Karena udah bingung, gue
pun tetap pesan ojek online. Bodo
amat dah, jadi gembel, gembel dah. Yang terpenting sekarang gue harus nyampe
kantor dulu. Urusan duit, dihitung nanti aja.
Gue pesen gojek. Eh di cancel.
Order pake grab. Eh di cancel lagi.
Nyoba uber. Eh di cuekin.
Iyalah, soalnya gue beneran nguber-nguber ojek
online yang lewat secara manual, mereka bukannya berhenti, eh malah pada
nyuekin gue.
Baca cerita sebelumnya dulu di sini.
“mas kartu saya ketelen nih, gimana nih, wah parah!?” gue nanya sambil
mau nangis ngomel ke petugas Indo*maret.
“wahh, mas korban ke-3 hari ini berarti. Kayaknya mesinnya emang lagi
rusak, mas” si petugas memberi keterangan yang sangat bangsat.
KALO TAHU RUSAK KENAPA
NGGAK DI KASIH TULISAN, WOYYYY!!!
INI KARTU ATM GUE GIMANA
YA ALLAH :(
Baca cerita sebelumnya dulu di sini.
Di mana-mana, yang namanya
mencari kotsan itu selau merepotkan, ya. Susah banget ketemu kost yang harga,
susasana, dan tempatnya strategis. Dari tiga hal ini selalu aja kita cuman bisa
dapat dua.
Harganya murah, terus
suasana enak tapi lokasinya jauh.
Setelah fix
diterima magang di salah satu agency
di daerah Jakarta Barat. Gue menemukan masalah-masalah baru. Mulai dari naik
apa ke Jakartanya lalu tinggal di mana selama di sana. Karena hidup gue tidak
pernah di planing dengan baik,
akhirnya gue membiarkan saja semuanya terjadi begitu saja. Pokoknya let it flow aja dah.
Dalam surat magang, gue menuliskan akan memulainya per
tanggal 22 Mei, padahal pameran tugas akhir di kampus baru kelar tanggal 18 Mei,
sore hari. Mepet banget memang. Gue juga nggak memperhitungkan kapan enaknya
mulai magang dan nggak tahu kapan acara pameran yang maha kampret ini akan
selesai. Yaudah, gue ngasal aja nulis tanggal mulai di surat pengajuan magang.
Howayyyyy, ih gila ya.
Udah umur 21 tahun. Udah ngeblog 6 tahun opening blog masih gini-gini aja,
nggak ada kemajuan. Dasar gue ganteng.
Yha,
Dan jokesnya pun masih
gitu-gitu aja.
Kalo gue awali postingan
ini dengan kalimat “bingung nih mau posting apa” kira-kira akan menimbulkan
reflek apa ya dari netizen?
Gue termasuk orang yang cukup banyak
menghabiskan waktunya di jalanan, bukan. Gue bukan pengamen atau tukang
minta-minta. Gue cukup sering lama di jalan karena kejebak macet atau nonton
orang yang habis kecelakaan.
Semua cowo pasti pernah
punya kenangan tentang cewek yang tidak sengaja bertemu disebuah tempat dan
langsung suka. Bodohnya cowok-cowok ini tidak berani berkenalan dan wanita itu
pun pergi begitu saja. Hilang begitu saja. Lalu jadian sama teman dekat kita.
YA ENGGAK LAH.
Waktu lagi sendiri dan bingung mau ngapain, kita suka mengingat-ingat
beberapa hal bodoh yang seharusnya dulu tidak kita lakukan. Kita sering
menyepelekan sebuah kekecewaan. Rasanya ini hal sepele, padahal kalau kita
letakan kaca pembesar di sana, bisa jadi kekecewaan yang dulu itu sebuah
kekecewaan yang besar.
Sebelum kalian tersesat
lebih jauh, ada baiknya baca postingan sebelumnya di sini. Biar nggak hilang
arah. cukup ‘dia’ aja yang hilang-hilangan. Baca cerita gue jangan.
***
Mungkin kalian pikir,
perkara membuat SIM ini terdengar gampang dan biasa aja. Ini memang belum
seberapa, perjuanggan yang sesungguhnya barulah akan dimulai.
Map sudah ditangan. Karena
bingung harus gue apakan map dan data-data yang udah dibawa ini, gue pun
melihat-lihat ke arah orang-orang yang juga sudah mempunyai map. Dan ternyata
kita semua sama. Sama-sama bingung.
INI MAPNYA DIAPAIN YA
ALLAH :(
Gue tadi nggak kuliah
pagi. Nggak tau kenapa perasaan gue males aja hari ini untuk bangun jam 7 dan
berangkat ngampus. Jadinya gue memilih untuk melanjutkan tidur dan bangun jam
11 siang. Ia gue ngebo. Masalah?
Sebenarnya jam 1 lewat 10
nanti ada mata kuliah lain yang harus gue ikutin. Tapi, nggak tau kenapa
perasaan gue berkata:
MENDING LANJUT TIDUR AJA.
Karena gue percaya sebuah
quote dari filsuf terkenal yang berkata: jika kamu tidak tahu harus percaya
kepada pendeta atau pendusta, maka percayalah pada perasaan mu sendiri.
Gue pun memilih kembali
tidur. Karena gue sangat percaya dengan perasaan ini. Jam 11 gue bangun lalu
lanjut tidur. Jam 1 gue kebangun buat pipis. Mengecek hape. And you know what? DOSENNYA NGGAK MASUK.
Perasaan memang nggak
pernah salah.
Sebenarnya sudah lama gue
ingin menulis soal ini. Yha, prihal pembuatan SIM. Sewaktu liburan semester
kemarin, karena nggak ada kerjaan dan gak punya kesibukan yang berarti juga,
akhirnya iseng-iseng gue pengin bikin SIM. Perkiraan gue bikin SIM C dan SIM A
pasti nggak berbeda jauh. Berbekal pengalaman waktu bikin SIM C yang memang
hanya membutuhkan waktu satu hari (tanpa nyogok). Gue pun mantab untuk
meneruskan rekor itu.
“hari ini harus langsung
jadi”
Kalimat itulah yang gue
ucapkan ketika baru bangun tidur dan bersiap pergi ke kantor polisi. Jarak dari
rumah ke kantor polisi itu cukup jauh, gue harus menyebrangi sungai dan
melewati gunung. Gunungnya kebetulan bukan gunung kembar seperti yang ada di
otak kalian.
Di kamis sore yang mendung itu, gue
lagi duduk-duduk ganteng di balkon kostan, angin lagi kenceng-kencengnya. Semua
jemuran anak kos terpencar entah kemana. Tapi, gue tidak menghiraukannya. Gue
tetep duduk dan memandang langit senja yang mulai berubah menjadi orange.
Gak lama kemudian gue tersadar, tadi
pagi kan gue cucian, lahh, berarti jemuran yang tepencar kesana kemari
itu…..punya gue dong. Kampret.
Ya, gue kalo udah ngelamun bisa se-ekstrim
itu. Bisa nggak menyadari bahwa disaat gue lagi ngelamun, mungkin aja keadaan
di sekitar gue nggak mengizinkannya. Mau ada gempa kek, kerusuhan kek, palek
tek-tek kek, ehh bentar, nah kalo ada palek tek-tek yang lewat, lamunan gue
baru bisa dengan sendirinya tehenti. Biasa lah, anak kost, kelaparan-tapi-nggak-punya-uang-dan-malas-jalan-itu-adalah-nama-tengah-kami.
“Pecahkan saja
gelasnya biar ramai
Biar mengaduh
sampai gaduh
Ada malaikat
menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa tak
goyangkan saja loncengnya biar terdera?
Atau aku harus
lari ke hutan, belok ke pantai?”
Penggalan puisi di atas gue tahu dari film
AADC, film yang romantis buat mereka yang kisah SMA nya hanya di isi dengan
pacaran dan jalan-jalan. Beda sama gue yang bukan anak SMA tapi SMK, kerjanya
bukan hedon-hedon kaya anak SMA, tapi membongkar mesin……mesin jahit.
Yang paling gue suka dari puisiini adalah
bagia akhirnya. Lebih tepatnya baris paling akhir.
“atau aku harus lari ke hutan, belok ke pantai”