Day 13 - Jakarta

Sumber: Sediksi

"Apa sih yang dicari di Jakarta? Ngapain mau-maunya hidup di kota penuh polusi dan kemacetan ini"


Pertanyaan model begini sering dijumpai oleh anak daerah yang merantau ke sini. Gue salah satunya. Sebenernya gak ada jawaban yang salah dengan model pertanyaan terbuka seperti ini. Semua tergantung dengan apa yang mau dicari oleh si penjawab.

Kalo gue sendiri?


Gue selalu suka tantangan, gue suka mencoba sesuatu yang menurut gue perlu untuk dicoba. Terlebih sebagai anak yang lahir dan tumbuh di daerah. Kota besar adalah pengalaman hidup yang harus gue dapat. Gue gak bisa kalo cuman liburan di sini. Gue harus tinggal, harus tau gimana rasanya keringetan cari duit di sini.


Gimana capeknya mengejar TransJakarta, pengapnya jadi pepes di KRL, atau awkwardnya saat dengkul ketemu dengkul di angkot. 


Pengalaman lain yang tidak kalah memprihatinkannya juga pengen gue rasain, seperti tidur di atas keramik dingin, bantal cuman terbuat dari gumpalan sarung, dan selimut? Apa itu selimut, nggak pake selimut dong. Gue udah rasain semuanya. Dan itu pilihan gue untuk hidup dengan melewati proses itu.


Beruntung nya gue hanya sebentar di masa itu. Setelahnya gue bisa hidup lebih layak dan nyaman dari keringat gue sendiri. Kamar gue pakai pendingin ruangan, gue punya kendaraan sendiri walaupun beli second, belum pernah kelaparan karena nggak punya uang untuk beli makan. Cukup lah.


Seru tau tinggal sendiri dan memiliki hidup yang bisa diatur sendiri. Di kos gue dulu, semua adalah barang punya gue sendiri. Gue mulai dari 0. Dari cuman datang dengan tas ransel sampai bisa punya banyak barang berharga dan tentu saja barang tidak penting lainnya.


Hidup gak pernah mengenal kata selesai kecuali kematian. Untuk sekarang gue selalu merasa cukup. Tinggal dilingkungan yang enak, kerja di tempat yang seru, semua masih oke-oke aja. Yah so far so good lah. Begitu jawaban gue setiap kali ditanya "gimana-gimana" yang lain.



Jakarta juga membuat gue banyak belajar dan banyak sadarnya, belajar dari orang-orang yang sudah lebih lama hidup di sini, dan sadar juga kok udah lama di sini mereka ini masih gini-gini aja #MalahNgatain #Tendang.


Beberapa teman sesama perantau happy banget tinggal dan berkegiatan di Jakarta, kalau yang suka musik, mungkin hampir setiap hari ada gigs yang bisa didatangi, kalau suka konser, kayaknya hampir tiap minggu juga ada event. Suka lari dan marathon, sama juga dalam sebulan bisa ada 2 sampai 3 event serupa. Pokoknya semua yang kalian sukai di sini kayaknya ada wadahnya.


Nah, gue adalah tipe orang yang tidak bisa menikmati fasilitas itu masalahnya. Nonton konser nggak suka, olahraga yang terlalu rame-rame gitu juga males. Jadi gue suka bingung kalo ditanya weekend kemarin habis ngapain aja. Kalau cuman jawab di kos doang pasti dianggap nggak asik. Parah ya.


Jakarta itu menyediakan apa saja yang kita mau, kita tinggal pilih. Hal ini berbanding lurus dengan pembentukan diri kita juga, mau dilihat sebagai siapa.

Orang gaul kah atau kuper. 


Kalau gue lebih milih jadi orang aja sih, udah cukup. Untuk label apa yang mengikuti di belakangnya biarkan itu menjadi versatile aja. Jadi bisa aja gue dicap sebagai orang baik oleh pengamen yang gue kasih duit goceng sebelum mereka mulai bernyanyi.


Atau gue akan dicap jahat oleh pengamen lain yang sengaja bawa anaknya untuk keliling membawa ember buat di isi duit. Itu pilihan mereka, gue tidak bisa mengontrolnya.



Hidup di Jakarta juga punya dinamika yang cukup aneh. Terutama soal duit. Lebih spesifik lagi soal utang mengutang. Gue pernah ngutang, pernah juga memberi utang. Beberapa balik, beberapa lagi ya hilang begitu aja. Menguap menjadi chat Whatsapp yang cuman di read aja.


Perkara utang mengutang ini juga menjadikan gue orang yang sangat selektif untuk membantu dan minta bantuan ke orang lain. Jakarta ini keras, kita nggak tau siapa yang benar-benar teman dan siapa yang bukan.


Gue pernah ngutangin orang zaman covid. Nominalnya buat gue waktu itu lumayan. Kejadian ini akan gue ingat terus, karena dari kejadian ini pandangan gue soal duit, teman dan perutangan duniawi berubah 180 derajat.


Begini ceritanya,


Sebut aja namanya Mamat. Gue kenal Mamat dari grup badminton bapak-bapak komplek dekat kos gue. Karena main badminton memang salah satu hobi gue, jadi biar nggak ketinggalan info main atau sparing gue akhirnya join grup itu.


Awalnya gue tidak terlalu akrab dengan Mamat, kita cuman pernah main bareng beberapa kali. Sampai ada di suatu momen kita lagi sparing di daerah lain. Waktu itu pemain dari grup kita baru sedikit yang datang jadi sambil menunggu temen-temen yang lain datang, kita ngobrol-ngobrol sedikit.


Kurang lebih Mamat cerita struglingnya dia di Jakarta, dia masih muda, waktu itu usianya bahkan di bawah gue, kalo nggak salah baru 22 atau 23 tahun. Tapi anaknya sudah dua. Gokil kan, gue yang waktu itu masih umur 24 salut sekaligus respect. Berani banget udah nikah dan punya anak padahal pekerjaan belum jelas.


Dia cerita kalau kerjanya memang serabutan, pernah jadi kuli panggul pasar, pernah jadi OB, pernah juga jadi pelayan resto. Hidupnya benar-benar penuh tantangan. Sampai sini gue masih biasa aja, sebelum dia nanya gue berasal dari mana dan dari sinilah semuanya berubah.


Gue bilang aslinya Samarinda. Terus pas dengar kata itu keluar dari mulut gue, matanya langsung berbinar dan berkata:


“gue pernah kerja di sana bang, 6 bulan jadi OB di perusahaan sawit” pungkas mamat excited


“Oh ya, kapan itu? Tahun berapa?” Balas gue singkat.


“Hmm kayaknya 2018-an deh. Di sana kerjanya capek banget, makanya gue cuman tahan 6 bulan bang”


“Emang dulu lu kerjanya di daerah mana?”


Pertanyaan gue di atas sebenernya cuman mau mastikan, apakah dia emang bener-bener pernah kerja di sana atau cuman ngarang aja. Soalnya di Samarinda harusnya nggak ada perusahaan sawit, adanya pasti di daerah lain, dan gue tau nama daerah itu nggak umum. Cuman orang yang benar-benar pernah ke sana aja yang tau.


“Gue di Muara Wahau dulu bang, dari bandara Balikpapan masih jauh pokoknya. Terus jalanan menuju ke sana juga jelek banget, terus….”


Gue potong omongan Mamat sampai sana, karena setelahnya emang hanya umpatan dan keluhan soal kota itu yang keluar dari mulutnya.


Tapi mendengar dia menyebutkan nama kota dan pengalaman menuju ke sana yang memang sulit gue langsung percaya sih. Karena apa yang dia bilang emang bener, jadi okelah gue menganggap anak ini jujur dan bukan pengarang handal.



Setelah momen gue dan Mamat ngobrol itu berlalu, kita udah lama nggak pernah ketemu lagi, karena selalu selisih waktu datang. Misal dalam 1 Minggu ada 2 kali main bareng di hari Rabu dan Sabtu, gue cuman datang yang Sabtu, Mamat datang yang Rabu, jadi ya gitu kita nggak pernah ketemu lagi.


Tiba lah di siang hari bolong. Dunia lagi covid, gue lagi ngadem di kos karena WFH, ada nomor asing tiba-tiba nelfon gue. Iseng telpon itu gue angkat, ternyata dari ujung telepon terdengar suara Mamat. Suaranya gemetar dan udah ngomong sambil narik ingus gitu. Kalian kebayang lah ya bagaimana cara dia ngomong.


Intinya dia nggak ngomong banyak, dia cuman nanya gue ada di kos apa nggak, terus minta shareloc lokasi kos gue di mana. Gue emang nggak pernah memberi alamat tinggal ke orang-orang yang bukan ring satu gue sih, ya buat apa juga. 


Sebenarnya gue nggak mau ngasih alamat, gue pengen nanya langsung aja, kenapa dan ada apa, tapi katanya dia nggak bisa cerita di telfon. Jadi dengan berat hati gue kasih lah lokasi gue ke Mamat. 


Nggak beberapa lama dia datang pakai motor Nmax keluaran baru. Parkir di kos dan gue ajak ke ruang tamu. Awalnya obrolan biasa, sampai ketika dia mulai nepok pahanya sambil cerita kalau anaknya lagi masuk rumah sakit. Dia tunjukin foto anaknya lagi dirawat. Gue belum tau arah obrolan ini mau ke mana sampai dia bilang, anaknya harus tindakan dan butuh biaya, karena BPJS nggak cover itu. 


Gue lupa sakitnya apa, cuman karena iba dan ada ikatan dia pernah ke Samarinda (ini sungguh jangan ditiru sih, ya masa mentang-mentang orang itu pernah ke kota kelahiran lu, lu ngerasa jadi punya tanggung jawab moral buat bantuin. Jangan ya dek ya, jangan) jadi gue ngerasa kasihan juga. Jadi gue bantuin aja.


Yang bikin gue percaya adalah, dia bahkan sampai mau menaruh motornya di kos gue untuk jaminan. STNK sudah dikeluarkan tuh dari dompet, gue yang polos dan bodoh ini malah bingung, ngapain motor segede ini mau ditinggal di kos gue, udah parkiran kos gue sempit, malah nambah sempit nanti. Akhirnya gue bilang bawa aja motor lu, kan sulit juga mau wara-wiri kalo nggak ada motor.



Hari itu pun di tutup dengan Mamat pamit dari kos gue setelah uang yang dia mau pinjam gue transfer. Gue nggak minta syarat atau jaminan apa-apa jadinya. Gue cuman pengin diupdate aja, setelah operasi keadaan anaknya gimana.


Janjinya bulan depan akan langsung dibalikin, gue mengiyakan, kesepakatan terjadi dan wushhh Mamat pun pulang dengan ngebut membawa Nmax keluaran terbarunya cabut dari kos gue.


Gue kembali menjalani hidup yang membosankan sebagai pekerja WFH. 


Satu minggu berlalu kok nggak ada update kabar soal anaknya, apakah sudah dioperasi atau belum. Gue belum ada ketakutan soal uang kaga bakal balik nih, gue lebih takut anaknya gak tertolong. Jadi gue chat lah untuk nanyain apakah anaknya sudah pulih lagi atau belum.


Jawaban nya waktu itu singkat, dan dia emang fotoin, tapi fotonya tidak menjelaskan apa-apa. Cuman foto kasur rumah sakit yang ada anak kecil baring tapi ngadep samping. Ya kan semua anak-anak kalo ngadep samping bentuknya sama, mana gue tau itu anaknya apa bukan.


Karena nggak mau panjang, yasudah, gue anggap anaknya sudah sehat lagi.


2 minggu berlalu, tidak ada kabar…


3 minggu masih tidak ada…


1 bulan, kok checklist satu.


Ya, setelah satu bulan Mamat tidak ada kabar dan hilang begitu saja. Yang lebih parah ternyata bukan cuman gue yang diutangin di anggota grup badminton itu, ternyata ada 4 orang yang mengalami hal yang sama. 


Modus operandi Mamat ini akhirnya terbongkar setelah satu bapak-bapak mengirim broadcast message ke grup yang menginfokan bahwa siapapun yang mau diajak ketemu sama Mamat untuk keperluan pinjam uang jangan ada yang mau, karena udah ada 3 orang yang lapor.


Ternyata cuman gue yang belum bilang kalo gue juga korban. Akhirnya kita semua korban Mamat ini sepakat ketemuan di jadwal Rabu main badminton.


Semua pada buka-bukan kena tipu berapa, tidak lupa dibarengi dengan muka kesel dan sambil marah-marah:


“Wah, saya kena 700 ribu nih, mana itu uangnya buat bayar sekolah juga”


“Saya kena 300 ribu pak, uang modal jualan padahal”


“Kampret emang si Mamat, saya kena 1 juta pak. Mana istri nggak tahu lagi”


Gue yang mendengar convo itu bingung dan cengok sendiri. Anjir, dari 4 korban 3 diantaranya cuman minjemin dikit. Pas giliran gue ditanya, gue cuman nunduk sambil bilang dengan suara kecil:


“Saya pinjemin 5 juta pak”


HAHHHHHHHH


3 bapak-bapak yang tadi ngedumel kompak kaget dan tambah marah-marah.


Awalnya gue nggak terlalu sedih karena korbannya bukan gue doang, tapi begitu tau korban dengan nominal terbesar itu adalah gue, gue jadi kesel lagi. Emang bangkai si Mamat.


2021 gue coba sempat nagih lagi, tapi apa daya. WhatsApp gue berakhir centang satu. Dahlah keep smile aja ini mah.




0 KOMENTAR:

Post a Comment

Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Artwork Awards Buku Gue Blogwalking Privacy Policy