Tumbuh dan hidup di zaman yang apa-apa serba ada notifikasi membuat gue jadi lebih sadar kenapa harusnya kita nggak selalu responsif.
Aneh memang, karena hidup gue sekarang sangat bergantung pada benda yang isinya notifikasi semua. Kerja lewat situ, ngobrol lewat situ, hiburan juga lewat situ. Tapi justru karena terlalu dekat itu, gue makin ngerasa notifikasi bukan selalu kabar baik. Kadang malah gangguan yang kita pelihara sendiri.
Gue nggak anti notifikasi. Gue bukan tipe orang yang bangga bilang, “gue nggak aktif di WhatsApp” atau “gue jarang buka HP”. Nggak juga. Gue aktif. Gue buka HP berkali-kali dalam sehari. Tapi yang bikin capek itu bukan HP-nya, melainkan rasa harus segera merespons setiap bunyi yang keluar dari benda itu.
Sebelum notifikasi berbunyi, hidup terasa lurus-lurus aja. Kita ngerjain satu hal, fokus, pikiran nggak lompat-lompat. Tapi begitu notifikasi muncul, walaupun cuma satu getaran kecil, otak langsung kebagi. Ada sebagian pikiran yang tetap di kerjaan, tapi sebagian lagi sudah kepo ini dari siapa, penting atau nggak, urgent atau bisa nanti.
Yang paling ngeselin, notifikasi jarang datangnya cuman sekali. Satu bunyi biasanya disusul bunyi lain. Grup keluarga. Grup kerja. Promo. Reminder aplikasi yang bahkan gue lupa pernah install. Semuanya ngerasa berhak dapet atensi gue sekarang juga.
Saat notifikasi dibuka, isinya sering kali nggak sepenting itu. Kadang cuma stiker. Kadang cuma “ok”. Kadang cuma broadcast yang sebenernya bisa dibaca nanti. Tapi karena sudah dibuka, ya sudah. Fokus yang tadi susah payah dibangun, runtuh begitu saja.
Beberapa orang bilang, “tinggal matiin notifikasinya aja”.
Gue pernah coba. Dan ternyata nggak sesederhana itu.
Karena masalahnya bukan di bunyinya, tapi di kebiasaan mental. Walaupun notifikasi dimatiin, tangan ini tetap refleks buka HP. Kayak ada ketakutan ketinggalan sesuatu. Padahal yang sering ketinggalan justru hal-hal penting seperti pikiran sendiri, waktu sendiri, dan rasa tenang.
Notifikasi juga punya efek aneh ke relasi. Kita jadi terbiasa nuntut respons cepat. Balas lama dikit, dianggap nggak peduli. Padahal bisa aja orangnya lagi capek, lagi mikir hal lain yang lebih penting, atau lagi pengen diem. Tapi di dunia notifikasi, diam itu sering bikin salah paham.
Gue pernah ada di fase ngerasa bersalah cuma karena bales chat agak lama. Padahal nggak ada janji apa-apa. Nggak ada kewajiban resmi. Tapi tetap aja ada rasa “harusnya gue lebih cepat”.
Sampai akhirnya gue sadar, notifikasi itu bukan perintah. Dia cuma sinyal yang bikin dia jadi beban adalah ekspektasi doang, baik dari orang lain, maupun dari diri sendiri.
Sekarang gue pelan-pelan belajar berdamai. Ada notifikasi yang langsung gue buka. Ada yang gue baca nanti. Ada juga yang gue biarin. Bukan karena sok sibuk, tapi karena gue pengen punya kendali atas atensi gue sendiri.
Bukan berarti hidup jadi lebih rapi. Tetap aja kadang kebablasan scroll. Tetap aja kadang ke-distract. Tapi setidaknya gue nggak lagi merasa bersalah karena nggak selalu hadir setiap kali HP gue bunyi.
…
Gue masih ingat zaman covid dulu, karena handphone nggak bisa jauh, dan lagi WFH jadi kalau lagi tidur-tidur lucu di kos terus ada bunyi notifikasi dari slack gue kayak stress sendiri. Apa lagi ini, kesalahan apalagi ini atau kerjaan baru apa lagi ini ya tuhan.
Saking stress nya sama suara notifikasi, gue pernah seharian cari nada notifikasi yang bikin kita nggak deg-degan waktu dengarnya, dan setelah seharian buang waktu itu gue nggak nemu juga suara yang cocok.
Pernah juga gue lagi nyantai di rooftop kosan, handphone waktu itu sedang tidak dalam genggaman gue, tiba-tiba bunyi notifikasi group WA berbunyi. Hari itu gue memang sendang menunggu kabar lumayan penting dari salah satu group WA lah. Gue bergegas mengambil handphone dan membuka group.
Bukannya dapat informasi yang sedang gue tunggu, isinya malah dari group bapack-bapack funny yang share soal ini:
![]() |
| Rasa ingin membanting hp tinggi sekali saat membaca ini. |
Beginilah reaksi teman sejawat waktu screenshoots ini gue upload ke twitter.
![]() |
| Entah kenapa membacanya membuat amarah di dada semakin membara ya. |
Tapi dari semua notifikasi itu, gue paling happy kalau ada bunyi dari notifikasi dari aplikasi bank sih. Oh udah bunyi, artinya udah gajian nih. Yaudah yok jajan dulu.
30DWC

.png)
1 KOMENTAR
Yang paling senang memang bunyi notifikasi dari bank pertanda gajian. Cuma kadang bunyi notifikasi nya sama tapi bukan uang masuk melainkan promo dari bank tersebut 🤣
ReplyDeleteBtw, saya pernah 2 harian nggak pegang hp sama sekali. Kayak "buta" terhadap semua info tapi di sisi lain benar-benar tenang. Kayak kembali hidup di tahun 1995 an
Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni