Day 23 - Musik

Sumber

Tumbuh dan besar di dunia yang selalu diisi dengan musik dimanapun kita berada bikin gue sadar sama satu hal, musik  nggak selalu soal lagu, tapi soal momen.

Lagi di kafe nongkrong, ada musik.

Di KRL jug ada musik.

Sampai ada masa di Lampu merah Depok, waktu lagi nunggu lampu berubah dari merah jadi ijo ada musik juga dari Walikota. Gokil nggak tuh. Nggak bisa nyumbang dana buat kemajuan kota dia malah nyumbang suara. Apaan dah.

Musik sering dibicarakan dengan nada sakral. Musik katanya bahasa universal. Musik katanya penyelamat. Musik katanya bisa menyembuhkan. Gue nggak sepenuhnya mengerti itu. Tapi buat gue, musik lebih sering sebagai latar kehidupan yang menandai titik-titik perjalanan hidup gue. 

Kalau dengar lagu dari band Malaysia seperti Iklim dan Saleem, gue jadi inget zaman SD, om gue yang mengenalkan lagu-lagu ini di kehidupan gue. Liriknya sekilas memang mirip dengan bahasa Indonesia, tapi jelas beda, karena bahasa mereka kan melayu.

Waktu lagu westlife lagi booming, gue inget kakak kedua gue yang memperkenalkan, karena dia cewe, maka referensi musiknya jelas ke arah cowo-cowo ganteng pada masa itu, westlife jadi pilihan dia, dari situ gue tahu kalau ada boyband lain yang dekat dengan era itu seperti Boyzone, Backstreet Boys, 'N Sync, Blue, dan A1.

Semua ini gue tau ya akarnya dari dikenalkan westlife dulu.

Atau abang gue yang pertama, hobinya dengerin band Indonesia kaya Jamrud, Slank, dan tentu saja Sheila on 7. Band yang waktu dulu untuk mendengar lagunya harus punya kaset. Abang gue dulu sampai rela nabung buat beli CD orinya semua band ini, biar dapat bonus poster, terus posternya di tempel di dinding kamar. Keren.

Gue bukan tipe orang yang hafal teori musik. Nggak ngerti tangga nada. Nggak bisa bedain bass dan gitar dengan yakin. Pengetahuan gue soal musik berhenti di level: ini enak didengar, ini nggak. Nah ini yang nyanyi cakep nih follow ah.

Waktu masih remaja, musik adalah identitas. Lagu yang lo dengerin menentukan lo anak mana. Kaos band jadi penanda. Playlist jadi pernyataan sikap. Ada kebanggaan aneh waktu bisa bilang, “gue nggak dengerin musik mainstream”. Padahal ujung-ujungnya tetap nyanyi lagu yang sama kalo lagi nongkrong.

Gue pernah PDKT sama cewek terus kita tukeran playlist Spotify. Gue fikir dulu referensi musik gue udah mantep banget, di playlist itu ada lagu-lagu dari MCR, Tame Impala, Imagine Dragons, bahkan John Mayer. Musisi yang gue dengerin itu bisa dibilang mainstream kali yak, yang mostly orang kenal dan hafal lagunya.

Gue pikir playlist ini nggak begitu malu-maluin lah. Sampai pas gue lihat playlist dia buset, isinya nggak ada yang gue tahu. Band-band seperti Hooverphonic, Creedence Clearwater Revival, atau Nouvelle Vague. Itu band yang jangankan denger lagunya, tau ada band begitu aja gue nggak tau.

Dari situ gue jadi suka juga dengan lagu seperti In a Manner of Speaking, Mad About you, atau Proud Mary. Lagu-lagu enak yang kalo di dengerin itu kaya bikin keren hahaha.

Setelah udah nggak begitu dekat dengan cewek itu kita masih tetap saling follow playlist di Spotify. Sayangnya udah 4 tahun terakhir gue udah nggak subscribe Spotify lagi dan beralih ke Youtube Music, biar bayarnya sekalian. Tim Youtube Premium Family nih bos.

Gue sering ngalamin momen random di mana satu lagu muter dan tiba-tiba otak kelempar ke masa tertentu. Bukan ke kejadian penting, tapi ke hal-hal kecil. Jalan pulang sore hari. Motoran malam. Duduk sendirian di kamar. Musik kayak punya kemampuan buat nyimpen memori tanpa kita sadari.

Tapi musik juga bisa jadi gangguan. Playlist yang salah bisa bikin suasana berantakan. Lagu terlalu ceria pas lagi capek, malah bikin kesel. Lagu terlalu sendu pas lagi kosong, malah bikin tenggelam. Di situ gue sadar, musik itu kuat, tapi nggak selalu netral.

Sekarang ini, musik juga jadi konsumsi cepat. Lagu baru keluar tiap minggu. Trending sebentar, lalu hilang. Kita dengerin bukan karena suka, tapi karena muncul di mana-mana. Ada tekanan halus buat selalu update, biar nggak ketinggalan.

Gue pernah ada di fase maksa dengerin lagu yang katanya bagus. Dibilang “wajib denger”. Dibilang “karya”. Gue dengerin, gue coba pahami, tapi tetep nggak nyantol. Setelah fase itu gue udah mulai berhenti dengerin musik kekinian, gue mulai memegang prinsip dengerin musik yang gue suka dan enak menurut gue aja.

Sekarang gue malah lebih suka dengerin musik-musik yang direkomendasikan youtube musik aja. Gue nggak tau lagu apa selanjutnya yang akan diputar. Seringkali gue betah dengerin, nggak jarang juga langsung gue skip karena ya musiknya nggak masuk di kuping gue.

Kemarin sore, gue nemu lagu yang enak dan entah kenapa gue baru tau, lagu Indonesia lagi, lagu dari sebuah grup band indie (sepertinya). Judulnya Strange Is the Song in Our Conversation dari band Monkey to Millionaire. Coba dengerin, siapa tau kalian suka juga.

Musik sering jadi pelarian. Dipakai buat nutup suara lain. Suara pikiran sendiri, misalnya. Headphone dipasang bukan buat dengerin lagu, tapi buat nggak denger apa-apa lagi. Musik jadi tembok tipis antara kita dan dunia.

Di rumah, musik punya cerita sendiri. Ada lagu yang selalu diputar pagi-pagi. Ada lagu yang identik sama nyetir jauh. Ada juga lagu yang nggak pernah diputar lagi karena terlalu banyak kenangan di situ. Bukan karena sedih, tapi karena capek mengulang.

Sekarang gue ngerasa, hubungan gue sama musik jadi lebih jujur. Gue dengerin kalo pengen. Gue matiin kalo nggak. Nggak ada kewajiban buat selalu ada suara di kepala. Kadang diam lebih dibutuhkan.

0 KOMENTAR:

Post a Comment

Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Artwork Awards Buku Gue Blogwalking Privacy Policy