Masuk usia 30 itu gue pikir hal yang paling krusial berubah adalah soal pola pikir dan kebiasaan. Ternyata tidak hanya itu, tubuh juga mengalami perubahan yang bikin kaget dan denial.
Kalau dulu gue bisa sanggup untuk melakukan kegiatan yang memerlukan banyak gerakan combo sekaligus. Sekarang untuk sekedar bangun dari kursi aja gue harus cari sesuatu yang bisa dipegang dulu.
Paling terasa kalau mau berangkat kerja dan kudu mengikat tali sepatu. Lipatan perut, pertemuan antara dengkul dan dada. Semuanya terasa begitu menyiksa. Padahal bobot tubuh gue masih belum di tahap yang gendut banget. Tapi itu aja udah berasa enggapnya. Gimana mereka yang memang obesitas.
Gue jadi faham kenapa skechers mengeluarkan produk sepatu slip on atau yang bisa langsung dipakai, yang bagian belakang tumitnya keras, yang nggak harus diikat dulu. Ini mah bukan kemajuan teknologi, ini mah buat memudahkan orang-orang gendut biar nggak kesulitan waktu mau ngiket tali sepatunya.
Dampaknya orang yang harusnya sadar kalau dia udah kegendutan jadi lupa diri dan merasa kalau semua kegiatan masih asik-asik saja kok dilakukan.
Tapi sebenarnya selain fisik, perubahan yang paling terasa ketika udah masuk usia 30-an itu, hasrat untuk mencoba-coba hal baru dan berpetualang itu kok kadarnya sangat jauh menurun ya. Beda banget waktu usia masih belasan atau awal dua puluhan.
Begadang nonton liga Champions. Ayok
Malam ini langsung ke pulau Pahawang. Gas
Besok langsung muncak ke Ciremai. Berangkat.
Setelah masuk usia tiga puluhan. Apalagi sudah menikah dan punya anak. Wahh pertimbangannya jadi banyak banget. Ya walaupun part punya anaknya belum terasa ya di gue.
Kalo langsung cabut aja kerjaan gimana? Kalo langsung jalan aja, abis agenda masih bisa pulang dan langsung switch jadi budak korporat lagi nggak ya?
…
Pilihan makanan dan minuman juga sudah mulai bergeser. Dulu yang bersoda dan berasa. Sekarang. Kayaknya air putih tidak seburuk itu.
Kalau dulu tiap laper ya makan. Aman. Tidak ada itu ketakutan dan pantangan. Sekarang?
Aduh, gue udah makan gula segini hari ini. Udah nggak bisa ngemil lagi ini mah.
Timbangan kalori online dari aplikasi penghitung kalori jadi sahabat karib untuk mengentaskan over supply kalori di tubuh.
Ngomong-ngomong soal makanan dan minuman. Kayaknya gue cukup pede untuk bilang bahwa gaya hidup gue dari zaman kuliah itu sehat banget, ya kalau kata gen z mah pola makan gue ini MISKIN ya.
Gue tidak suka minuman beraneka rasa. Dalam sebulan mungkin bisa dihitung jari. Minum teh pun gue tidak suka pakai gula. Lebih suka yang tawar dan panas.
Gue juga tidak begitu suka minuman dingin, kecuali ya memang minuman itu normalnya harus dingin kaya es teler atau es batu. Ya masa es batu hangat.
Kalau minuman itu ada versi panasnya pasti gue pesan yang versi itu. Cairan yang masuk ke tubuh gue itu jarang bangat yang aneh-aneh. Air putih buat gue adalah segalanya, bestie, teman sampai mati pokoknya.
…
Sebagai remaja yang melewati boomingnya minuman-minuman kekinian mulai dari boba, es kepal milo, thai tea, mixue. Gue tidak pernah yang begitu getol semangat untuk mencobanya. Pernah nyobain beli, berakhir kepala gue pusing karena kebanyakan gula kayaknya. Setelah itu gue lebih sering jadi penonton aja untuk minuman-minuman kekinian ini.
Padahal di rumah dulu, gue dibesarkan oleh keluarga yang selalu akrab dengan sirup manis dan es batu. Hampir semua anggota keluarga kalau makan pasti ditemani segelas seminim-minimnya air dingin. Kalau enggak ya es teh, atau es sirop. Pokoknya harus berwarna dan tentu saja manis.
Cuman gue dan bokap kayaknya yang tidak begitu suka semua kefanaan dunia itu, asik.
Beruntungnya gue bertemu istri yang juga sadar dan peduli sekali dengan kesehatan. Jadi kita berdua sangat cocok soal ini. Kalau lagi pergi keluar kita nggak pernah lupa membawa tumbler kecil isi 400-500 ml air putih untuk diminum. Awalnya sempat merasa bersalah karena…..kok isinya cuman 500 ml, harusnya bawa yang 2 liter nggak sih.
…
Karena suka minuman yang hangat cenderung panas, gue suka sekali dengan minuman-minuman daerah yang otentik gitu, seperti waktu di Malang gue suka beli tahwa, atau ketika di Jogja ada yang namanya wedang uwuh. Isinya rempah-rempah yang mostly kayu dan dedaunan yang sudah dikeringkan, diseduh air panas nanti akan keluar warna merah. Keren sih kaya berasa minum bensin kalau dilihat dari warnanya.
Sejak tinggal di Depok, gue sudah jarang minum-minuman yang tradisional gitu. Selain karena sulit nyarinya, ya memang kayaknya nggak ada yang jual deh. Sampai akhirnya pulang kerja gue lewat di kawasan food court sebelum masuk area perumahan.
Dulunya di lokasi ini ada penjual ronde atau wedang jahe gitu. Tapi entah kenapa tiba-tiba aja tutup, dan lapak itu sempat kosong sebulan.
Kemarin pas gue lewat ada rombong baru yang berjualan dan menamai dirinya Jamu Tradisional Nusantara.
Wah ada jamu. Menarik juga nih. Gue nggak langsung melipir buat beli, tapi seperti kebiasaan suami Indonesia, foto dulu terus tanya istri mau nyoba nggak. Tanpa banyak pertanyaan istri gue semangat buat mencoba. Jadilah gue pulang dulu, jemput istri dan kembali ke lapak jamu itu untuk minum di lokasi aja.
Karena jamu memang enaknya diminum langsung nggak sih, kalo dibungkus kaya kurang afdol.
Karena pemilik lapaknya masih muda dan orang jawa, istri pun langsung nanya-nanya kepo. Kaya ngapain mas-mas Jawa ini jualan jamu tradisional di Depok. Kenapa nggak jualan thai tea aja.
Asyik mengobrol kita sampai lupa waktu kalau gerbang menuju perumahan akan ditutup kalau sudah pukul 8 malam. Akhirnya sebelum gerbang ditutup kita cabut dan berjanji akan mampir lebih sering ke kedai jamu itu.
Malam itu pun ditutup dengan pulang ke rumah sebelum portal dikunci dan tidur nyeny
ak dengan kondisi perut hangat karena baru diguyur jamu. Mantap.


.png)
0 KOMENTAR:
Post a Comment
Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni