MULAILAH TERTAWA SEBELUM KALIAN PUBER

Saturday, August 12, 2017

Ajang Pencarian Bakat dan Suara Misterius

Gue suka nonton acara-acara pencarian bakat. Terutama bakat dibidang tarik tambang suara. Dari yang paling keren kaya American Idol. Sampai yang paling absurd kayak Arab idol. Nonton Arab idol itu udah kaya nonton lomba hafidz. Lagu apapun yang mereka nyanyikan, semua terdengar seperti ‘mengaji’ di telinga gue.

Kalau di Indonesia hampir semua acara pencarian bakat suka gue tonton. Tapi, gue paling suka nonton waktu bagian audisinya aja. Indonesian idol, X-factor, sampai D’academy dangdut.  Tapi yang paling keren waktu nonton audisi ‘aku anak Biskuat’ sih. Itu juara banget. Semua terlihat natural dan tanpa dibuat-buat.

Gue selalu suka nonton bagian audisnya. Nggak tahu kenapa gue suka aja ngetawain penderitaan orang.

Ngetwain kejeniusan orang-orang yang kadang bikin kita geleng-geleng kepala.

Kadang-kadang suka sedih pas nonton acara beginian. Ada satu peserta yang katakanlah suaranya bagus, tapi nggak lolos gara-gara tampangnya membuat kita iba. Atau ada peserta yang suaranya bagus, tampangnya bagus, tapi sayang kisah hidupnya nggak bagus.

Bukannya nyanyi dia malah nangis. Menceritakan ketidak adilan yang diberikan tuhan kepadanya. Sungguh menggugah hati dan mendongkrak rating siaran.

Tapi yang paling seru waktu bagian peserta yang absurd. Harusnya ini audisi menyanyi mereka malah main sirkus. Ada yang nyanyi sambil kayang , ada yang buka baju sambil nyanyi, ada pula yang kayang tanpa pake baju sambil nyanyi. Sampai yang paling parah ada peserta yang pas ditolak juri dia jadi bingung sendiri.

Agnezmo: “maaf ya, kamu belum bisa lolos. Belajar lagi ya. Tetap semangat”

Peserta absurd: “loh, ini acara apa sih?!

Ahmad Dhani: “ini Indonesia Idol!

Peserta absurd: “loh, saya kok bisa ada di sini ya?!

Anang, Ahmad Dhani, Agnezmo serempak berteriak.

“YA MANA GUE TAU, TUTUP BOTOL!!!

Menurut gue, seni menonton ajang pencarian bakat itu ya nonton audisinya. Nonton perjuangan mereka waktu di awal. Kalau sudah tahu-tahu show di panggung gede aja mah kurang asik. Kurang membekas dipikiran, kurang memotivasi diri, kurang-kurangin lah berbuat jahat kepada mantan. #EhMaap.

Sebagai seorang manusia normal. Ada kalanya gue terpengaruh dengan acara ini. Karena memang tujuan dari siaran seperti ini adalah untuk mempengaruhi audience, bawasannya kita juga bisa seperti mereka dan menjadi idoloaaa….Indonesiaaa….

*nyanyi jingle Indonesia Idol*

Terlebih jika ada peserta yang waktu audisi mereka menyanyikan lagu favorite kita. Kemudian juri meloloskan dia. Kemudian di dalam hati kecil ini mungkin kita berkata:

“yaelah, begitu doang diloloskan. Cih. Aku bisa lebih bagus dari dia, kali!

*langsung nyanyi sambil kayang dan tentu saja tanpa baju*

Karena merasa tertantang dan ingin membuktikan kepada dunia. Ikutlah audisi. Sampai di bagian pendaftaran dan dapat nomor antrean, ehh nggak jadi audisi. Pas ditanya, kenapa?
“wadaw, antrenya panjang pak, saya punya varises ini, nggak kuat diri lama-lama”

*tendang*

*bagian varisesnya*

Untungnya gue tidak pernah nekat mempercayai sugesti diri sendiri. Gue sadar tidak ada yang bisa dijual dari suara gue yang cempreng ini.

Kadang suka sedih kenapa bisa punya suara kayak begini. Bukan hal baru kalau gue di bully masalah suara. Ya dikatain cempreng lah, kaset rusak lah, follow young lex di twitter lah. Banyak. Makanya, kadang gue suka kagum sama orang yang suranya bagus dan merdu untuk didengar. Beda dengan gue yang terdengar mau sakaratul maut kalau lagi nyanyi.

Gue pernah lagi presentasi di kelas, selesai menjelaskan materi biasanya ada sesi tanya jawab. Nah, dibagian ini sering terjadi adu argument. Saking ngototnya kedua belah pihak antara gue sebagai penyaji materi dan penanya yang sama-sama nggak mau kalah, gue akhirnya ngomong terus. Sebagai pemateri jelaslah gue nggak mau kalah.

Karena dosen muak melihat gue yang dari tadi ngomong dengan suara cempreng, dosen akhirnya nyuruh gue berhenti:

“Udah, san, udah. Kamu ngomongnya biasa aja, jangan kaya orang mau nangis gitu. Ini cuma presentasi biasa kok.”

SIAPA YANG MAU NANGIS WOYYYY!!!

Habis dibilangin gitu, gue jadi mau nangis beneran.

Punya suara yang cempreng juga membuat tingkat kemaskulinan gue sebagai cowok suka terjun payung. Susah sekali membuat suara yang seolah-olah dalam dan berwibawa.

Padahal dari hasil penelitian yang pernah gue baca, dampak suara cowok itu berpengaruh sampai 38% untuk memikat hati wanita. Makanya wanita suka dengan cowo-cowo bersuara dalam dan tegas, selain enak di dengar. Katanya, tipe suara cowo seperti ini juga menjanjikan keturunan yang banyak.

Beberapa teman di sosial media yang nggak pernah ketemu gue. Kemudian punya kesempatan bertemu pasti suka kaget dengan suara gue. Udah cempreng kalau ngomong gak bisa nyantai.

Ntah kenapa gue suka lepas kontrol kalau lagi ngobrol ghibah. Apalagi obrolannya seru. Adrenalin gue serasa dipacu dan endingnya gue jadi suka teriak-teriak pas lagi ngomong.
Bodohnya. Gue suka nggak bisa membaca kondisi dan situasi.

Permasalahan pertama prihal suara ini terjadi ketika gue punya kesempatan untuk bertemu blogger yang wajahnya mirip Tere Liye asal Balaikpapan. Yogaesce.

Waktu pertama kali ketemu Yogaesce. Gue dijemput sama dia di rumah kakak yang ternyata satu komplek dengan rumah pacar barunya mantan Yoga. Gimana. Informasi yang sangat nirfaedah bukan.

Kayaknya Yoga ini manusia paling buta arah di dunia. Lebih akut buta arahnya dari pada Zoro dalam serial anime One Piece. Kalau Zoro masih mending punya keahlian main pedang. Kalau yoga.

Yoga kalau habis sendawa aja dia harus tidur siang dulu untuk mengembalikan energi yang baru saja terbuang.

Untuk sampai ke perumahan yang sangat gampang ditemukan aja Yoga harus nyasar dulu. Disuruh dari turun gunung, belok kanan. Yoga malah terus. Disuruh jalan lurus ikutin jalan gede dia malah belok-belok. Sumpahin-able banget kan.

Kita rencananya mau pergi ke mekdi. Tapi karena parkirnya ribet kita pun beralih menuju kaefci. Yang letaknya cuman sebrangan dengan mekdi yang tadi. Di sana sedang ramai acara anak-anak yang lagi merayakan ulang tahun. Tiba-tiba gue dan Yoga memasuki bangunan kaefci itu. Yoga berjalan di depan, gue mengikuti dari belakang.

Semua berjalan dengan normal, kita duduk, ngobrol, bahas hal-hal yang lagi keren, pesan makan, dan ghibahin orang.

Waktu itu belum ada hal aneh yang terjadi di sekitaran kita duduk. Sampai pada saat topik pembicaraan berpindah, dari yang awalnya bahas yang lagi rame di blogger saat ini ke pembahasan pertukaran film.

Gue: Yog, ada film apa aja?

Yoga: Mau yang genre apa? Komedi, sci-fi, atau apa?

Gue: Yang Komedi deh, ada apa aja?

Yoga: Nih lo liat sendiri!

*Yoga nyodorin laptopnya ke gue*

Sambil melihat-lihat daftar film yang Yoga punya, gue sambil ngomong-ngomong film apa aja yang gue punya. Jadi ini semacam sesi barter film.

“ehh, Yog, aku ada fake taxi nah, mau kah?”

Gue ngomong begitu.

Ke Yoga.

Dengan suara keras.

Dan lafal yang jelas.

Nggak beberapa detik semua ibu-ibu pada noleh ke bangku kita. Ngeliatin gue dan Yoga yang juga sibuk menoleh ke arah lain. Mencoba pura-pura mencari tahu di mana sumber asli suara yang mengucap Fake Taxi di kaefci siang-siang begini pas di acara ulang tahun anak-anak.

Yoga: Bungulnya nah, bisanya teriak Fake Taxi nyaring betul.

Gue: Hah, manada aku teriak.

Yoga: Kamu teriak, bungul.

Gue: Ihh, bisanya, manada nah.

Yoga: Teriak!

Gue: Enggak!

Yoga: Teriak!!!

Lalu semua pandangan ibu-ibu semakin tajam mengarah ke kita. Karena sekarang kita beneran lagi teriak-teriak.

Nggak lama setelah itu kita cabut dari kaefci dan gue masih nggak percaya kalau tadi gue ngomong Fake Taxi dengan nada berteriak di tengah keramaian anak-anak.



PS: buat yang nggak paham dialog gue sama Yoga. “Bungul” itu artinya bodoh atau bego. “manada” itu artinya tidak ada, atau nggak ada. Gimana. Bermanfaat kan infonya.

12 comments:

  1. Yoga Esce suka nyasar juga? Kutukan sering tersesat itu ngeselin. :(

    Tau lu, San. Pas ngomong suaranya kalemin sedikit gitu. Jangan kayak orang teriak-teriak. Apalagi yang ngomongin pria kemayu pakai lipstik pas bukber di Meruya itu. Syukur aja dia nggak nengok. :')

    ReplyDelete
  2. Buka yutjub dulu, apa beneran ada Arab Idol? XD

    secempreng itukah, sampai bapak dosen menyuruh untuk stop presentasi gegara denger suara yang bernada-nada mau nangis? haha

    ReplyDelete
  3. Nah yang bagian teriak itu udah pernah diceritain sama Tere Liye. Pas ketemu di Malang eh emang iya Ichsan begitu. Di Jakarta lebih parah. 😂


    Tapi baguslah kalau ngobrol sama Ichsan nggak pernah kehabisan bahan. Jadi nggak diem-dieman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo kelamaan ngorol jadi pengen nangis.

      Delete
  4. Ada g peserta audisi yg nyanyi tapi ga nyanyi terus lolos?
    Si yoga juga bisa tau ngayunin pedang, pedang yg bawah sampe nancep ke lobang
    Au lobang apa kali

    ReplyDelete
  5. Follow young lex di twitter, bisa kasih testimoni faedahnya bang? Wkwk

    Kayanya yang soal suara ada benernya, secara, laki-laki dengan suara cempreng dianggap kurang laki. Alhamdulillah engga sendirian :"D

    ReplyDelete
  6. suara lu emang gak karuan, bikin temen yg maen ama lu pura-pura bego dan ngomong, "bentar bu, itu bukan temen saya. Gak kenal"

    *kirim file fake taxi

    ReplyDelete
  7. wa juga kalau ngomong susah bet wolesnya padahal cuman ngomong biasa doang, di kirain lagi treakin maling. maksud hati cuman pen ngomong bae-bae eh di katain marah-marah tapi wa masih bersyukur suara wa nga cempreng wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  8. Eh sama, tapi kalau aku gara2 logat juga sih, kata temen2 yg dari solo, kalau aku ngomong g santai, ngegas terus. Maklum, jawa timuran emang gitu, cuman kalau soal suara cempreng, sorry ye.. Juara lomba nyanyi tingkat RT nih

    ReplyDelete
  9. HAHAHAHAHAHAHAHAHHAHA NGAKAK BACA INI KENAPA AKU BARU BACA SEKARANG SIK HAHAHAHAHAHAHAH GILAK HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA BUNGULAN BANAR HEH SIDIN HAHAAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHHAK.

    Oke, yang soal ajang nyanyi. Kamu nggak nonton The Voice, San? Gils itu bagus juga audisinya. Sama kayak kamu, ku malah lebih suka nonton audisinya daripada pas nyanyinya. Lucu aja ngeliat blind audition. Peserta maupun jurinya bikin ngakak dan bisa mengakrabkan diri gitu. Aku jadi mikir kalau konsep Dangdut Academy rada nyomot dikit konsepnya The Voice di bagian mengakrabkan diri itu.

    Teruuuuuus..... HAHAHAHAHHAHA TAIK AH. Taik banget. Aku juga pernah dikatain lagi nangis padahal aku lagi nggak nangis. Pas nyanyi dikira nangis, pas deklamasi puisi perjuangan dikira nangis. Ya Allah.... sedih bet dah. Terus ya, kalau tiap jalan sama temanku, mereka malu gitu kalau aku udah teriak-teriak kegirangan liat diskonan. Itu iya sih murni teriak. Wajar aja mereka malu. Lah pernah tuh aku jalan sama Dita dan Ikhsan, terus aku ketemu sama Kak Muti, teman kerjaku dulu. Dia di lantai bawah, aku di eskalator. Aku langsung manggil dia gitu kan. Melambai-lambai ke arah Kak Muti itu. Eh taunya pas udah turun dari eskalator, Dita dan Ikhsan nggak ada di sampingku. Pas aku noleh ke belakang, mereka jalan cepet-cepet ninggalin aku gitu. Bangke aku langsung kejar mereka dan mereka bilang kalau mereka malu punya teman kayak aku yang hebohan. Padahal kan aku ngerasa manggil Kak Mutinya nggak teriak-teriak memekik telinga gitu. T__T

    Btw itu mekdi di SCP parkirannya ribet? Hmm. mekdi di Samarinda memang yang terbaiq sih ya! Hidup Samarinda! Yogaesce anak Balikpapan bangke bajingaaaak!

    ReplyDelete
  10. Kayanya kalo kita ketemu dan ngobrol, kita bakal saling teriakin deh. Suaraku pun cempreng, selalu bersemangat, dan susah kontrol ketawa -_- Apalagi kalo mengomentari sesuatu/seseorang yang ada di sekitar, pasti suaraku gede. Kamu gitu juga ga, San? Wkwkwk

    ReplyDelete

Terima Kasih buat kalian yang udah mau ninggalin komentar. Nggak perlu nyepam atau tebar link buat dapat feedback dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti bakal kasih feedback balik. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Back to top