![]() |
| (Ditulis oleh: Orang yang dulu jago nganggur, sekarang jago cari alasan karena capek!) |
“Waktu luang itu penting nggak sih?”
Jawaban sotoynya gampang:
Penting, buat recharge, buat jaga kesehatan mental, buat work-life balance, buat dia kamu cuman pelampiasan, mas. Jangan berharap lebih.
Jawaban jujurnya?
Waktu luang itu bukan soal punya waktu kosong. Tapi soal masih punya energi buat hidup sebagai manusia, bukan cuma sebagai pegawai kantoran yang selalu kesal dengan acara fire drill simulation di kantor.
Arti waktu luang itu anehnya berubah seiring pergantian fase hidup. Dimulai dari:
Fase 1: Single, Jobless, atau Mahasiswa
Di fase ini, waktu luang itu bukan agenda. Dia seperti kondisi alam.
Bangun siang bukan keputusan. Tidur siang bukan reward. Nggak ngapa-ngapain itu default setting.
Kalau hari libur, pertanyaannya bukan:
“Mau ngapain ya?”
Tapi:
“Bangun jam berapa nih enaknya?”
Bangun jam 11 pun masih ngerasa kepagian. Capek di fase ini tuh capek imajiner. Capek mikir masa depan, capek mikir “hidup gue nanti gimana ya?”, tapi sambil rebahan dan ngemil. Waktu luang masih murni. Masih gratis. Masih belum ditagih tanggung jawab.
Waktu masih single dan jobless, waktu luang gue bentuknya sederhana banget.
Libur.
Balik ke kos.
Tutup pintu.
Rebahan sampai capek.
Selesai.
Nggak ada agenda. Nggak ada rencana. Nggak ada target hidup. Bahkan niat mandi pun opsional.
Gue bisa tuh libur dua hari, tiga hari, bahkan seminggu, tanpa ke mana-mana. Tanpa ngapa-ngapain. Ini bukan karena miskin ide. Tapi lebih ke miskin duit pak, dompet gue minimalis banget zaman itu.
Waktu luang saat single itu artinya:
→nggak diganggu siapa-siapa.
→nggak harus jadi versi produktif dari diri sendiri.
→nggak perlu menjelaskan kenapa hari ini cuma makan Indomie dua kali.
Anehnya gue bangga sama kegiatan-kegiatan tidak berfaedah itu. Mulai tuh mencari-cari pembenaran kenapa itu boleh, “Gue layak dong rebahan. Gue kan capek!” Itulah awal mula fungsi kos-kosan gue bertambah. Kos-kosan bukan lagi cuman jadi tempat istirahat doang, tapi jadi semacam bunker. Tempat bersembunyi dari dunia yang cepat dan gila ini.
Dari Story instagram teman yang udah kelihatan sukses.
Dari trend tik tok yang nggak ada habisnya.
Dari tadi kamu masih berharap kalo dia peduli? Nggak mas, dia begitu ke semuanya. Nggak ke kamu aja, paham.
Di fase ini, waktu luang sama dengan mati sementara tapi legal.
…
Fase 2: Single, Udah Kerja
Masuk fase kerja, waktu luang mulai berubah fungsi.
Dia bukan lagi hadiah. Dia tempat sembunyi. Gue ingat betul fase ini. Libur bukan buat senang. Libur buat menghilang sementara dari hidup sendiri.
Masuk kos.
Tutup pintu.
Rebahan (lagi).
Nggak pengen ketemu siapa-siapa. Nggak pengen cerita apa-apa. Nggak pengen membuktikan apa-apa lagi. Kalau bisa, pengen jadi benda mati aja
Ngomong-ngomong soal benda mati. Gue punya teman yang mengajar di KB (Kelompok Bermain) tapi khusus anak-anak ekspatriat gitu.
Ada satu momen setiap anak memberitahu cita-cita mereka mau jadi apa ketika dewasa nanti.
Seru kan, bisa kepo sama cita-cita anak luar negeri mau jadi apa aja. Ada yang mau jadi youtuber, ada yang mau jadi Masinis. Pokoknya macam-macam deh. Profesi yang umum disebut dan terdengar keren lah.
Setiap mereka mengungkapkan jawaban, temen gue ini akan coba kasih motivasi agar mereka kebayang harus ngapain untuk bisa gapai keinginannya itu.
“Wah kalau mau jadi youtuber harus kreatif, harus PD dan inovatif ya. Kamu pasti bisa. Semangat!!!”
“Seru banget pasti jadi masinis, pake topi yang kokoh dan nganterin orang-orang sampai ke tempat tujuan mereka. Hati kamu mulia sekali. Keren!!!”
Sampai tiba giliran seorang anak Korea ditanya:
“Kim, kamu kalo udah gede cita-citanya mau jadi apa?”
Anak itu diam. Rambut belah tengahnya semakin membuka karena tersapu angin. Sambil matanya melihat ke atas. Seakan-akan ada jawaban yang bisa dia kasih dari sana.
Perlahan Kim menoleh ke arah temen gue. Dengan nada lemas dan satu hembusan nafas kecil dia bilang:
“Aku mau jadi kursi aja, biar bisa duduk terus.”
Temen gue langsung ngefreeze dong. Apa motivasi yang bisa diberikan ke bocah yang punya cita-cita jadi kursi coba.
Mungkin maksudnya Kim, dia mau jadi kursi itu artinya memiliki jabatan ya. Kursi jabatan. Ah ada-ada aja emang Kim Jong Un. Ehhh.
…
Waktu luang di fase ini isinya cuman nonton ulang film favorit, scroll tanpa tujuan, tidur lagi, dan bangun cuma buat makan.
Itu bukan malas. Itu namanya kelelahan yang nggak punya bahasa. Ironisnya, gue malah sering bangga:
“Gue libur cuma di kos doang loh.”
Padahal itu tanda, tenaga kita habis bukan dibadan, tapi dikepala.
…
Fase 3: Single, Tapi Udah Mulai Mikir Nikah
Di fase ini, waktu luang mulai terasa… tanggung. Rebahan masih enak. Tapi kok rasanya kosong?
Ada hari libur yang panjang, tapi setelah setengah hari, kepala mulai berisik:
“Terus? Ini gini-gini aja nih?”
Mulai muncul keinginan random:
Naik gunung lah.
Trail run lah.
Budidaya badak bercula satu lah. Aneh-aneh lah pokoknya.
Bukan karena tiba-tiba jadi aktif. Tapi karena diam terlalu lama bikin sadar, kalau hidup jalan terus.
Waktu luang di fase ini mulai di isi sama keluhan yang gue juga nggak tau mau ngeluhin apa:
“Gue pengen capek, tapi capek yang beda gitu loh.”
Capek yang bikin keringetan.
Capek yang bikin tidur lebih nyenyak.
Capek yang rasanya “oh, hari ini kepake dengan hal berguna nih”.
Waktu luang berubah arti dari “nggak ngapa-ngapain” jadi “ngapain ya biar hidup terasa jalan”.
Ini fase aneh, karena capek kerja masih ada, tapi ada rasa takut baru. Takut waktu kebuang percuma.
...
Fase 4: Menikah, dan Waktu Luang Bukan Milik Pribadi Lagi
Setelah menikah, waktu luang nggak hilang. Tapi dia nggak lagi sepenuhnya milik gue. Sekarang, waktu luang itu kalimat jamak:
“Kita”.
Sekarang, waktu luang itu bukan sesuatu yang bisa gue pakai seenaknya. Karena udah ada istri. Maka dari itu, waktu luang itu… harus dibagi.
Bukan dibagi dua secara matematis. Tapi dibagi secara emosional.
Dulu:
“Libur, gue mau di kos aja ya”
Sekarang:
“Libur, kita ke mana ya?”
Dan “ke mana” itu kadang jawabannya sederhana banget:
Bukan Bali.
Bukan Jepang.
Bukan staycation estetik.
Tapi malah Supermarket.
Cuma belanja groceries. Tapi anehnya, itu nggak bisa ditolak. Lebih aneh lagi, itu penting. Karena di dalam kegiatan groceries itu ada jalan bareng, ngobrol random di lorong sabun, debat kecil soal beli keju mahal atau enggak, dan momen diem-diem mikir:
“Oh, hidup gue sekarang kayak gini ya.”
Waktu luang sekarang bukan soal istirahat maksimal. Tapi soal hadir.
Hadir walaupun capek.
Hadir walaupun maunya tidur.
Hadir mu bukan keinginannya mas, itu kepedean lu doang. Udah tinggalin aja.
…
Waktu Luang Setelah Nikah Itu Nggak Selalu “Me Time”
Ini yang nggak dikasih tau orang-orang. Setelah nikah, waktu luang itu jarang banget bentuknya “me time”. Lebih sering jadi “Time up”. Waktu habis, tidak, saya menyerah. Tolong saya!!!
Kadang gue kangen fase rebahan brutal. Kangen libur tanpa rencana. Kangen jadi manusia tanpa kewajiban sosial.
Tapi di saat yang sama gue juga sadar, waktu luang sekarang lebih bermakna,
walaupun lebih melelahkan. Karena ada cerita. Ada memori. Ada hal kecil yang nanti diingat.
Rebahan sendirian itu enak. Tapi seringnya lupa. Wisata belanja bulanan mungkin capek, tapi entah kenapa lebih nempel di kepala.
Maksudnya kepala gue nempel di kaki istri kalo gue nggak mau ikut belanja bulanan :(
…
Jadi, Apa Arti Waktu Luang Sebenarnya?
Setelah mengalami semua fase ini, gue sampai ke satu kesimpulan.
Waktu luang bukan tentang apa yang lo lakukan. Tapi tentang siapa diri lo saat melakukannya.
Single, jobless / mahasiswa:
Waktu luang = banyak waktu, sedikit beban.
Single, udah kerja:
Waktu luang = sedikit waktu, banyak capek.
Single, mulai mikir nikah:
Waktu luang = capek yang pengen terasa berguna.
Sudah menikah:
Waktu luang = capek yang dibagi dua.
Semuanya valid. Nggak ada yang lebih benar. Nggak ada yang lebih dewasa. Cuma beda konteks. Beda tanggung jawab. Beda lelah.
…
Sekarang kalau ada abang-abangan yang ngasih wejangan:
“Ingat ya! lu harus manfaatin waktu luang sebaik mungkin.”
Gue ngerti maksudnya. Tapi gue juga tahu, kadang waktu luang terbaik itu bukan yang paling produktif, bukan yang paling estetik, bukan yang paling Instagrammable.
Kadang waktu luang terbaik itu cuma:
Nggak buru-buru.
Nggak dikejar apa-apa.
dan nggak perlu jadi siapa-siapa.
Entah itu di kos sendirian, di puncak gunung, atau di lorong supermarket sambil dorong troli.
Karena di tengah pekerjaan yang sibuk, waktu luang itu bukan hadiah. Dia cuma jeda kecil, buat ngingetin, hidup bukan cuma soal kerja, tapi juga soal siapa yang pulang bareng kita.
Salam, abang-abangan tongkrong, si paling “kalo gue dulu ya….”.





.png)
24 KOMENTAR
Aku baca tulisanmu bg sambil ngevalidasiin
ReplyDeleteIya lagi.. hmm ini jg iya lagi.
Sampe ada dimasa udah capek karena kelamaan capek. Pernah cerita ke abg-abangan dikantor malah dikasih saran keknya hidupmu kurang menantang deh. Coba nikahin janda anak 3 sama kredit pajero pasti hidupmu jadi lebih hidup. mang ea?
Kadang cerita ke abang-abangan soal dilematis hidup memang lebih sering mendapat mudharat daripada manfaat ya. Dan jokes disuruh nyicil pajero sambil nikahin janda ini memang seringkali menjadi senjata abang-abangan tongkorngan. kayaknya mereka ini punya syndicat deh.
DeleteAku sempet baca di ig, enggk tau bener apa enggknya,orang Jepang nanya ke temennya yang orang Indo, kebiasaan kalian kalo ada waktu luang, kosong atau libur ngapain aja, orang kita jawabnya rebahan aja di kost, trus orang Jepang nanya lagi ,enggk ada kegiatan lain kah?, soalnya dia si orng Jepang ini kalo libur, biasa di isi dengan kegiatan, lari, ke perpus dll, trus orang Indonya jawab lagi, ada koq, kegiatan kami main HP, dengerin musik, tapi sambil rebahan 🤣, itu pan sesuatu yang mihil banget, apalagi kalo udah capek kerja wkwkk.
ReplyDeleteBuat aku sih waktu luang itu bener"aku nikmatin aja, yg penting gak ganggu orang di sekitar, aku bisa tiduran, jalan sendiri , cuman ke indomart aja udah seneng 😁, lagian pasangan aku juga udah apal kelakuan bininya, dia mah ga masalah, yg penting urusan kewajiban rumah beres, bininya mau kayang, koprol ga masalah, asal gak malu maluin aja 😄
Beda cara menghabiskan waktu luang beda output ya. orang jepang waktu luang diisi dengan hal bermanfaat hasilnya? teknologi canggih, Kecerdasan buatan, robot pembasmi kecoa.
DeleteOrang Indonesia hasilnya? malah program makan bergizi gra.......
ReplyDeleteMemang beda waktu luang sudah menikah atau belum, karena ente sudah menikah yaa benar waktu luang jadi milik berdua, nggak milik luh seutuhnya lagi.🤣 🤣 Berkurang dan ada beban apa nggak tergantung kesepakatan berdua saja, enaknya mau seperti apa?😁
Katanya sebagian orang waktu luang juga bisa menjaga pernikahan tetap kuat karena bisa melakukan kegiatan secara bersamaan.😁😊
Intinya tetap manfaatkan waktu luang itu sebaik mungkin meski tidak banyak, karena setiap orang punya cara tersendiri untuk menikmati waktu luang itu.
Bener sekali bung Jingga, tidur siang kan juga masuk kedalam bentuk pemanfaatan waktu luang yak.
DeleteSaya belakangan lumayan dibikin mikir, kalau saya nggak ngapa-ngapain di hari libur apakah itu berarti saya sudah menyia-nyiakan waktu? 🤔 Karena itu hampir setiap menit (di luar jam tidur dan makan) saya coba jadi seaktif mungkin, dari membaca, terus beres-beres rumah, drafting artikel blog, terus beres-beres rumah lagi, baca lagi, dst, supaya di penghujung hari saya merasa setidaknya hari libur ini sudah cukup produktif. Tetapi anehnya meski sudah sesibuk itu, saya masih dihantui perasaan bersalah seolah-olah belum cukup memanfaatkan waktu dengan baik ☹
ReplyDeleteDi titik ini saya mulai mempertanyakan strategi saya sendiri, kalau saya sibuk ini-itu di hari libur apakah itu berarti saya sudah nggak menyia-nyiakan waktu? Yang bener tuh? Kok yang saya rasakan nggak begitu? 🤔
Jadinya sampai sekarang saya masih terus bereksperimen cari cara terbaik untuk menikmati waktu luang, walau mungkin... Mungkin saja... Untuk kasus ini "letting go" lebih baik daripada "seizing it"?
Wahhh ini mah udah bagus banget cara menghabiskan waktu luangnya mba, sangat bermanfaat dan berfaedah. Udah jangan kebanyakan mikir apakah ini bagus atau nggak. Bagus ini udah mba, tenang, lanjutkan aja. Keep the good works ^^
DeleteSaya malah bingung waktu luang itu apa? Kayaknya dari waktu ke waktu hidup saya begini-begini aja dan ngga tau ada waktu luangnya apa ngga.. hihihi
ReplyDeleteNah itu lah, semua waktu terasa luang kan yak wkwkwk
DeleteDalem banget tulisannya mas. Kebetulan saya udah sampe ke fase ke-4 nih, udah punya anak pulak. Buwaaahhhh yang namanya waktu luang itu jadi barang langka sekali. Malah, hampir sulit untuk diadakan kecuali kita mengupayakan. Tapi kuncinya tetep ada di komunikasi sih.
ReplyDeleteAku adakalanya butuh metime juga. Dan metime ku ya sesederhana nongkrong sendirian di cafe aja, sambil ngurusin kerjaan. Udah, itu aja si. Abis itu ya balik lagi jadi familyman dan kuli lagi.
Punya anak itu masuk fase ke-5 malahan mas, gue belum berani nulis masuk ke ranah itu, karena emang belum tau gimana rasanya hahahah.
DeleteKirain kalo bapack-bapack waktu luangnya cukup beli kopi golda di minimarket terus duduk di depannya sambil membakar rokok, anjayy
Dari kemarin nyimak comeback-nya Ichsan ke blog. Terimakasih sudah memberi bacaan untuk bapak2 yang sekarang bisa rebahan aja rasanya udah prestasi banget (karena ya, itu.. sekarang udah bukan fase libur buat diri sendiri). Semoga sesekali bisa tetep ngeblog lagi, ya. Lumayan buat baca2 sambil menghadapi dunia yang melelahkan ini
ReplyDeleteWahhhh ada sepuh gue ini, sama-sama bang. Kalo pak guru waktu luangnya ngapaian ya? selain ngejailin muridnya apa lagi bang?
Deletememang tiap fase kehidupan, waktu luang mempunyai beda arti, tapi gw setuju banget, waktu luang itu bukan berarti kita punya waktu untuk leha-leha setelah kerja :D
ReplyDeletebetul, tapi apa bang, gas lanjutin bang wkwkw
DeleteBener semua lagi 😭😭😭
ReplyDeleteWalaupun buat fase pernikahan belum merasakan, tapi melihat pengalaman orang lain yang sudah-sudah, seakan tervalidasi semua yang dituliskan abang 😭
hahahah, fase terakhir emang yang paling sulit karena butuh partner. Padahal masih ada fase selanjutnya yg lebih sulit lagi karena harus punya anak. Bener-bener nggak ada kata selesainya yak
Deletewaktu luang ya, hmmm...
ReplyDeletesepertinya hidupku udh jauh dari yg namanya waktu luang. Karena dari mulai melek mata hingga merem lagi, ada aja yg aku kerjain. Mungkin di pikiranku skrg bukan mencari waktu luang, tapi yg ada adalah "mencari waktu untuk istirahat, entah itu tidur, atau hanya sekedar menuangkan secangkir kopi."
jadi apakah bagiku waktu luang itu = waktu utk istirahat? Entahlah... yg jelas gunakanlah waktu sebaik mungkin, itu saja sih pesanku.
Waduh, kalo istirahat mah jangan dijadikan waktu luan bro, itu wajib, tubuh harus tetap fit ditengah hidup jedar jeder ini. Yok semangat yok
Deletezaman sebelum kerja masih kuliah, waktu luang aku pasti banyakin tidur hahahah. ga ada yg lain, apalagi di negara orang... harus hemat. Tamat kuliah, ga lama dapat kerja, waktu luang, kebanyakan masih dimanfaatin dengan istirahat di kos... sesekali nge mall.
ReplyDeletetapi setelah kenal suami, dan ternyata dia gila traveling, dia yg ngajakin aku backpacker ke Eropa 3 minggu, pertamakalinya untuk ketemu orangtuanya yang tugas di Bulgaria . Dari situ aku jd tergila2 dengan traveling.
so, tiap ada jatah cuti, yg kami berdua lakuin,mau traveling kemana lagi ;D... sampai sekarang...
setuju sih.... waktu luang itu definisinya mah bebas aja. tergantung masing2 orang... Kalau kerjanya berat dan bisa dapat cuti mau dimanfaatkan untuk istirahat ya gpp.... biar body dan pikiran recharge lagi kan..
hanya saja kalau buatku dan suami, waktu luang itu ya traveling kemanapun :D . Hiburan buat kami berdua melepas stress juga
Menemukan soulmate yang akhirnya bisa menjinakan dan mengajak keluar dari zona nyaman itu salah satu rezeki besar tuh mba, keren.
DeleteKapan-kapan buat dong cerita pas masampacaran banyak tengkar apa engga. Sama cara ngatasinnya. Kali aja berguna buat pasangan di luar sana, termasuk aku 😭
ReplyDeleteWah ini mah gampang, kuncinya minta maaf aja. Lebih baik minta maaf daripada minta izin :)
DeleteTerima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni