Day 08 - Supermarket



Tiada weekend tanpa groceries. Itulah prinsip yang dianut istri gue. Kita sempat trial & error, kapan timing yang cocok untuk keluarga kecil ini pergi berbelanja.

Awal menikah kita coba cara umum yang dipakai baik keluarga gue atau keluarga istri. Yaitu belanja bulanan. Jadi sebulan sekali kita pergi berbelanja kebutuhan rumah, baik yang mentah maupun yang matang. Baik yang berbentuk padat ataupun cairan.

Rutinitas bulanan ini hanya bertahan sekitar tiga bulanan saja. Banyak kelemahan yang menurut istri gue mengganggu ritme dia mengatur bagian domestik. Karena masih baru menikah juga. Jadi perlu adaptasi dong. Lumayan sering momen-momen kita berdua bingung sambil tatap-tatapan. Masih tanggal 20 tapi kok minyak habis, sabun habis, pasta gigi habis, uang habis.

Nah, kalo yang terakhir, itu gue yang sering bingung. Kok udah abis ya, sambil garuk kepala dan memukul-mukul tembok.

Akhirnya, kita ganti sistem, dari belanja bulanan jadi mingguan. Setiap weekend. Awalnya gue kira belanja mingguan itu bakal lebih boros. Karena frekuensinya lebih sering. Tapi ternyata, justru lebih terkontrol. Kita beli seperlunya. Yang mau dimasak minggu itu. Yang beneran habis. Bukan yang ‘kayaknya nanti kepake deh’.

Masuk supermarket itu rasanya kenapa selalu seperti kalap ya. Troli masih kosong, pikiran masih jernih, niat juga masih lurus. Kita selalu masuk dengan satu keyakinan ‘hari ini belanja secukupnya’.

Keyakinan itu biasanya bertahan sekitar… lima menit.

Begitu masuk lorong pertama, mata kita udah mulai sibuk investigasi di semua sisi. Promo merah menyala. Diskon yang tulisannya gede tapi syaratnya kecil. Barang-barang yang sebenernya nggak kita cari, tapi entah kenapa ada di jalur yang harus kita lewati.

Supermarket juga licik menurut gue. Mereka tahu persis cara bikin orang nyasar. Susunan raknya dibuat ganti-ganti lah, bentuknya juga sengaja banget dibuat kayak labirin. Jadi kita kaya dipaksa untuk tawaf dulu sebelum menemukan barang yang mau kita beli. 

Orang yang niat awalnya datang  cuman buat beli telur, pas keluar kok sambil bawa coklat, snack, dan minuman yang sebenernya nggak tubuh butuhkan tapi tetap masuk troli karena lapar mata.

Makanya gue punya cheat saat belanja mingguan. 

Cheat itu bernama:

Kenyang.

Isi perut dulu sebelum tawaf di supermarket, niscaya barang yang dibeli adalah barang-barang yang memang kita butuhkan. Bukan yang bikin bersimpuh pas sampai rumah dan berkata:

“Ngapain gue beli barang ini yaallah”

Gue juga sering jadi saksi perdebatan batin istri gue versus egonya sendiri. Bener-bener ngomong sendiri ke barang-barang yang mau dia ambil, ngomongnya memang dalam hati, tapi kurang lebih dialognya begini:

“Ih kamu lagi promo ya.”

“Biasanya kan kamu mahal, kok sekarang murah.”

“Gapapa ya, kamu aku stok aja, sini sini masuk troli.”

Sebagai suami, peran gue di kegiatan bertajuk belanja mingguan ini memang nggak penting-penting banget, cuman jadi tukang dorong troli dan memasukkan barang-barang tidak penting ke dalamnya. 

Seringnya tiap gue lihat istri lagi berdebat dengan dirinya sendiri itu, gue cuma manggut-manggut aja. Karena gue tau, barang yang dibeli istri bukan buat dia doang, tapi buat keluarga. Beda sama gue yang biasanya emang cuman untuk gue doang.

Yang lucu, begitu sampai rumah dan barang-barang ditata, selalu ada satu atau dua barang yang akhirnya cuma jadi penghuni lemari. Dibeli dengan penuh keyakinan, tapi dilupakan dengan cepat. Kadang baru ketemu lagi pas beberes besar, sambil mikir:

“ini kapan ya belinya?”

Kapan waktu beres-beres besar itu? Ya bisa setahun sekali, atau nunggu ada tamu yang mau main ke rumah dulu, kalo nggak ada, ya siap-siap aja barang itu menetap di sana sampai batas waktu yang tidak jelas.

Supermarket juga ngajarin gue soal kompromi rumah tangga. Ada barang yang menurut gue nggak perlu, tapi menurut istri penting. Ada juga yang menurut gue penting, tapi menurut istri bisa ditunda. Kompromi ini biasa terjadi di antara rak beras dan rak bumbu dapur, bukan di cafe aesthetic dengan live acoustic yang menghibur.

Kadang gue kalah. Kadang istri ngalah. Kadang dua-duanya ngalah sama kasir pas total belanjaan keluar.

“Kayaknya coklat yang itu nggak jadi mbak” pinta istri gue.

“Loh jangan coklatnya, micellar water itu aja tuh” sanggah gue.

“Loh, coklat aja, itu bikin gendut tau” jelas istri lagi.

“Yaudah coklatnya ganti yang kecil.” gue memelas.

Iya kita melakukan ini di depan mba-mba kasir. Mba kasir biasanya hanya diam, senyum getir, terus selesai kita belanja pasti dijadiin bahan gosip. Parah.

Yang paling menarik dari supermarket itu bukan barangnya, tapi orang-orang yang belanja di sana. Ada yang belanja cepat, fokus, kayak udah hafal peta di sini, model akamsi banget pokoknya. Ada yang muter-muter lama, bolak-balik lorong yang sama, sambil mikir keras.

Ada juga yang jelas kelihatan baru pertama kali belanja rumah tangga. Mukanya bingung, tangannya pegang HP, kayak lagi konsultasi jarak jauh. Mau belanja atau mau webinar mas? HP nya di depan muka mulu.

Sekarang, supermarket buat gue jadi semacam penanda fase hidup. Dulu, masuk supermarket cuma beli snack. Sekarang, masuk supermarket mikirin sabun cuci, minyak, tisu, dan harga cabe. 

Pergi ke supermarket itu kaya menempuh pendidikan. Suka nggak suka, ya harus dilakukan kalo nggak nanti bingung sendiri.

Kalau kalian sistem belanja di rumahnya gimana? Share lah di comment box.

0 KOMENTAR:

Post a Comment

Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Artwork Awards Buku Gue Blogwalking Privacy Policy