Day 03 - Bengkel

FYI: Mobil ini namanya Tio. singkat padat, malas mikir.

Zaman gue abege salah satu skill yang bisa disombongkan untuk menjadi lelaki keren adalah ngerti mesin.

Apapun, mesin motor, mesin mobil, mesin jahit, boleh. Yang penting mesin. 

Masalahnya adalah, gue lahir sebagai laki-laki yang sedikitpun tidak mempunyai minat, bakat, bahkan ketertarikan di bidang ini. Jika ketangguhan seorang laki-laki diukur dari seberapa pandai dia menaklukkan mesin. Maka tingkat ketangguhan gue berada di level memprihatinkan, drop, nyungsep ke level paling dasar.


Keakraban gue dengan mesin tidak pernah terjadi. Kalau mesin diibaratkan jarak antara tempat duduk guru dan siswanya, nah gue duduknya bukan di kursi belakang lagi, tapi di luar, di luar sekolahan malah. Jauh banget.


Lebih anehnya, gue tidak mengerti mesin sama sekali bukan karena tumbuh di lingkungan keluarga yang sama tidak mengertinya. Malah sebaliknya. Ayah dan kakak pertama gue adalah maniak soal hal ini. Sepertinya rokok dan mesin itu jaraknya memang sedekat itu ya.


Mereka bisa menghabiskan seharian full waktu weekend nya untuk ngoprek mesin motor atau mobil di rumah. Gue? Apa yang gue lakukan saat mereka sedang sibuk dengan dunia mesinnya. Tentu saja di kamar. Tidur, atau nonton anime. 


Nggak ada juga yang bisa gue bantu. Karena untuk berada di posisi asisten montir aja gue tidak qualified. Knowledge gue soal mesin berhenti di bagian alat-alatnya aja. Ada tang, obeng plus dan minus, kemudian kunci inggris, kunci T, dan yang terakhir kunci L.


Kunci L ini juga gue baru-baru aja tahu, ya karena punya sepeda. Karena hampir semua komponen yang ada di bagian rem sepeda itu memiliki baut yang hanya bisa dibuka dengan kunci L. Kalo nggak mungkin gue akan terus berfikir penamaan kunci mengenal rasisme juga, ya masa cuman ada kunci T nggak ada kunci yang lain dalam abjad, kan parah.


Tumbuh menjadi pria dewasa yang minim pengetahuan soal mesin, membuat gue akrab sekali sama bengkel. Hal ini sebenarnya sedikit merugikan dan merepotkan. Karena ya dikit-dikit ke bengkel. Dikit-dikit bingung. Dikit-dikit ngapsul.


Kemarin baru banget nih, gue lagi pake mobil sama istri, waktu itu kondisi cuaca emang mulai gerimis, makanya kita mutusin keluar pake mobil aja. Baru mau keluar dari parkiran, mobil kok rasanya ndut-ndutan. Terutama saat idle dan posisi perseneling lagi di D. 


Gue pikir, ah mungkin karena mesin dingin, jadi masih kaget, soalnya cuaca Depok malam itu emang dingin banget. Nggak salah dong gue mikir mobil kedinginan nih paling.


Waktu mau parkir di mall Pesona Square, Depok. Gue ngerasa kok makin parah ya. Jadi rasanya itu kayak mesin mau mati, tenaga hilang, dan kalo di tanjakan kayak ngeden banget. Wah, ini mah udah nggak beres. 


Akhirnya begitu sampai rumah, malam itu juga gue vidiokan kondisi mobil dan langsung gue kirim ke WhatsApp montir langganan. Jadi knalpot nya seperti blubub blubub gitu. Berikut percakapan gue dengan bengkel mobil langganan.


Belajar lah sedikit soal mesin guys, biar nggak dikit-dikit chat kaya gue😑

Karena takut tambah parah, besoknya gue langsung ke bengkel dan menceritakan kronologi yang terjadi. Montir langsung paham dan tersenyum tipis. Dia membawa gue ke depan ruang mesin dan berkata:


"Ini mah koil nya mas" 


"nih, yang bagian ini"


Gue sejujurnya masih mencoba mencerna. Koil? Sejak kapan ada group band di mesin mobil gue. Ya pengetahuan gue soal koil adalah sebuah group band. Bukan salah satu komponen mesin.


Intinya, mobil gue selongsong koilnya sudah baret. Iya, cuman kaya baret tipis gitu, tapi itu yang bikin perapian dan pembakaran di rumah mesin jadi nggak sempurna, udara keluar lewat baret yang tipis itu. Efeknya mobil jadi ndut-ndutan.


Gue masih berusaha mencerna penjelasan montir. Tapi tetap aja nggak ngerti, sampe beberapa kali gue nanya:


"jadi ini cuman karena baret kecil ini, mas?"


"cuman karena baret yang nggak sampai seujung kuku ini. Ini bikin gue ndut-ndutan semalaman?"


Beres dari bengkel gue langsung pulang. Nah kampretnya dari nyetir sendirian adalah, ini jadi momen gue suka mikir hal-hal lain yang sifatnya what if. 


Coba gue ngerti mesin.


Coba gue bisa bedain kunci-kunci.


Coba kalo MBG nggak jadi.


Mungkin gue nggak perlu buang 3 jam waktu libur cuman untuk ngurusin baret kecil di dalam selongsong koil yang bikin mobil ndut-ndutan. Kan gue bisa bongkar sendiri dan benerin sendiri.


Tapi syukurnya itu hanya terjadi di pikiran gue aja, nggak pernah gue Aminin dan praktekin. Karena gue tahu, ada beberapa hal di dunia ini yang memang porsinya cuman sampai dipikirin aja, jangan dipraktekin.


Intinya mesin it's not me lah.


1 KOMENTAR

  1. Kalau kenal orang bengkel terus mekaniknya jujur dan profesional paling enak di jadikan bengkel langganan.. Tapi ad juga mekanik nakal yang Mark up kerusakan. Seperti yang saya alami beberapa bulan nya lalu. Cuma gara-gara kanvas rem agak lengket padahal baru seminggu ganti yang baru, cakram dan kaliber nya ikut-ikutan di ganti 🫠

    ReplyDelete

Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni