Day 25 - Telat


Tumbuh dan hidup di lingkungan yang akrab dengan kata telat bikin gue jadi paham satu hal, telat itu bukan cuma soal waktu, tapi soal sikap.

Aneh memang, karena semua orang tau telat itu nggak enak. Nggak ada yang bangga bilang, “gue hobi telat”. Tapi entah kenapa, praktiknya tetap kejadian. Lagi dan lagi. Sampai akhirnya telat  jadi sesuatu yang diterima, dimaklumi, bahkan kadang dibela.

Gue bukan orang yang selalu tepat waktu. Gue juga pernah telat. Pernah banget malah. Tapi justru karena itu, gue jadi makin sadar, telat itu punya banyak lapisan yang sering nggak kita sadari.

Sebelum telat, biasanya selalu ada alasan. Bangun kesiangan lah. Jalanan macet lah. Hujan lah. Alasan-alasan ini terdengar masuk akal dan sering kali bener. Tapi yang jarang dibahas adalah keputusan-keputusan kecil sebelum itu. Keputusan buat tidur sedikit lebih lama. Keputusan buat berangkat mepet. Keputusan buat mikir, “ah masih sempet ini mah”.

Saat telat terjadi, biasanya disusul permintaan maaf. “Maaf ya telat.” Kalimat pendek yang sering diucapkan sambil senyum. Seolah-olah keterlambatan itu cuma hal biasa yang nggak perlu dibesar-besarkan.

Padahal buat orang yang nunggu, telat itu panjang. Menunggu itu nggak pernah menyenangkan. Ada waktu yang terbuang, ada pikiran yang kepotong, ada juga energi yang bocor. Tapi karena kita hidup di budaya yang terbiasa telat, perasaan itu jarang dianggap penting.

Yang menarik, telat hampir selalu punya hierarki. Ada orang yang kalo telat dimaklumi. Ada yang kalo telat langsung dianggap nggak profesional. Biasanya tergantung posisi. Tergantung kuasa. Tergantung siapa yang lebih “butuh” siapa.

Gue pernah nunggu orang cukup lama, dan waktu dia datang, reaksinya santai. Nggak ada rasa bersalah yang kentara. Kayak keterlambatan itu bukan kejadian yang perlu dipikirin ulang. Di situ gue jadi mengerti, telat juga bisa jadi bentuk ketidaksengajaan yang terus dipelihara karena nggak pernah dikoreksi.

Gue pernah merasa menyesal banget karena telat dalam mengambil keputusan, waktu itu gue dan istri mau mudik dari Depok ke Jogja. Kita sudah berencana akan bangun sekitar jam 11 malam untuk menghindari macet di tol Cikampek. Karena dari beberapa sumber, better jalan sebelum jam 12 atau sekalian setelah subuh.

Berbekal informasi ini, gue dan istri mantap untuk mengambil pilihan jalan sebelum jam 12. Target kita ya pergi di jam 11. Jadi harusnya bangun di jam 10, prepare, kemudian langsung berangkat. Tapi entah kenapa malam itu tidur nyenyak banget. 

Kita baru kebangun jam 12. Karena buru-buru dan hilang fokus, kita sampai lupa kalau ada opsi kedua yaitu jalan setelah subuh. Karena maksain jalan di jam 1 pagi, bener aja. Sampai Cikampek mobil nggak gerak. 

Stuck 

Jalannya bener-bener 10 meter doang per 1 jam kayaknya. Gue jalan jam 1 pagi, nyampe KM 57 itu baru sekitar jam 5 pagi. Bayangin. Padahal kalo normal harusnya perjalanan 5 jam itu gue udah keluar tol Kalikangkung harusnya.

Pengalaman macet karena telat bangun ini bikin gue trauma jalan jam segitu lagi, apalagi pas mudik. Waktu tempuh ke Jogja yang harusnya sekitar 8 sampai 9 jam kami tempuh jadi hampir 16 jam lebih. Mantap sekali

Di sisi lain, gue juga pernah ada di posisi yang ditungguin. Datang telat. Ngomong maaf, dan yaudah lanjut hidup aja. Rasanya ringan. Terlalu ringan, malah. Sampai suatu hari gue mikir, jangan-jangan selama ini gue terlalu sering menganggap waktu orang lain itu fleksibel.

Telat juga aneh karena sering dibungkus dengan kata “santai”. Datang tepat waktu kadang malah dianggap kaku. Terlalu serius. Kurang luwes. Seolah-olah menghargai waktu itu sifat yang berlebihan.

Sekarang gue pelan-pelan belajar ngeliat telat dengan cara yang beda. Bukan sebagai kesalahan besar yang harus dipukul rata, tapi juga bukan sesuatu yang bisa terus dimaklumi tanpa refleksi. Kadang telat memang nggak bisa dihindari. Hidup nggak selalu rapi. Tapi banyak telat yang sebenarnya bisa dicegah kalau kita mau sedikit lebih sadar.

Gue nggak marah sama orang yang telat. Gue juga nggak merasa lebih baik dari mereka. Gue cuma jadi lebih selektif. Lebih jujur ke diri sendiri soal apa yang bisa gue toleransi dan apa yang bikin gue capek.

Apa pelajaran dari cerita soal telat ini? Ya nggak ada juga.

Masing-masing orang punya relasi sendiri dengan waktu. Ada yang ketat. Ada yang longgar. Menurut gue, yang penting bukan soal selalu tepat waktu, tapi soal kesadaran bahwa waktu itu nyata, dan waktu yang kita ambil dari orang lain, nggak bisa dikembalikan.

Sisanya, ya pilihan. Mau terus telat dan berharap dimaklumi, atau pelan-pelan belajar datang lebih awal, walaupun cuma lima menit.

0 KOMENTAR:

Post a Comment

Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Artwork Awards Buku Gue Blogwalking Privacy Policy