana yang benar-benar harus dihilangkan.

Jika kita egois, mau menang sendiri, nggak mau mendengar masukan dari orang lain, apakah ada seseorarang yang mau menerima kita apa adanya dengan sifat yang menyebalkan seperti itu.

“…Ada”

Tapi perbadingannya 1 berbanding jumlah tetes air hujan yang jatuh ke bumi.

Kita sering melakukan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya nggak penting, seperti pura-pura lupa dan bohong-bohong kecil.

Nggak munafik gue juga sering gitu, terkadang ada sebuah moment dimana kita emang males banget  bales chat dari pacar, padahal kita tau dia lagi chat, gue pengin ngilangin sifat kayak gini, tapi nggak pernah bisa, susah, ini sifat yang naluriah banget dan susah buat dihilangkan.

Karena nggak bisa dihilangkan, mungkin gue hanya butuh untuk menguranginya saja. Caranya,? yaa, sejauh ini gue belum bisa kasih tau caranya, karena gue udah lupa gimana rasanya punya pacar.

Kembali ke kayu dan paku. Pelajaran lebih dalam yang gue dapat dari tugas kampus kemarin adalah, paku dan kayu adalah dua material benda yang berbeda, tapi dari perbedaan itu malah mereka bisa menjadi satu, menjadi kuat dan susah untuk dipisahkan.

Kita dan calon pasangan pun juga pastinya adalah dua orang yang sangat berbeda, dua orang yang punya pandangan dan presepsi yang pastinya sangat berbeda. Contoh kecilnya, symbol di depan pintu toilet pun kita berbeda…hmmm oke san

Mempersartukan dua elemen yang berbeda memang bukan perkara mudah, tetapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

Pacaran dengan orang yang sangat berbanding terbalik dengan kita pun tidak melulu merupakan kesalahn besar.

Dia suka pedes, gue nggak bisa makan pedes. Dia hobby jogging gue hobi tidur siang. Dia selalu benar, gue selalu salah. Oh iya, ini mah kodrat cowo, bukan sebuah perbandingan. Sorry.
Point dari semua omong kosong gue di beberapa paragraph tadi adalah, mungkin balikan sama mantan gak selalu akan berakhir dengan kegagalan.

Ada Beberapa faktor yang membuat kita takut, atau mungkin malu kembali kepada mantan, seperti takut di bully temen. Iya, kembali sama mantan dan temen-temen udah tau kalau kita balikan, pasti ada aja satu dari beberapa temen kampret ini yang mulutnya pengen dijahit pake jarum panas yang dibakar pake api.

“bro bro, ngapain balikan sama mantan, kan lo sendiri yang bilang. Mantan itu kaya makanan basi yang harusnya ada ditempat sampah, kalo nanti ada orang yang macarin mantan lo lagi, ya berarti dia emang tukang pungut sampah HAHAHAHAHA”

Dan yang macarin mantan gue adalah gue sendiri, berarti guelah tukang pungut sampahnya, biadab, gue baru ngeh.

Tapi, seperti kata pepatah lagi,

“cinta itu prihal kamu dan dia, bukan soal temanmu dan teman dia. Kalian yang tau harus diapakan hubungan ini, kembali rusak untuk yang kedua kali, atau berakhir bahagia suatu saat nanti”

Faktor lain yang membuat kita takut kembali kepada mantan adalah, kita suka membandingkan pacar kita terdahulu setelah putus dengan mantan, dengan mantan yang sekarang. Bingung ? sama gue juga.

Kalo bingung biar gue jelasin bentar. Jadi kalian punya mantan, kemudian putus, kemudian pacaran lagi, lalu putus lagi.

Anggap saja mantan yang pertama itu namanya Rosalinda dan yang kedua namanya Esmeralda. *anjir, ini mah telenovela banget, apa dah*

Nah, setelah putus dari Esmeralda, nggak sengaja kalian kontakan lagi sama Rosalinda, kemudian kalian merasa, sebenarnya apa yang salah dari Rosalinda, apa yang membuat kalian sampai bisa putus dulu.

Kita pun mulai mencari-cari jawabannya, mulai menebak-nebak sekenanya. Ajaibnya, kita tidak menemukan jawaban itu dan spekulasi kita tidak masuk akal semua.

Nah, mulailah tumbuh rasa sayang yang dulu lagi kepada Rosalinda, kita mulai mantap dengan hati ini, mulai membuka hati ‘kembali’ untuk Rosalinda. Baru 70% sih. Karena 30% nya lagi, masih coba di banding-bandingkan dengan Esmeralda.

Begitulah, kita takut kembali kepada mantan, karena masih terus membanding-bandingkan. Mana yang lebih bagus, Rosalinda atau Esmeralda? Mana yang lebih membuat kita nyaman, Rosalinda atau Esmeralda? Atau mana yang Toketnya lebih gede, Rosalinda atau Esmeralda? Oke ini udah mulai ngelantur, maafkan. Buat ade-ade yang baca, toket itu artinya merek korek api ya, oke.

Inti dari segala inti dari tulisan ini adalah bukan untuk memprovokasi kalian, bukan untuk menjerumuskan kalian juga. Intinya adalah, balikan sama mantan bukan hal yang harus menjadi pantangan. Kita boleh punya prinsip, tapi kasihan hati kita. Pedih loh melukai diri sendiri karena prinsip, mati kemakan gengsi sendiri.

Tidak ada salahnya kembali kepada mantan, asal kalian tidak mengulangi kesalahan yang dulu, tidak menyakitinya dengan cara yang sama untuk kali kedua, dan tidak memperlakukan mereka keterlaluan.

Jadi gimana, udah terhasut dan pengin BBM-in mantan ?

6 comments:

  1. wahaha paku bisa nyambung juga sama masalah percintaan.

    Tapi kalau dipikir iya juga. Banyak orang yang berhasil dengan balik ke orang yang lama

    ReplyDelete
  2. Wah pantat ayam bisa aja nih ngomongin masalah balikan dihubung2in sama paku.. mungkin kalo pake paku kuntilanak bisa lebih kuat lagi kali ya, dan pasti bakal susah dicabut, menancap dengan pasti.

    Sebenernya masalahnya ada pada apakah lubang yang sudah tergores itu siap untuk ditancapkan dengan paku yang sama lagi~

    btw, lo bikin postingan beginian bukan semacam konspirasi biar mantan lo baca terus mantan lo jadi terhasut biar mau diajak balikan lagi kan?

    ReplyDelete
  3. Bahahah.. Pembahasan apa ini? Tolooong!!!

    Tapi kalo mantan minta balikan mah tergantung juga. Seberapa banyak ia mampu akan memperbaiki kesalahan. Eaaaakk :P

    ReplyDelete

Terima Kasih buat kalian yang udah mau ninggalin komentar. Nggak perlu nyepam atau tebar link buat dapat feedback dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti bakal kasih feedback balik. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Back to top