![]() |
| Jangan merokok kalau tidak mau menjadi Black Panther seperti bokap gue guys😅 |
Aneh memang, karena gue terpapar oleh orang yang mayoritas perokok harusnya kan gue ikutan merokok. Tapi gue memilih tidak. Bukan karena pengen terlihat keren dan berbeda, tapi ya memang karena gue nggak nyaman sama aktivitasnya. Mulai dari sebelum, saat, hingga setelah merokoknya. Menurut gue tidak ada yang menyenangkan dari kegiatan ini.
Sebelum merokok. Harus beli rokoknya dulu, mahal pula. Nggak masuk akal aja, untuk ukuran barang yang nir faedah tapi gue harus keluar uang dan tenaga buat memilikinya.
Saat merokok. Apa? Apa yang bisa dinikmati dari aktivitas menarik asap, membawanya ke dalam paru-paru dan kemudian menghembuskannya kembali. Gue nggak nemu serunya di mana. Asyiknya di mana. Kerennya di mana.
Beberapa teman memberi jawaban bahwa merokok bukan tentang kegiatannya, tapi tentang proses. Aktivitas merokok itu proses menemukan jati diri. Ya melamunnya, ya pelan-pelan merasakan asap masuk ke dalam paru-paru. Ya melihat ujung tembakau yang bercampur nikotin terbakar bersama membentuk kepulan asap. Ya, ini tentang bagaimana seorang laki-laki berbicara dengan bahasa asapnya.
Yang ada dikepala gue pas dikasih statement ini cuman:
Halah kentut.
…
Ayah dan kakak pertama gue adalah perokok aktif. Belakangan gue juga baru dapat kabar kalau adik laki-laki yang paling bungsu juga sudah sah menjadi perokok. Nggak terasa dia sudah hampir 21 tahun, dan pilihan dia untuk merokok itu adalah keputusan orang dewasa. Harus dihargai dan diterima. Itu hidupnya, biarkan dia menjadi laki-laki dewasa versinya.
Gue tidak pernah sedikitpun melarang keluarga yang pernah satu KK bareng gue ini untuk berhenti merokok, karena gue juga akan marah kalo hal yang menurut gue mengasyikkan kemudian diminta berhenti tiba-tiba.
Jadi, ada waktunya gue menerima kondisi bahwa, oke, di rumah ini ada dua perokok aktif dan gue cuman bisa berdamai sama itu. Gue santai karena gue tau akan ada waktunya untuk gue pergi dan bisa mengatur sendiri gue mau tinggal di lingkungan seperti apa.
Tidak perlu waktu lama. Setelah lulus SMA gue punya kesempatan untuk kuliah ke luar pulau dan meninggalkan sementara rumah yang memiliki dua perokok aktif itu. Nggak terasa juga gue udah 12 tahun tidak serumah lagi.
Apa pelajaran dari cerita soal rokok ini? Ya nggak ada. Kalian adalah manusia dewasa yang bisa memutuskan sendiri mau jadi apa dan mau hidup seperti apa, di lingkungan yang bagaimana. Kalau nggak suka sama perokok, menurut gue tidak perlu setengah mati berusaha mengingatkan mereka untuk berhenti.
Ngapain? Buang-buang energi. Mending kita yang memilih untuk tidak bersama. Karena keputusan ini yang lebih bisa kita kontrol.
Gue sama sekali tidak membenci saudara atau ayah sendiri. Gue justru peduli. Peduli dengan diri sendiri lebih tempatnya. Karena kalau kita terus serumah rasanya akan sering sekali terjadi gesekan dan bikin hubungan kekeluargaan jadi menyebalkan. Gue memilih untuk memisahkan diri justru untuk menghindari hal seperti ini terjadi.
Sebenarnya ada hal tidak menyenangkannya juga hidup sebagai non perokok di tengah keluarga yang mayoritas perokok ini. Gue jadi tidak bisa dan tidak betah nongkrong bareng mereka.
Karena di setiap waktu luang saat bisa bertatap muka, selalu ada rokok yang batangnya masih menyala, selalu terapit di antara jari tengah dan telunjuk itu. Membuat gue kurang nyaman untuk berada berdekatan di lingkup edaran asap yang tidak ramah itu.
Jadi, buat yang masih merokok, it's okay. Tidak ada ajakan yang lebih baik untuk berhenti selain lewat teguran. Tegurannya bisa berupa apa saja? Bisa macam-macam. Mungkin sakit, mungkin juga kondisi ajaib yang bikin sadar, kalau selama ini kegiatan merokok hanya banyak menimbulkan keburukan.
Sisanya? Ya diterima aja. Kalau kalian belum punya power untuk memilih pindah, maka bersabarlah sedikit sampai punya kekuatan itu. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain memilih untuk tidak ikut-ikutan atas dasar kekeluargaan.
Make your plan, then make your move. Wacaw.

.png)
10 KOMENTAR
Saya nggak masalah sama orang yang memilih untuk merokok. Sumpah saya tidak masalah. Tapi saya cukup kesal ketika di tempat kerja ada teman merokok puntung nya dimasukkan kedalam gelas yang biasa saya gunakan untuk minum air galon. Walau gelas keramik nya masih masih bisa di cuci, tapi saya merasa kebiasaan tersebut merugikan orang lain. Nggak pantas ditiru perokok model kayak gini. Ngeselin...
ReplyDeleteWahhh ini bukan nyebelin lagi namanya pak, nggak usah ditemenin mah orang kaya gini, bau abu rokok yang masuk ke gelas kan rada susah ilang yak. Run mas, run for your life.
Deleteaku mantan perokok mas... jadi aku berani bilang, perokok itu ga usah dilarang... makin dilarang, dia akan sembunyi2 melakukan... kalau kalian mau bikin perokok utk stop, itu WAJIB datang dari keinginan dia sendiri, bukan paksaan ... percaya deh...
ReplyDeleteduluuuu, pas kenal suami awal2, dia juga minta aku berhenti rokok. krn dia ga merokok samasekali. Ya di depan dia aku bilang oke, tapi di belakang dia aku tetep ngerokok. ya susahlah berhenti begini.
trus kenapa aku bisa stop total??
krn aku nemu foto cewe perokok yg umurnya masih muda, tapi mukanya udah tua banget ;p . Nah aku ini, walau merokok, tapi dari zaman sekolah dibiasain mama untuk konsisten merawat kulit, dengan pakai skincare teratur. so, dipikir2, apa gunanya doooong, aku ngerawat kulit wajah, pake skincare mahal, tpi tetep ngerokok... itu kulit kan sama aja jd cepet menua..
dari situ, aku pertamakali ngerasa ngeriiii, takut kulitku keriput kayak foto cewe yg aku liat :D
baru akhirnya bisa berhenti.. tiap kali keinginan merokok datang, cukup pandang foto tuh cewe, dan keinginan merokok langsung hilang, sampai skr :D
so, intinya, kalau mau bikin perokok stop, harus ada 1 hal yg buat mereka takut atau menyesal... tanpa itu, susaaaah ;p. mending menjauh memang
Kok aku ngakakkkk ya baca ceritamu mbak Fannnn. Kamu dan suamimu malah kebalik.
DeleteIni kalo diangkat ke film, judulnya jadi "Jonathan, Suami Dari Masa Depan". ihihihihi
Waduh, mba fan ternyata alumni pecandu nikotin yak. Syukurlah sekarang sudah insyaf ya.
DeleteSetuju sih emang perokok itu sulit untuk dilarang. Cara terbaik memang harus datang dari kesadaran diri sendiri.
Btw itu foto cewe muda yang mukanya keliatan tua emang murni karena merokok atau emang model mukanya begitu mba? Hahahah
Hahahahaha soalnya aku dpt foto ya dari artikel, yg intinya 'efek dari nikotin dan narkoba'. Dibikinlah pake foto2 cewe dan cowo before after 🤣🤣🤣🤣. Terlepas dari beneran atau ga, tp serius bikin aku ngeri 🤣🤣
DeleteTOS mas. Samaan, aku pun sedari dulu gak pernah yang namanya ngerokok. Di keluargaku pun gak ada yang ngerokok. Cuma adik bungsuku aja, yang memang itu pun saya hormati keputusannya. Karena memang sudah dewasa.
ReplyDeleteSaya ga pernah membenci perokok. Tapi cuma ada 1 hal yang saya gak suka dari perokok. Mereka itu banyak yang egois. Maunya menang sendiri, gak peduli orang-orang di sekitarnya.
Contoh pas kumpul keluarga sebelum ramadhan, itu kan ngundang ustadz ya buat ngaji yaa. Nah, si ustadznya ini santai aja ngerokok.. padahal jelas-jelas didepannya ada anak-anak, termasuk anakku. Akhirnya aku inisiatif aja teriak, "YANG NGEROKOK TOLONG KESADARANNYA YAA...". KZL, agamis tapi kelakuannya macem gak beragama.
Waduhhh ini malah ustad nya yak yang ngerokok. Dilematis juga nih. Tapi lebih dilematis lagi kalau dokter yang ngerokok sih.
DeleteKalau pengalaman bokap emang saat mulut udah asem itu sulit banget untuk ditahan mas, jadi ya udah nggak mandang tempat lagi, dimanapun gas aja udah, yg penting mulut kena sentuh nikotin dulu.
Bener deh, jadi gak bisa deket sama orang perokok, karena setiap ngobrol, mereka selalu ngerokok, sementara saya gampang batuk kalau hirup asap rokok. Ukhuk!
ReplyDeleteUkhuknya boleh yang normal aja nggak nih wkwkwkkw
DeleteTerima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni