MULAILAH TERTAWA SEBELUM KALIAN PUBER

Sunday, July 24, 2016

Yang Harus Dimengerti Tentang Mahasiswa DKV Sebelum Kalian Masuk Ke Prodi Ini Part 2

Hallo, apa kabar, ihh, canggung bener yak. Sorry gue sebulan ngilang, selama liburan nggak tau kenapa males ngetik-ngetik gitu. Tahun ini aja udah setengah jalan lebih gue baru buat 11 postingan, sok sibuk sekali ya. Oh iya, buat yang udah lama follow instagram gue, beberapa bulan ini gue udah hapus-hapusin foto instagram yang lama, terus upload foto-foto yang menurut gue bagus aja, kalo ada yang mau main-main atau mau saling follow bisa add instagram gue, id nya: ichsanramadhani see you on instagram.

Segitu aja deh postingan gue, babay yak #Dikeplak. Ini gue lagi mood nulis soal jurusan kuliah, jadi mau lanjutin postingan yang ini nih. Monggo di simak, terutama buat adek-adek maba yang baru mau masuk kuliah. Postingan ini super duper late, rencananya mau di posting waktu SNMPTN dn SBMPTN lagi rame, tapi yaitu tadi, gue nya males banget. Jadinya baru ke posting sekarang dah. Ayo, rusuhkan.

***
Udah mau masuk tahun ajaran baru nih. Gue jadi semangat mau memberi wejangan kepada adik-adik kelas yang baru lulus SMA dan berniat mau lanjut kuliah. Di postingan sebelumnya gue sudah membeberkan beberapa hal yang harus kalian pertimbangkan sebelum memilih jurusan DKV sebagai jenjang pendidikan selanjutnya.

Gue menulis postingan itu waktu semester gue baru satu red:maba. Dan sekarang, gue akan melanjutkan postingan sebelumnya dengan status semester gue yang udah bukan satu lagi. Sekarang gue udah semester 4 mau masuk semester 5, tentunya di rentang waktu 2 tahun ini, gue pun menemukan hal-hal baru yang harus kalian mengerti dan pahami sebelum kalian masuk dan terjerumus ke jurusan DKV.

DKV Itu Mahal.
Jadi begini, gue bukan mau menakut-nakuti atau memberi gambaran buruk, bahwa hanya orang-orang berduit yang bisa masuk di jurusan ini. Gue jelaskan rinciannya. Waktu semester awal emang nggak terlalu berasa keluar duitnya. Tapi, begitu masuk semester 2 sampai 4 nanti kalian akan sadar betapa kampretnya beberapa mata kuliah anak DKV.

Waktu semester 2 dulu, gue ada mata kuliah rekayasa digital. Kalian bisa cari tau materi soal mata kuliah ini di gugel. Disini gue hanya akan menjelaskan system mata kuliah ini. Jadi kita dikasih tugas, untuk merekayasa bentuk, ataupun wujud suatu objek, bisa benda, hewan, manusia, pokoknya macam-macam. Setelah selesai, kita harus mencetaknya di kertas art paper (AP).

Biasanya untuk satu project ini, kita dikasih waktu seminggu. Dengan aturan, paling nggak 1 project itu memakan berlembar-lembar kertas karena didalamnya harus ada, source, referensi, tutorial, cover depan belakang, dan tentunya artwork jadi. Jika di total-total. Untuk satu bendel buku itu kita harus ngeluarin uang 20-30 ribu. Sementara satu semester ada 16 pertemuan. Berarti dalam satu semester kita harus ngeluarin uang sekitar  Rp.400.000 lebih EMPAT RATUS RIBU untuk satu mata kuliah.

Itu baru satu mata kuliah, di semester berikutnya gue juga dapet mata kuliah Komputer grafis. Cara kerjanya hampir sama dengan matkul Rekayasa digital. Iya, sama-sama ngabisin duit.

Gue pernah cerita juga di postingan ini. Di mata kuliah Bahasa visual gue harus ngeluarin hampir Rp 350.000 lebih untuk Menuhin tugas akhirnya. Itu baru tugas akhir, tugas hariannya belum dihitung.

Jadi, jika dibandingkan dengan jurusan lain yang tugasnya paling mentok adalah membuat makalah dan jurnal dengan kertas hvs. Anak DKV harus rela puasa demi bisa menyelesaikan beberapa mata kuliah yang maha kampret tadi.

DKV Nggak Ada Ujian Tulisnya
Di kampus gue. Setelah melewati beberapa mata kuliah wajib seperti bahasa Indonesia keilmuan, bahasa inggris profesi seni, pendidikan pancasila, atau pendidikan agama. Setelah itu nggak ada lagi yang namanya ujian tertulis, bawa pulpen, tulis nama di kertas, kerjakan soal, kumpulkan, kemudian pulang. Mimpi aja kalian kalo mau kaya begitu dan masuk di DKV.

Semua ujian di DKV itu ujungnya adalah berupa bentuk, berupa karya, pokoknya harus ada wujudnya, nggak cuman omong kosong dan mengarang bebas di selembar kertas aja.

Temen kost gue yang beda jurusan sempat heran, kenapa gue nggak pernah baca buku atau pengang buku, padahal lagi pekan ujian. Pas gue jelasin hal diatas ke dia. Dia malah bilang,

“wahh, enak dong, nggak perlu belajar, atau buat contekan untuk ujian. Beruntung itu jurusanmu”

Enak, biji mata mu. Justru karena nggak bisa nyontek ini yang bikin stress. Kalau system ujian dibuat tertulis, metodenya kan jelas, jawaban di tulis di kertas, dan jawaban sekelas pasti bisa sama dan ada kemungkinan untuk nyontek. Nah kalau gue nggak, semua UAS nya berbentuk karya. NYONTEKNYA GIMANA.

Masa iya pas ada tugas akhir bikin poster, punya gue sama punya temen kembar, langsung di coret nama gue. Jangankan kembar sekilas, kalo konsep dan pemilihan temanya aja sekira njiplak bisa di coret, muwodar gue.

DKV Itu Mandiri
Buat kalian yang masa SMA nya udah terbiasa manja dan selalu bergantung dengan orang lain, seperti nyontek tugas, kerja kelompok tapi titip nama doang, atau cuman bayar ke temen pakai Uang (Di Samarinda hal begini biasa) mending jangan nekat masuk  DKV.

Kenapa ? karena di DKV semua harus dilakukan sendiri. Cuman semangat dan motivasi aja yang bisa bikin kalian bertahan. Mau nyontek nggak bisa, mau bayar teman yang sejurusan nggak mungkin, temen lu aja pusing sama tugasnya sendiri. Mau bayar temen yang beda jurusan apalagi. Tugas dari dosen cuman dimengerti sama anak di kelas doang. Dan salah satu anak di kelas adalah kamu. Jadi, mau nggak mau kamu harus ngerjain tugas mu sendiri.

Temen-temen di kelas gue adalah cermin buat gue sendiri. Beberapa dari mereka sudah mulai tumbang dan “bodo amat dah, pusing kepala gue” dengan tugas dari dosen. Karena semuanya kita lakukan sendiri, maka strategy untuk mengerjakan tugas dan mengarungi kejamnya kuliah DKV pun dilakukan sendiri.

Ada yang strategynya mengorbankan satu mata kuliah demi mata kuliah lain, ada yang mengorbankan sampai 2 mata kuliah ber sks kecil demi 1 mata kuliah ber sks gede karena nggak sempat ngerjain tugas atau karena harus sibuk berorganisasi.

Yahh, begitulah, teman-teman gue tumbang dangan alsan yang beragam. Gue sendiri sampai sekarang masih mencoba menjaga semangat yang membara banget enggak, meredup juga enggak. Di tengah-tengah aja.

Prinsip gue biar nggak ikutan tumbang adalah

“jangan terlena”

Kenapa ? soalnya DKV ini santai banget, sangking santainya itu, kita jadi ngeremehin tugas. Biasanya dari meremehkan atau menyepelekan ini yang bikin kita terlena dan akhirnya tumbang.

“ahh, santai lah, masih minggu depan tugasnya”

“ah, suante lahh, dosennya nyuante kok ini”

“ah, ngopi dulu loh. Ingat !!! jangan sampai tugas mu menggangu ngopi mu”

Yang terakhir itu fillosofinya taik banget sih.

DKV Itu Kejam
Kenapa gue bisa bilang kalo DKV kejam, karena gue merasakan sendiri, gimana di dalamnya dan apa yang terjadi dengan manusia-manusia yang ada disana. Kalau di kampus kalian ada jurusan DKV (yang anak Kalimantan diem aja, disana nggak ada DKV, kasihan deh, pulau sgede-gede gaban, tapi jusrusan DKV aja nggak punya, cihhh) coba kalian perhatikan penampilan anak DKV.

Cupu, rambutnya gondrong, kantung matanya besar, rokoknya nggak pernah lepas dari tangan, celana sobek-sobek, sepatu dekil dan selalu memancarkan aura kelelahan di raut wajahnya.

Ia, itu adalah buah dari kekejaman yang kami terima. Nggak pernah tidur, waktunya kebanyakan dipake buat ngelamun, begong buat mikirin tugas baru. Mikirin konsepnya, mikirin bentuknya, warnanya, covernya, ahhh pokoknya banyak, gue sampai ikutan pusing ini.

Ke kejaman lain yang diterima anak DKV adalah status kami. Iya, status kami sebagai anak ‘desain’ sekarang mulai pelan-pelan kami sembunyikan.

Banyak teman-teman se perkuliahan yang beda jurusan, “meminta tolong” kepada kami untuk sekdar dibuatkan poster lah, undangan event acara organisasi mereka lah, atau apapun yang berhubungan dengan sesuatu yang membutuhkan jasa desain.

Biasanya, teman seperti ini nggak dekat-dekat banget, tapi tiba-tiba muncul dan sok menyapa.

“hai mas,aku yg anak Biologi itu lohhh. Aku boleh di desiankan poster nggak”

“bang,aku yang dari teknik mesin, ingat kan. Boleh minta dibikinkan desain kaos nggak, buat anak-anak organisasi nih”

“bro, gue yang dari fisip nih, yang suka pake iket kepla itu loh, eh bikinin spanduk dong buat acara demo. Kita mau demo KPAI nih.”

Pokoknya banyak modus yang di gunakan fakir DESAIN GRATISSS ini untuk minta dibuatkan desain.

Gue dan teman-teman sudah kenyang dengan yang beginian. Buat gue ini adalah relita kejamnya menjadi anak DKV dan sebegitu murahnya, bahkan gratisnya kami di mata masyarakat. Mereka mengangap bahwa membuat poster atau spanduk itu nggak butuh tenaga dan kerja keras.

Setelah pesanan mereka di kerjakan, tapi balasan yang didapat cuman ucapan pengisi hening doang,

“makasih bro”

“suwon loh rek”

“thxxxxxx berat bray,” sengaja ‘x’ nya ditulis banyak, biar kesan makasihnya itu berasaaaaa banget.

Hal kayak gini pernah gue jadiin bahan pergunjingan sama anak-anak kelas. Semuanya pernah mereasakan pedihnya sebuah jasa dibayar hanya dengan sebuah ucapan “makasih ya” yang nggak bisa di pake buat beli pecel di warung.

Berikut pergunjingan kami.

 
SIMPLE DAN TERIMA KASIH ^^

ITU ADA YG UDAH DIBUATIN GERATIS TAPI MASIH PROTES. MINTA DITENDANG BANGET


Tapi, nggak semua client kok begitu, ada juga yang bener-bener menghargai dan mengapresiasi karya dan jasa kita. Ya, tapi orang kayak begini itu kaya bulan puasa, munculnya cuman sekali dalam setahun. Langka abis. Iya, sudah langka…..dan sudah habis. : ))

Jadi gimana ? kalian masih mau masuk DKV.

17 comments:

  1. Anak teknik listrik menantu idaman wkwk tae bener lah.

    Jadi kapan lo bikinin gue header baru, san? Gratis ya. :)

    ReplyDelete
  2. Hmmmm anak DKV jadi gitu. Mandiri tapi saking sibuknya jadi gak pernah mandi. Hmmmm.
    DAN ITU KENAPA GRUP LINE-NYA BAHASA SANSKEERTA GITU YAA?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. anak pertanian juga jarang mandi di, kaya lu gitu lahh.

      sengaja, biar susah dilacak hahah

      Delete
  3. tersiksa banget ya mas ??? itu yg minta dibuatin poster , emang kenal apasok kenal orangnya ?! , pasang tarif mas ... 1 poster 150 rb ..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu temen lah pokoknya, temen2 gitu aja.

      kalo segitu ntar gue dimusuhin, dikucilkan dari pergaulan

      Delete
  4. hhhmm temen aku anak dkv tidurnya seminggu sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah dkv.....
      jangan musuhin dia ya, kesian

      Delete
  5. Meskipun gue bukan anak DKV. Tapi, gue ngerasakan kejamnya yang lo rasakan san. Yoi, gue pikir belajar dan ngerti desain grafis itu bisa bikin keren, rupanya bikin nyesek. Udah kadang buatnya cape banget. pake mikir. Dianya cuman bilang "Makasih lho, udah mau bantuin."

    Sabar ya San. Semangat terus sampe lulus.. Karya lo gue akui keren2. Syahlud gue.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahhh, begitulah nasibnya, apalagi kalo yang bener2 ngerasain, tugasnya seabrek, muntah, muntah deh. tapi di nikmatin aja, ya namanya juga belajar.

      thx broh :)

      Delete
  6. Mantap bang :D gue kuliah di jurusan penerjemahan belajar desain grafis juga loh.. dan emang bener, cuma mata kuliah satu itu yang bisa bikin tidur gue ngga nyenyak. Untung cuma satu yang begitu haha...

    Semangat terus sampe lulus ye, bang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. baru satu mata kuliah tuh, lah gue, disiplin ilmunya emang belajar gituan, belajar sampe ke akar-akarnya, menggemaskan banget.

      aminn, thx yakkk

      Delete
  7. emm jadi giniii...desain in gue poster dong :p

    ReplyDelete
  8. Replies
    1. oh, pantesan, keliatan kok dari foto profil yang wpap itu :)

      Delete

Terima Kasih buat kalian yang udah mau ninggalin komentar. Nggak perlu nyepam atau tebar link buat dapat feedback dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti bakal kasih feedback balik. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^

Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni

Back to top