![]() |
| Sumber: Spotify |
Terkadang orang tua memang bisa salah dalam menegur dan memotivasi anaknya. Padahal mereka juga tahu, bahwa semua anak berbeda. It means mereka memiliki penanganan yang berbeda-beda juga. Minimal secara teori sih begitu.
"Lihat kakak mu, tidak pernah kesulitan belajar. Selalu juara kelas, pacarnya juga cantik."
Kalimat seperti ini terdengar seperti motivasi. Tapi di telinga seorang adik, itu bisa berubah jadi target KPI tahunan. Harus lebih pintar. Harus lebih rajin. Harus lebih sukses. Bahkan kalau bisa, harus punya pacar yang lebih cantik juga. Biar lengkap.
Seorang adik yang diberi motivasi begini oleh orang tuanya, pasti menjadikan mereka memiliki beban. Entah harus lebih pintar dari kakaknya entah pula harus punya pacar lebih cantik juga dari kakaknya. Pokoknya harus “lebih”.
Sekali lagi gue tanya. Siapa bilang dibandingkan dengan saudara kandung yang lebih sukses itu berat?
Coba bayangkan. Posisinya kita ubah. Bayangin jika saudara kita tidak sesukses yang orang tua kita harapkan. Dia tidak bisa menjadi contoh untuk adiknya.
Bagaimana perasaan adiknya?
Bebannya jadi dua kali lipat. Selain dia harus menggantikan posisi kakaknya. Dia juga harus menjawab ekspektasi orang tua. Bahwa kakaknya tidak bisa menjadi seperti yang orang tuanya inginkan. Maka, ekspektasi kesuksesan itu sekarang pindah ke bahu adiknya.
"Kenapa susah? Malah gampang, jika kakakmu tidak sesukses yg orang tuamu inginkan. Maka tugas adiknya jadi jelas. Jadilah sukses! selesai!"
Kedengarannya simpel. Tinggal sukses. Tinggal jadi kebanggaan keluarga. Tinggal membuktikan.
Masalahnya, sukses nggak seperti tombol yang bisa ditekan bareng-bareng saat makan malam keluarga.
Menerima posisi adik yang begitu diekspektasikan menjadi sukses oleh orang tua lantaran kakaknya tidak begitu, berbeda dengan menjadi adik yang diekspektasikan menjadi lebih baik dari kakaknya yang sudah sukses.
Kalau kakak sudah sukses, adik tinggal dibandingkan. Itu menyebalkan, iya. Tapi setidaknya standar “berhasil” sudah ada contohnya. Orang tua sudah pernah merasa bangga. Sudah pernah merasa berhasil. Ekspektasi mereka sebagian sudah lunas.
Bebannya memang ada, tapi ada juga ruang bernapas. Karena kalaupun adik tidak terlalu cemerlang, keluarga masih punya satu cerita sukses yang bisa dibanggakan di acara kondangan.
Tapi kalau kakak dianggap gagal?
Maka adik bukan cuma dibandingkan. Dia dijadikan harapan terakhir. Satu-satunya kartu yang tersisa. Pertaruhan sesungguhnya baru dimulai. Go big or go home.
Kenapa? Karena kita harus membuktikan kepada orang tua kalau kita bisa sukses. Itu jelas. Bagian pahitnya adalah kakak kita jadi memiliki tolak ukur dan merasa gagal dengan melihat kesuksesan adiknya.
Bayangin makan malam keluarga yang diam-diam menyimpan kalimat tak terucap. Orang tua bangga ke adik. Kakak duduk di sampingnya. Semua orang tau ada sesuatu yang nggak pernah dibahas, tapi terasa.
Adik berhasil, tapi di balik keberhasilan itu ada rasa nggak enak. Karena tanpa sengaja, dia menjadi pengingat bahwa kakaknya belum sampai di titik yang sama.
Dan di situ, peran adik jadi rumit. Dia nggak cuma harus sukses. Dia juga harus pandai menjaga perasaan. Harus bisa terlihat rendah hati. Harus bisa tidak terlalu menonjol. Harus bisa menyeimbangkan antara jadi kebanggaan dan tidak membuat kakaknya merasa kecil.
Capek? Lumayan.
Kalau kita sudah memiliki kakak yang sukses. Kendati ketika dewasa kita tidak terlalu sukses, kita tidak perlu terlalu bersedih. Karena ekspektasi orang tua sudah dijawab oleh kakak pertama. Win-win solution versi keluarga.
Orang tua tenang. Kakak bangga. Adik bebas memilih mau lari sekencang apa.
Tapi kalau tidak ada yang lebih dulu menjawab ekspektasi itu, maka adik sering kali tidak punya ruang untuk gagal. Setiap langkahnya terasa lebih krusial. Setiap keputusan terasa lebih dipantau. Karena bukan cuma soal dirinya, tapi soal reputasi keluarga yang belum selesai.
Gue nggak bilang satu posisi lebih enak dari yang lain. Dua-duanya punya luka masing-masing. Dibandingkan itu nggak enak. Dijadikan harapan terakhir juga bikin tidur nggak pernah nyenyak.
Yang sering luput adalah, mungkin orang tua nggak pernah benar-benar berniat membebani. Mereka cuma ingin yang terbaik. Cuma sering lupa, cara menyampaikannya bisa berubah jadi tekanan.
Jadi, lebih berat mana? Berstatus adik dan memikul ekspektasi orang tua sekaligus membuktikan bahwa kakak kita gagal. Atau berstatus adik dan dibandingkan dengan kakaknya yang lebih sukses?
Gue nggak punya jawabannya.
Mungkin jawabannya tergantung posisi lo lagi di mana.
Atau mungkin, yang paling berat bukan dibandingkan atau diharapkan. Tapi ketika kita tumbuh tanpa pernah ditanya,
“sebenarnya kita sendiri mau jadi apa?”

.png)
0 KOMENTAR:
Post a Comment
Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni