![]() |
| Bukan Yusuf yang gue maksud |
Gue pikir siapa pun orang yang bernama Yusuf pasti tampan.
Semacam pernyataan tak tertulis yang entah sejak kapan gue terima mentah-mentah. Kaya hukum alam. Kaya gravitasi. Kaya kalau hujan ya basah. Kalau namanya Yusuf, ya ganteng.
Akhirnya anggapan itu patah juga.
Nggak perlu gue beri tahu Yusuf mana yang mematahkan opini pasar ini. Kasihan orangnya. Intinya memang nggak selamanya yang diakui pasar secara bersama-sama kebenarannya, lantas selalu benar. Nggak juga.
Waktu pertama kali gue sadar bahwa teori “nama Yusuf pasti tampan” itu bisa gugur, gue nggak langsung menyalahkan orangnya. Pikiran gue justru melompat ke orang tuanya.
Hal pertama yang ingin sekali gue pahami adalah point of view orang tuanya. Orang tua yang memberi nama anaknya Yusuf pasti berharap saat anaknya tumbuh wajahnya bisa menjadi serupawan dan setampan Nabi Yusuf.
Mari kita telaah proses pemberian nama ini. Gue penasaran dengan model orang tua yang dengan keyakinan sepenuh hati meyakini ketampanan anaknya yang baru lahir, kemudian menamainya Yusuf. How visioner and percaya diri they are.
Coba kita bayangkan.
Mungkin saat bayi sudah lahir, bidan menyerahkan si bayi ke ibu. Ditemani oleh suster dan asisten-asisten yang lain. Lantas si ibu pun menggendong anaknya, sambil matanya berkaca-kaca. Campuran antara lega, haru, dan capek yang nggak bisa dijelaskan.
Nggak lama suami sekaligus ayah dari bayi itu masuk. Ikut menambah suasana haru ruang persalinan. Mereka berdua terlihat bahagia. Dunia seperti berhenti beberapa detik.
Sampai pada momen sang istri bertanya pelan:
“Gimana?”
“Gimana apanya?”
“Jadi dinamai sesuai rencana kita?”
Lantas sang suami memperhatikan wajah anaknya sekali lagi. Sebenarnya pada tahap ini dia yakin, bahwa bocah kecil yang digendongnya saat ini sama sekali tidak berpotensi memiliki paras seperti Nabi Yusuf. Wajahnya masih merah, agak penyok, dan belum jelas bentuk akhirnya mau ke mana.
Tapi apa mau dikata.
Untuk urusan nama, banyak suami memilih jalur aman.
“Yaudah, boleh. Kan cowo juga.”
“Yusuf siapa ya? Yusuf aja atau ditambah?”
Di momen ini biasanya bidan dan suster juga saling lirik tipis-tipis. Mereka yang pertama kali melihat wajah si bayi secara HD tanpa filter. Ketika keluar nama Yusuf dari ibunya, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Hanya ke-awkward-an yang mengisi sekat di antara harusnya suasana ruangan.
Nggak mungkin juga tiba-tiba seorang suster atau malah bidannya membantah niat baik seorang ibu.
“Bu, maaf, mungkin bisa dipertimbangkan lagi…”
Nggak mungkin.
Akhirnya tergarislah sudah nasib bayi laki-laki calon penyandang nama Yusuf itu. Yang mungkin saja ketika dia sudah dewasa akan menjadi hal pertama yang dia sembunyikan.
…
Yang menarik dari nama adalah beban tak kasat mata yang dibawanya. Kita sering lupa bahwa nama bukan cuma panggilan. Dia adalah doa. Dia adalah proyeksi. Dia adalah ekspektasi.
Anak yang dinamai Yusuf mungkin tumbuh dengan cerita yang terus diulang.
“Itu lo tau nggak, Nabi Yusuf itu ganteng banget.”
“Makanya mama kasih nama kamu Yusuf.”
Kalimat itu terdengar manis. Tapi lama-lama bisa berubah jadi tekanan halus. Bukan cuma soal fisik. Tapi soal jadi ideal. Soal jadi pantas menyandang nama itu.
Disitulah gue mulai mikir, mungkin bukan soal tampan atau tidaknya si Yusuf tadi. Mungkin soal betapa mudahnya kita percaya bahwa nama bisa menentukan nasib.
Padahal nama cuma kata. Yang menjalani hidup tetap orangnya.
Gue jadi inget obrolan sama teman gue satu waktu.
“San, kalau nama lo diganti dari kecil, kemungkinan hidup lo bakal jadi beda nggak?”
Gue mikir sebentar.
“Kayaknya nggak deh. Paling beda dipanggilan doang.”
“Berarti nama nggak ngaruh dong?”
“Ngaruh sih. Tapi ke ekspektasi orang, bukan ke muka kita.”
Kadang yang berat itu bukan jadi Yusuf yang nggak tampan. Tapi jadi Yusuf yang merasa harus memenuhi cerita tentang ketampanan itu.
Anehnya yang lebih sering membicarakan ketampanan Yusuf bukan si Yusufnya. Tapi orang-orang di sekitarnya. Emang kampret orang-orang di circle Yusuf ini. Aaakkhh
Akhirnya gue sampai pada satu kesimpulan sederhana. Kita terlalu cepat percaya pada narasi kolektif. Nama tertentu pasti begini. Zodiak tertentu pasti begitu. Lahir bulan ini pasti sifatnya begitu.
Padahal hidup lebih berantakan dari itu.
Jadi waktu teori “Yusuf pasti tampan” gue runtuhkan oleh realita, gue nggak marah. Gue justru senyum sendiri. Karena ternyata hidup nggak sesederhana stereotip yang kita simpan di kepala.
Mungkin di luar sana, ada Yusuf yang nggak tampan tapi hidupnya jauh lebih tampan dari ekspektasi siapa pun. Karena pada akhirnya, yang bikin orang terlihat menarik bukan namanya. Tapi bagaimana dia berdamai dengan cerita yang ditempelkan padanya sejak lahir.
Sebagus dan seunik apapun nama seseorang pasti ada kenapa di baliknya, ada orang tua yang rebutan mau memberi nama belakangnya, ada om yang ngotot namanya harus ada kata ‘perkasa’nya atau bahkan tukang kebun yang entah kenapa mau ikut terlibat menitipkan doa dengan menyumbang nama juga, tapi ini bukan soal memberi nama ya.
30DWC

.png)
0 KOMENTAR:
Post a Comment
Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni