MULAILAH TERTAWA SEBELUM KALIAN PUBER

Thursday, April 20, 2017

Karena Hal Sederhana ?


Waktu lagi sendiri dan bingung mau ngapain, kita suka mengingat-ingat beberapa hal bodoh yang seharusnya dulu tidak kita lakukan. Kita sering menyepelekan sebuah kekecewaan. Rasanya ini hal sepele, padahal kalau kita letakan kaca pembesar di sana, bisa jadi kekecewaan yang dulu itu sebuah kekecewaan yang besar.

Waktu masih kelas tiga SD, gue pernah menyesal karena mandi hujan  sendirian selepas istirahat sekolah. Gue mandi hujan sendirian karena teman-teman gue masih mau hidup lebih lama di bumi ini. Mereka takut dimarahi guru sekaligus takut dimarahi orang tuanya ketika ketahuan pulang sekolah dengan keadaan tidak seperti anak SD pada umumnya.

Baju gue basah kuyup, mata gue merah, ketek gue belum berbulu, gue pun pulang dan meninggalkan tas serta buku-buku pelajaran di sekolah. Btw jarak dari rumah gue ke sekolah cuma sekitar 40 langkah. Selesai bilas di rumah, rencananya gue mau balik ke sekolahan lagi. Tapi, dunia terlalu kejam.

Waktu gue mau balik, sekolah sudah bubaran, temen-temen gue baru pada mulai mandi hujan, sementara gue sudah rapih dengan pupur belepotan di muka dan payung kecil di tangan kanan. Gue kecewa. Kecewa yang cemen. Coba aja gue bisa nahan diri untuk nggak mandi ujan sendirian dan sabar menunggu teman-teman yang lain, pasti gue gak bakal kecewa secemen ini, semurahan ini, dan yha, selemah ini.

Kekecewaan yang sederhana bisa membuat kita mengingatnya untuk waktu yang lama. Sewaktu awal masuk SMP gue pernah menolak permintaan ibu untuk bawa bekal makanan saat acara Maulid Nabi di sekolah. Gue menolak dengan berkata:

‘aku udah SMP, bu! Ngapain bawa bekal, kayak bocah aja!’

Gue pun ngeloyor langsung pergi ke sekolah. Sampai di sana. Sampai acara ceramah selesai, semua anak di persilakan membuka bekalnya dan memakannya di kelas. Sedangkan gue ? gue nggak bawa bekal. Apa yang harus gue buka ? rekening ?

Saat itu gue kecewa, marah,  bingung, sekaligus malu. Akward banget nggak sih disaat temen-temen yang lain tuker-tukeran bekal dari rumah sementara kita cuman dzikir sambil menatap kosong ke depan dengan mata berkaca-kaca. Mau minta nggak berani. Mau nunggu dikasih, tapi, gue baru sadar tingkat kepekaan anak SMP itu sangat minim.

Kekecewaan yang sederhana ini, yang cemen ini, sampai kapan pun susah buat di lupakan. Kecewa yang sepele juga pernah terjadi dengan gue sewaktu SMA. Waktu itu gue telat datang ke sekolah, gue baru ingat pas sampai di depan gerbang sekolah kalau sekarang hari Senin, mau puter balik udah keburu masuk pekarangan sekolah, mau nggak mau motor gue parkir di luar gerbang. Gue pun masuk ke sekolah bersama rombongan anak-anak lain yang sama telatnya.

Diantara keramaian senin pagi itu, gue melihat mantan pacar yang ikutan dihukum. Gue kaget, bingung, sekaligus malu. Semua orang pasti malu kalo melakukan hal-hal yang tidak baik kemudian ke-gep sama orang yang pernah dia suka. Bedanya dalam kasus gue ini kita mantanan, jadi mungkin sudah tidak saling suka lagi, mungkin.

Hari itu semua yang terlambat diwajibkan lari keliling lapangan basket 20 kali. Gue bersama anak-anak se-jurusan pelan-pelan memisahkan diri dari barisan pasukan pelari. Begitu upacara dibubarkan gue langsung mencoba berbaur dengan anak-anak yang tidak kena hukuman.

Gue masuk ke kelas dan merasa merdeka karena nggak harus lari 20 putaran. Gue kira gue bahagia, gue kira gue senang karena berhasil kabur dan lolos dari hukuman. Keyataannya tidak. Gue melihat dari balik jendela kelas anak-anak yang sedang berlari mengitari lapangan.

Ada dia di sana. Ada mantan gue, dia lari sambil senyum-senyum bahagia. Waktu itu kita sudah kelas tiga. Sudah dekat dengan perpisahan dan ujian nasional. Gue masih menatap dia dari balik jendela kelas, mata gue masih ingat lekukan senyum di bibirnya. Geraian rambutnya, bahkan kecepatan rpm larinya.

Sebelumnya kita sudah putus cukup lama. Dia ini termasuk golongan anak baik, rajin, dan juga jahat berprestasi lah pokoknya. Gue mikir dia pasti malu banget karena udah dihukum lari. Setelah selesai lari dia malah nyamperin gue sambil bilang.

‘kapan lagi lari keliling sekolah gara-gara telat ikut upacara. Cuman orang lemah yang lari dari tanggung jawabnya.’

Kemudian dia berlalu begitu saja. Gue nggak berani tatap matanya, cuma berani curi-curi dikit aja. Mungkin kalau digambarkan, tatapan matanya itu bukan seperti orang yang kelelahan akibat baru selesai mengelilingi lapangan basket sebanyak 20 kali, atau tatapan orang yang malu karena reputasi sempurnanya di sekolah baru saja di rusak dengan kesalahan bernama terlambat dan nggak ikut upacara.

Tatapan dia itu seolah bilang:

‘dasar cemen, begini aja udah kabur’

Badan gue kayak disetrum sehabis dia natap gue dengan tatapan ‘dasar cemen, begitu aja udah kabur’ gitu. Apakah gue kecewa ? Jelas. Kecewa banget malah, level kecewa ini kedengarannya biasa. Tapi, buat gue ini nggak mudah untuk dilupakan.

Gue bukan kecewa karena udah dinasehatin sama dia, atau dicap pengecut. Gue kecewa karena nggak manfaatin moment terakhir gue bisa dihukum sebagai anak SMA. Dihukum karena terlambat sekolah dan telat ikut upacara.

Gue kecewa kenapa dia baru menyadarkan gue setalah semua kejadiannya telah berlalu. Dan gue kecewa. Seharusnya gue bisa memberikan kesan perpisahan yang baik dengan orang yang pernah gue suka. Mungkin kita bisa berlari bersebelahan dan saling menertawakan momen aneh pagi itu.

Sampai sekarang gue masih kecewa dan menyesal karena nggak bisa membaca peluang dan situasi. Gue kecewa kenapa gue dulu bodoh sekali.

…dan sampai sekarang masih begitu, sih.

Lewat tulisan ini, gue cuman pengin mebuktikan bahwa kecewa itu nggak selalu soal patah hati dan pacaran. Banyak kekecewaan sederhana yang pernah kita rasakan tapi nggak pernah kita angkat ke permukaan.  Kita biarkan mereka tenggelam di dasar dan membusuk di sana.


Sekarang begini, kalau kita pernah kecewa karena suatu hal yang kecil dan sederhana, apakah bersamaan dengan itu, kita juga pernah membuat orang lain kecewa karena hal sederhana?

8 comments:

  1. Duh. Ini tulisan bikin merenung walaupun ada unsur geblek-gebleknya seperti biasanya. Karena aku ngerasa related. Yha, aku juga punya beberapa kekecewaan karena hal sederhana. Yang bikin kepikiran. Kalau bisa kembali ke masa lalu, aku pengen bisa berbuat yang sebaliknya biar aku nggak kecewa kayak sekarang.Lebih ke ngecewain orang lain yang berdampak ke diri sendiri sih, itu yang bikin aku kepikiran. Itu mungkin bisa jadi jawaban dari pertanyaan bagus di akhir tulisanmu ini, Ichsan bijingek.

    Btw ku jadi pengen nulis soal daftar hal-hal sederhana yang bikin kecewa. Tapi nulis di buku diari aja dah duls. Hahaha. Btw lagi.... AKU JUGA PERNAH LARI-LARI KELILING LAPANGAN BASKET GEGARA TELAT NJIR. MOTOR DIPARKIR DI LUAR GITU. TAY.

    Eh satu lagi deh. Siapa mantan kamu itu, San? Sebut nama.

    ReplyDelete
  2. Duh, jadi ikut sedih, sampai tidak bisa berkata-kata.

    (ini contoh komentar satu paragraf yang tidak patut dicontoh)

    ReplyDelete
  3. Engga nyangka y si Abang pernah sekolah juga
    Mulai dari SD sampe SMA

    Itu pas main ujan2an, kulitnya luntur g?
    Itu pas g bawa bekel, kenapa g makan bangku sekolah j
    Katanya sh makan bangku sekolah itu bikin pinter

    ReplyDelete
  4. Jadi makin cinta sama Ichsan setelah baca tulisan kekecewaan ini. Ichsan kalau lagi sendu, ganteng ya.

    ReplyDelete
  5. Oh jadi iksan ngomong doang sok kuat tapi giliran dihukum bareng temen maunya kabur sendiri? :)

    ReplyDelete
  6. di balik anunya ichsan ternyata dia punya kisah yang anu.

    ReplyDelete

Terima Kasih buat kalian yang udah mau ninggalin komentar. Nggak perlu nyepam atau tebar link buat dapat feedback dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti bakal kasih feedback balik. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Back to top