Lucu melihat begitu banyak sekolah SMK yang tumbuh di daerah gue. SMK semakin banyak tapi lapangan pekerjaan yg sesuai dengan bidang keilmuan yg ditempuh sedikit, bahkan nyaris nggak ada.
Banyak SMK dengan jurusan aneh-aneh yang akhirnya gak bisa diserap di dunia kerja, dan endingnya kerja menyimpang.
Ini bukan berarti pilihan karir harus linear dengan jurusan saat kuliah. Tapi tentang persebaran dan kesuksesan si smk itu.
Gue sendiri lulusan SMK. Jurusan Multimedia. Di sekolah gue, jurusan Multimedia hanya 1 kelas dan dihuni sekitar 30 orang. Dari 30 orang ini, yang kuliah dan kerja sesuai dengan keahliannya nggak sampai 10% karena seingat gue cuman gue dan 1 orang teman lain yg bekerja linear dengan pendidikannya. Gue dibidang digital sebagai product designer di Jakarta, dan temen gue sebagai kameramen di TV nasional daerah kami.
Ini cuman diangkatan gue, gak tau yg di atas atau di bawah gue, gak tau mereka sekarang kesibukannya apa. Tapi kebanyakan akhirnya bekerja di bisnis retail. Lebih cepat masuk dan menerima segala jurusan dan pendidikan minimal SMA/SMK
Maksud gue, goal menciptakan SMK ini bener-bener gak works di beberapa daerah. Tapi kenapa gak pernah ada evaluasinya. Di kampus gue, setiap tahun ikatan alumninya akan menyebar angket atau semacamnya untuk diisi perihal kesibukan alumninya yg sudah lulus, bekerja di mana atau membuka usaha apa.
Sementara di SMK gue gak pernah ada pengumpulan data seperti ini, padahal menurut gue ini bisa dicoba dan dilakukan, untuk menjadi gambaran buat calon-calon lulusan SMK yang baru.
At least mereka punya gambaran akan end up di mana nantinya setelah lulus.
Sekarang kita bahas kurikulum di SMK sedikit. Gue gak tahu banyak, jadi yg akan gue sampaikan hanya sebagian kecil. Bahkan kecil banget dari yg gue tahu dan alami.
SMK gak akan works kalo kita berharap cuman dari guru dan kurikulum, gue merasakan banget kejomplangan ini di jurusan gue.
Kita ambil contoh, gue menempuh pendidikan SMK sekitar tahun 2011 sampai 2014. Untuk kelas animasi dulu gue masih pakai software Macromedia atau Swiss Max, sementara di industri sudah menggunakan Adobe Animate, After Effects, atau bahkan 3ds Max.
Ketinggalannya jauh banget. So, kalo gak ngulik sendiri keahlian kita gak bakal kepake di industri. Pendeknya gini sih. Kita belajar bikin sambel di sekolah itu kudu siapin cobek dan ulekannya. Sementara pada praktiknya bikin sambel dalam skala besar itu ya pake blender. Ya walaupun emang masih ada yang pake cobek dan ulekan manual. Cuman di industri cara ini gak bisa bertahan lama.
Benar kalau dibilang design ada sisi craftmanshipnya (manual) tapi honestly nggak semua industri menghargai ini. Lu akan jadi lulusan yang picky banget soal cari kerja, dan peluangnya kecil banget.
Industri design dan tech selalu beriringan, dan phase nya cepet banget. Kalo nggak ikutan lari ya pasti ketinggalan. Masih bagus kalau cuman ketinggalan, kalau keinjek sama rombongan di belakang gimana?
…
Mungkin gue bukan orang yang tepat untuk mengomentari ini, tapi sedikit banyak gue boleh lah berpendapat, apalagi kan gue juga termasuk orang yang terdampak dari sebuah produk bernama SMK.
Jualan janji dengan iming-iming karir yang bagus dan langsung kerja adalah USP (Unique Selling Point) pertama dari program ini, padahal persaingan dunia kerja kayaknya nggak se-netral itu.
Punya skill khusus dan ‘berpengalaman’ tidak serta-merta membuat perusahaan atau kantor yang mau kita tuju terbuka. Melamar kerja di negara ini kan bukan tentang skill dan kemampuan, tapi koneksi dan kenalan. Ini lebih penting, skill bisa diasah dari dalam. Pekerjaan itu bisa dihafalkan dengan cepat. Ada on job training, ada onboarding. Gampanglah.
Makanya gue tidak begitu kaget kalau ada adik kelas atau sepupu yang bingung, setelah selesai menempuh pendidikan habis ini ngapain nih? kerjanya bisa apa nih?
Akhirnya kebanyakan bekerja menyimpang dan tidak linear, tidak sesuai dengan pendidikan yang ditempuh. Gue rasa ini masalah semua orang, sekolah dan kuliah yang penting dilakukan aja. Soal jurusannya apa dan bagaimana prospeknya dipikir nanti aja deh.
Nggak heran sekarang lulusan pendidikan jadi sales. Orang-orang yang kuliah fisipol mending jadi marketing. Atau sarjana kehutanan jadi presi…..*sinyal hilang*.
…
Terus solusinya apa? Ya jangan tanya dan minta dari gue lah, gue mah komentar aja. Tidak ada tanggung jawab moral untuk gue memberi solusi dari program yang gue juga nggak tau sebenernya mau bantu kalangan mana ini.
Tapi sebenrnya ada yang bener-benar kebantu nggak sih sama pendidikan vokasi di level SMK ini? Gue juga nggak tau sih, walaupun ada beberapa teman yang dulu memilih jurusan semacam TKR (Teknik Kendaraan Ringan) rata-rata memang setelah lulus langsung mulai bisa kerja di bengkel atau bahkan punya bengkel sendiri. Berarti memang ada yang works juga. Dengan catatan kalau beneran bisa atau punya modal juga.
Tapi case bengkel ini memang sangat general, dan setiap daerah pasti butuh bengkel. Gue tuh bingungnya sama SMK yang jurusan aneh-aneh, oke sorry nggak aneh tapi nggak pas aja, misal di daerah itu nggak ada pertambangan tapi ada SMK jurusan alat berat, mau ngapain? Ada juga daerah yang potensi utamanya kayu, jurusan SMK nya malah nautika atau kelautan.
Kalau tujuannya diversifikasi jurusan ya bagus, tapi mending fokus sama yang potential dulu nggak sih daripada yang indie. Buat anak-anak yang akrab sama kayu dan hutan ya jurusan nautika itu indie lah. Begitu juga sebaliknya, buat anak pesisir jurusan alat berat ini buat apa.
Jadi, ya kembali ke kebingungan awal gue aja. Program ini sebenarnya mau bantu siapa dan buat siapa sih?
Buat kalian yang dulu sekolahnya juga SMK, boleh share di comment box pengalamannya setelah lulus kalian jadi apa. Apakah menyimpang juga, atau malah lurus-lurus aja.

.png)
0 KOMENTAR:
Post a Comment
Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni