Kalau diibaratkan peyek, kondisi Jakarta 3 bulan terakhir ini pasti udah benyek. Hampir tiap hari hujan datang tanpa kenal waktu. Kadang subuh, kadang siang, nggak jarang di malam hari juga hujan.
Hujan bikin semua aktivitas terhambat, termasuk aktivitas berangkat dan pulang kerja gue. Udahlah jarak rumah ke kantor amit-amit jauhnya, ditambah harus berjibaku lagi melawan hujan. Sempurna sekali penderitaan sebagai warga pinggiran dan kelas menengah ini.
Yang menyebalkan dari hujan itu bukan cuman waktu terjadinya aja, tapi kondisi sebelum dan sesudahnya. Kalau awan sudah mulai terlihat mendung dan sedikit-sedikit muncul petir disertai angin kencang, entah kenapa perasaan tuh jadi was-was. Kayak nggak nyaman aja.
Orang yang sedang berkendara di jalan jadi lebih ugal-ugalan karena mengejar sampai tujuan sebelum hujan. Orang yang dagang perlu mendirikan tenda ekstra atau payung tambahan biar dagangan nggak kebasahan.
Persiapan menyambut hujan jarang jadi kegiatan yang menyenangkan, lebih sering jadi sesuatu yang menegangkan dan merepotkan.
…
Buat gue sendiri hujan itu nggak gimana-gimana banget sebenarnya, ya kayak fenomena alam standar aja. Ada air turun dari langit, kalo nggak mau kebasahan ya berteduh kalo mau basah-basahan ya tinggal di terobos aja.
Hal ini yang gue yakini dan percaya selama ini, sampai suatu ketika hujan membuat hari-hari yang biasa gue lalui sudah sering sial, eh hari itu jadi lebih sial lagi.
Begini ceritanya:
Kondisi cuaca hari itu sudah hujan deras dari subuh. Semangat untuk menarik selimut lebih tinggi daripada menarik perhatian dia.
Gue bangun dari kasur kaya orang yang batre semangat nya cenderung low dari biasanya.
Dari rumah kondisi sudah hujan. Jadi gue sudah mempersiapkan diri untuk berangkat kerja menggunakan jas hujan.
Sebelum pergi gue coba mau pakai sepatu yang biasa gue pakai untuk kerja. Tapi pagi itu istri menawarkan jangan pakai sepatu yang biasanya. Coba lah dipakai sepatu yang lain. Punya sepatu banyak tapi yang dipakai itu-itu aja.
Istri ceramah ditambah diluar hujan, menambah suasana kelabu pagi itu.
Tidak mau banyak beradu argumen, gue pakai aja sepatu yang kemarin sengaja dikeluarkan dari kontak untuk dipakai saat weekend.
Sebuah sepatu Reebok berwarna putih polos yang dibeli sekitar 3 tahun lalu sebagai bentuk hadiah ulang tahun dari istri.
Gue heran pagi itu kenapa gue nurut aja untuk pakai sepatu warna putih di kondisi hujan. Walaupun memang dari rumah jadinya gue nggak pakai sepatu. Nanti aja waktu sampai parkiran baru pake sepatunya.
Sampai parkiran, seperti strategi awal, gue pun mengganti sendal jepit ini dengan sepatu yang sudah disiapkan. Kalau kalian berfikir kenapa tidak ganti sepatu nya waktu sampai kantor aja. Gue bisa tebak kalian pasti bukan anker (anak kereta) sejati.
Sebagai anker sejati, pakai sepatu waktu naik KRL itu wajib, apalagi kalau waktu naiknya pagi. Kondisi KRL waktu pagi itu lebih mengerikan dari kondisi mall yang sale 90%.
Berdesakan dan berjubelnya luar biasa intens. Tidak pakai sepatu sama dengan rela menyerahkan kaki keinjak oleh penumpang lain.
Sampai di stasiun Tebet, gue langsung takjub. Dari gate untuk tap out, manusia sudah mengular untuk antre pindah moda transportasi, ada yang antre angkot jak lingko, ojek online, atau Transjakarta.
Karena kondisi hujan, orang-orang memilih untuk antre ke angkot atau Transjakarta. Gue sendiri sudah dua bulan ini tidak pernah naik Transjakarta lagi, karena setelah gue hitung waktu yang dibutuhkan untuk sampai kantor jauh lebih lama dibanding naik angkot. Maka angkot adalah pilihan utama gue.
Sialannya, angkot di saat hujan itu susahnya bukan main. Biasanya angkot banyak yang ngetem tepat di dekat halte stasiun. Tapi kalau kondisi sedang hujan, peminat angkot itu tiba-tiba aja membludak. Untuk bisa memakai jasanya kita harus jalan mencegat angkot ini di jalan sebelum mereka masuk ke bagian stasiun.
War untuk naik angkot sudah dimulai dari sini. Berbekal payung pemberian kawan, gue jalan bersama rombongan orang yang tidak dikenal tapi punya tujuan yang sama untuk jalan ke depan.
Dari jauh angkot dengan kode 44 mendekat ke arah kami. Semua bersiap dengan strategi masing-masing. Bagaimana cara yang paling efisien untuk bisa merangsek masuk ke sana.
Gue sendiri nggak punya strategi khusus, intinya ada angkot datang, gue akan lari dan naik. Sederhana dan terdengar gampang.
Baru aja mau siap-siap lari, orang-orang sudah duluan bermanuver bahkan ada yang melompat sambil lari ke dalam angkot. Seorang mba-mba sampai jatuh terseret karena gagal masuk. Serem banget, bukannya lebih cepat sampai kantor malah diantar ke rumah sakit ini mah.
Kegiatan war masuk angkot ini menunjukkan betapa butuhnya warga Jakarta sama duit ya. Sampe segitunya soalnya untuk masuk kerja. Ya gue juga bagian dari ini sih.
Angkot kedua datang. Nggak mau ketinggalan gue langsung cegat angkot dari samping dan berhasil masuk.
Pelan-pelan penumpang lain mulai masuk juga. Gue mulai menghitung. Biasanya penumpang angkot itu terdiri maksimal 14 orang dengan kombinasi begini:
2 orang di depan
2 orang di kursi kecil dekat pintu.
4 orang di kursi panjang searah pintu
6 orang di kursi panjang searah supir.
Tapi pagi itu matematika dasar manusia sudah dibutakan oleh hasrat ingin sampai kantor yang menggelegar.
Saat total penumpang sudah 14, masih ada 6 orang yang berusaha masuk. Gue yang duduk di kursi yang seharusnya diisi oleh 4 orang jadi berbagi ke dua orang lain.
Kursi yang seharusnya diisi 6 penumpang harus rela berbagi menjadi 8 orang.
Kursi kecil di dekat pintu yang biasanya cuman di duduki oleh 2 orang pagi itu diisi 3 orang.
![]() |
| Angkot for lyfe. |
Nah yang paling epic ada satu orang yang maksa untuk naik, udah nggak kebagian tempat duduk, akhirnya dia duduk di bagian belakang di dekat kaca belakang angkot.
Duduk di tengah udah nggak memungkinkan, karena dengkul penumpang lain juga udah saling beradu, jadi dia cuman naro pantatnya di tonjolan belakang pas di depan kaca belakang mobil. Sunggu mba-mba yang sangat nice try.
Angkot yang berangkat dari stasiun Tebet itu normalnya ada dua tujuan. Yang pertama sampai Ciputra, yang kedua sampai Karet. Gue biasanya naik yang tujuannya ke Karet. Tapi karena hujan ini, gue akhirnya naik yang terdekat aja. Karena dari Ciputra sebenarnya cukup jalan 1 km sudah sampai kantor. Jadi nggak begitu masalah.
Sampai di puteran balik Ciputra gue menjadi penumpang terakhir yang turun. Semua berjalan normal sampai kurang lebih gue berjalan 200 meter meninggalkan angkot. Kok gue ngerasa sepatu ringan banget. Biasanya nggak begini ah feel memakai sepatu ini.
![]() |
| Kok sepatunya KUAT. |
Pas gue perhatikan lagi, solnya udah lepas setengah aja. Bisa dibayangkan gue jalan sekitar 800 meter dengan kondisi kaki kiri nyeret kek orang abis nginjek tai kucing di jalan.
Sampai kantor semua masih aman, sol gue belum sepenuhnya lepas. Nah setelah gue tap in masuk area kantor, menuju lorong lift gue yang berusaha mengejar pintu lift sebelum ditutup lupa kalo sol sepatu kiri kondisinya sedang tidak prima.
Jadi gue sedikit berlari dan berhasil masuk lift tepat waktu. Sayangnya sol sepatu kiri gue tidak. Dia nyangkut di antara sela lift dan lobby.
Mau pura-pura nggak liat juga nggak mungkin, warnanya putih gitu. Jadi tanpa perintah siapapun gue langsung segera keluar dan menahan lift sambil meraih sol sepatu yang tergeletak lemas itu.
Segera gue masukkan sol itu ke dalam tas. Suasana lift senyap. Gue malu setengah mampus.
Itu adalah perjalanan lift paling lama menurut gue. Lift tidak penuh, tidak juga berhenti di banyak lantai. Tapi entah kenapa terasa lama sekali.
Bersyukur gue jadi orang terakhir yang keluar lift. Jadi mereka nggak bisa membahas insiden sol sepatu yang copot tadi. Paling bahasnya pas udah sampai kubikel masing-masing.
Sampai lantai tujuan gue coba berjalan santai. Kondisi kantor juga masih sepi. Baru 10 langkah meninggalkan lift, sol yang kanan copot. Bangkai memang.
Pagi itu di tutup dengan perasaan tidak nyaman dan sedikit memalukan. Khusus hari itu gue pun sah masuk ke golongan orang-orang yang sangat membenci hujan.
![]() |
| Udah nggak bisa ditolong ini mah sepatu gue. Copot dengan Sempurna. |
30DWC



.png)
2 KOMENTAR
Ahahahaha, saya juga pernah kena case begini mas. Lagi nyaman-nyamannya jalan kaki, eeeeh... tau-tau pada copot euy sol sepatunya.
ReplyDeleteWis, alhasil jalannya diseret-seret.
Tapi berhubung saya males repot, langsung saja tak buang. Lalu beli sendal ceplek di Indomaret, wkkwwk
mas, itu reebok ga pernah dipake yaa??? selama ini dalam box? hahahahahahah aku ngakak nih bagian lepas nyaaaaa ;p... tapi memang sepatu , mau sebagus apapun brand nya, kalau ga pernah dipake, dia bakal rapuh sol karetnya.... makanya aku rutin angin2in sepatu2 ku.. supaya ga rapuh
ReplyDeleteTerima Kasih buat yang sudah mampir dan meninggalkan jejak. Nggak perlu spam atau tebar link buat dapat kunjungan balik dari gue. Cukup rajin kasih komentar gue pasti akan berkunjung balik ke blog kalian. Kalian senang gue juga Senang, double deh senangnya ^^
Yang Ngetik -@Ichsanrmdhni