Day #07: Antre




Ada satu hal yang selalu bikin gue suka kesel sendiri kalo lagi di ruang publik: antre.

Entah kenapa, antre itu kan sebuah konsep yang semua orang tau nih, tapi interpretasinya beda-beda. Secara teori, antre itu simpel. Datang duluan, dilayani duluan. Tapi pada praktiknya, antre sering punya cheat ajaibnya sendiri-sendiri loh.

Kemarin pagi gue ke minimarket. Jamnya nanggung, bukan jam rame bukan juga jam sepi. Di depan kasir sudah ada dua orang. Gue berdiri rapi di belakang sambil pegang barang dan mikir, “oh ini cepet nih, cuman dua orang ini”.

Terus datang satu bapak-bapak. Dia nggak berdiri di belakang gue. Dia berdiri agak ke samping kasir. Setengah badan menghadap rak rokok, setengah badan menghadap kasir. Nggak jelas lah sudut berdirinya. Posisi abu-abu banget ini dalam antrean. Dia belum antre, tapi juga belum nggak antre. Gimana coba itu.

Awalnya gue coba berfikir positif. “Oh mungkin dia cuma nanya harga rokok.”

Beberapa detik kemudian, kasir nengok ke dia.

“Rokok Surya satu, mas.”

LAH.

Gue reflek nengok ke kasir, terus ke bapak itu, terus balik lagi ke barang di tangan gue. Otak gue lagi proses kejadian ini beneran apa nggak. Ini orang baru datang, berdiri dengan posisi yang nggak jelas, tapi dilayani duluan.

Gue bukan kesal karena nunggu lebih lama. Tambahin satu menit lagi juga hidup gue nggak kenapa-kenapa sebenarnya. Yang bikin kesel itu adalah normalisasi nyelak nya ini loh, terjadinya kok kayak smooth sekali, sampai kayaknya gue yang salah karena berdiri rapi dari awal.

Yang bikin tambah menarik, dua orang di depan gue juga diem aja. Nggak protes. Nggak nengok. Semua pura-pura nggak lihat seperti nggak terjadi apa-apa. Termasuk gue.

Kayaknya makna antre udah berubah deh, antre sekarang itu bukan soal urutan. Tapi soal siapa yang cukup pede untuk melanggar, dan siapa yang cukup capek untuk menegur.

Yang paling sering menang bukan yang paling dulu datang, tapi yang paling santai menerobos sistem. Parahnya sistemnya sendiri juga sering ngangguk-ngangguk aja. Kayak familiar ya sama sistem yang di trabas trobos gini.

Selesai bayar, gue keluar minimarket sambil mikir:


Kenapa ya, di banyak hal, kita lebih takut dibilang ribet daripada diperlakukan nggak adil?

Kalau tadi gue kesel karena alasan yang wajar, ada juga pengalaman antre yang sebenarnya karena alasan yang harusnya bisa di minimalisir. 

Contohnya antre di pom bensin. Sudah jarang memang orang yang nyelak waktu antre di pom bensin, yang bikin menyebalkan lebih ke personalnya.

Normalnya isi bensin itu sederhana. 

Datang ke pom bensin.

Ambil shaf barisan.

Nunggu antre.

Sudah mulai dekat dengan mesin dispenser.

Refleks buka jok.

Buka tutup tangki.

Sampai giliran tinggal bilang, “Full, Bang.”

Mulai isi.

Bayar.

Tutup tangki.

Pergi.

Selesai. Rapi. Nggak ada yang dirugikan. Semua orang bahagia. Negara aman.

Tapi.

Selalu ada satu makhluk anomali di setiap pom bensin. Satu orang yang entah dibesarkan dengan SOP berbeda. Orang yang memutuskan bahwa semua proses tadi terlalu linear. Terlalu mainstream. Terlalu tertib.

Maka dia menciptakan alur versinya sendiri.

Datang ke pom bensin.

Ambil shaf barisan.

Nunggu antre.

Sudah mulai dekat dengan mesin dispenser.

Di titik ini, secara normal, manusia waras akan mulai membuka jok dan tutup tangki.

Dia? Tidak.

Dia masih duduk santai. Tangan masih di setang. Pikiran entah ke mana. Mungkin lagi mikirin cicilan. Mungkin lagi mikirin mantan. Yang jelas pikirannya bukan soal buka jok dan buka tutup tangki.

Sampai giliran dia tiba.

Petugas sudah berdiri. Nosel sudah siap.

“Isi berapa, Bang?”

Di sinilah pertunjukan dimulai.

Dia masih belum buka jok.

Masih belum buka tutup tangki.

Dia justru nunggu ditanya dulu.

“Oh iya… bentar, Bang.”

Baru di situ dia mulai buka jok. Masih sambil ngomong nominal. “Dua puluh tujuh ya, Bang.” Sambil tangannya sibuk ngoprek kunci, buka jok, buka tutup tangki yang entah kenapa seret banget.

Seluruh antrean di belakangnya mulai kehilangan iman.

Oke. Tangki akhirnya kebuka. Bensin mulai masuk. Kita tarik napas. Mungkin setelah ini lancar.

Ternyata tidak.

Selesai isi, dia ngasih uang pecahan seratus ribu.

Untuk isi dua puluh tujuh ribu.

Petugas mulai ngitung kembalian. Di titik ini, manusia normal biasanya sudah refleks nutup tangki. Biar ketika uang kembalian datang, dia bisa langsung cabut tanpa memperpanjang dosa sosialnya.

Dia? Tentu tidak.

Dia tetap berdiri cengok di samping motornya. Diam. Menunggu. Menatap kosong ke depan. Tangki masih terbuka. Jok masih terangkat.

Petugas menyerahkan kembalian.

Dia tidak langsung jalan.

Dia diam.

Menghitung uang kembalian dulu satu per satu. Lembar per lembar dipastikan lurus dan rapi. Jangan sampai Imam bonjol beradu mata dengan Pattimura.

Di belakangnya, antrean sudah mulai panjang. Ada yang mendesah. Ada yang lihat jam. Ada yang pura-pura nggak kesel padahal kesel banget.

Setelah selesai menghitung, dia belum juga jalan.

Dia ambil dompet.

Buka dompet.

Masukkan uang ke dompet dengan penuh perasaan.

Tutup dompet.

Masukkan dompet ke kantong.

Baru setelah itu, dia menutup tangki.

Menutup jok.

Menyalakan motor.

Dan akhirnya maju.

Kegiatan yang seharusnya bisa selesai dalam 10 detik, dia ubah menjadi pengalaman spiritual tiga menit penuh ujian kesabaran.

LELET BANGET, MASYA ALLAH ALLAHUAKBAR.

Di momen waktu nunggu di belakangnya ini gue sering mikir, mungkin orang ini bukan jahat. Bukan juga bodoh. Mungkin dia cuma tidak pernah sadar bahwa ada dunia di belakangnya yang ikut terdampak oleh setiap keputusan kecilnya. Bahasa gampangnya.

KERIBETAN LU NYUSAHIN ORANG WOY!!!

Karena hidup di ruang publik itu sederhana sebenarnya. Lo boleh lambat. Lo boleh santai. Tapi jangan lupa, ada orang lain yang ikut antre di belakang lo.

Setiap kali gue ketemu orang tipe begini, gue cuman pengen bilang satu hal.

Bukan doa.

Bukan juga makian.

Cuma satu harapan mungil sebagai orang asing.

Semoga suatu hari dia berdiri di posisi belakang.

Dan di depannya adalah orang lain versi dirinya sendiri.

0 KOMENTAR:

Post a Comment

Terima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Artwork Awards Buku Gue Blogwalking Privacy Policy